Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
37 MABA


__ADS_3

"Baru pulang sayang ?". Arin muncul dari dapur, Anya yang baru pulang ngampus mengangguk.


"Oh iya, kamu mau ikut ke Jakarta gak ?".


"Ke Jakarta mah ? Mau ngapain ?". Tadinya Anya merasa capek karena kegiatan kampus tapi mendengar Jakarta membuat tubuhnya segar kembali.


Arin duduk di kursi, "Ada urusan mama ke sana sekalian mau ngajak kamu tapi takut kamunya gak mau".


"Mau kok, kapan ?".


"Lusa, terus kamu kuliahnya gimana ?".


"Anya bisa izin kok ma".


Seperti ada keajaiban bagi Anya untuk bisa bertemu Devan, mungkin dengan begini ia bisa melepaskan rindu yang telah lama bersarang dalam hatinya.


"Ya udah kamu siapin aja baju sama kopernya, mama mau lanjut masak dulu ?".


Anya mengangkat tangan dalam bentuk hormat, lalu berjalan naik ke atas menuju kamarnya.


"Gue bawa kado apa ya buat Devan". dialognya


Kado


Rasanya seperti Devan sedang berulang tahun. Tidak terasa sudah hampir 8 bulan mereka berpisah dan keduanya belum memiliki benda untuk menjadi kenang-kenangan.


Besok saja lah Anya akan mencari hadiah spesial


Kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak ada kegiatan apapun setelah ini bahkan di kampusnya pun sedang libur kegiatan BEM.


Setelah di rasa telah beres Anya merebahkan dirinya di kasur lalu lengannya membuka ponsel yang akan ia gunakan. Wallpaper lookscreen ponselnya menunjukkan foto Devan yang tak sengaja ia potret.


Hanya kenangan ini yang ia punya, Anya tersenyum foto ini ia ambil saat Devan sedang mengantar dirinya mencari udara sagar saat masih di rumah sakit dulu.


Tok Tok


Pintu kamar di ketuk oleh seseorang membuat Anya berdiri dari tempatnya dan mencari tahu siapa yang datang.


"Anyaa".


"Kalian ngapain ke sini ?".


Ternyata yang datang adalah Afra Dan Fani, "Mau main lah Nya, Ya kali mau ngepet. Tadi kata mama lo ke atas aja soalnya lo ada di sini !".

__ADS_1


Ketiganya terkekeh, "Masuk aja, gue juga lagi gabut kok".


"Gila rapih banget kamar lo Nya, jauh banget sama kamarnya Afra".


"Heh, lebih berantakan lagi hidup lo tau Fan ?". Afra tergelak.


"Tunggu ya, gue mau bawa dulu minum sama cemilan".


Keduanya mengangguk. Anya turun ke bawah untuk menyuguhi tamu alias teman dirinya yang entah kenapa malah main kerumahnya.


"Menurut lo Anya udah punya pacar belom ?". Tanya Fani sambil memandang Afra.


"Ya kali cewek secantik Anya belom punya pacar, kalo lo yang belom punya pacar gue percaya".


Bantal yang berada di atas kasur di melayang ke arah Afra, "Gila Lo sakit tau !".


"Makanya kalo ngomong di filter bego".


"Bukannya si Rey suka sama si Anya ?".


Fani mengedikan bahunya pertanda ia tidak tahu, "Lo itu kalo mulai ngomong jangan setengah-setengah Fan kayak orang gagu tau gak !".


"Lah gue gak tau Ra, masa gue harus jadi detektif gitu biar bisa tau hubungan orang lain".


"Lo kan emang kepo". Di pukulnya lagi wajah Arfa menggunakan bantal.


"Kata Fani lo udah punya pacar belom Nya ?".


"Apaan sih lo Ra, minta di amuk massal kali ya ?".


Sejenak Anya terdiam, apakah perlu dirinya mengumbar tentang Devan pada Afra dan Fani.


"Kalo lo gak bisa cerita gak papa kok Nya, santai aja sama kita mah ?". Ucap Fani sambil menepuk bahu Anya.


"Gue udah punya pacar kok, cuman dia di Jakarta". Tak apalah Anya bercerita kepada mereka toh mereka pun sahabatnya, lagipula Afra dan Fani pun selalu terbuka tentang masalah yang membuat mereka stress.


"Maksud lo LDR ?".


Anya mengangguk.


"Hari gini lo masih percaya LDR ? Gue sih enggak. Yang deket aja kayak tai ayam apa lagi yang jauh. Jakarta lagi". Pungkas Afra.


"Ih lo tuh Ra bukannya ngasih semangat malah kayak begini, Jangan dengerin ucapan si Rara Nya, dia tuh yang kayak tai ayam".

__ADS_1


Anya hanya tersenyum sendu, apa yang di ucapkan Afra memang benar adanya lagipula dia sudah trauma akibat ulah lelaki yang sudah menyelingkuhinya.


"Bukan gitu, gue takut aja sahabat gue kena getahnya gegara laki-laki begituan".


"Oh iya, kalian mau ikut gak ke Jakarta sama gue, sekalian aja ya kan kalian main ke sana ?". Lanjutnya


"Emang boleh Nya ?". Ucap keduanya.


Anya mengangguk, "Waduh gue harus persiapkan skincare sama baju yang kece, iya gak ? Secara Jakarta".


"Lo tuh kudunya bawa sunscrin yang banyak tau Ra".


Semuanya tergelak, "Secara ada yang mau ketemu sama pacarnya ya kan ? Aduh rindu Ema".


"Apaan sih ah". Anya tersenyum malu.


"Mending Anya ngajak kita main itu ke kota, lah elo ngajak gue ke kebon mulu kalo enggak sungai belakang rumah pak Sabi".


"Sekalian gue mau kenalin kalian ke pacar gue".


"Tapi bener Nya gapapa kita ikut ?".


"Gak papa, nanti gue yang izin ke mama".


"Ahh akhirnya, Jakarta come here". Ucap Afra sambil merentangkan tangannya.


...***...


Devan membantu memapah Karen ke dalam rumahnya, setelah siuman dari rumah sakit dokter menyarankan untuk segera istirahat dan tidak boleh banyak pikiran karena kemungkinan penyakit Karen bisa kambuh lagi.


"Astagfirullah sayang kamu kenapa ?". Ucap bundanya Karen yang kaget karena ia di papah oleh seseorang.


"Tadi Karen pingsan tante, tapi udah Devan bawa ke rumah sakit. Kata dokter Karen perlu istirahat".


"Oh ya udah kamu bantu Karen ke atas ya ?".


Devan mengangguk. lalu lanjut memapah Karen ke lantai atas, di rebahkanya tubuh Karen di atas kasur miliknya. Sekalian ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Setelah tidak ada yang perlu Devan lakukan lagi ia berniat untuk pulang tapi lengannya malah di cekal oleh Karen.


"Temenin aku ya Dev ?".


Manik mata Karen seolah sedang membutuhkan dirinya. Tidak mungkin juga Devan menjadi orang yang brengsek meninggalkan perempuan dalam keadaan seperti ini terlebih Karen pingsan pun karena dirinya.

__ADS_1


"Sebentar aja".


Tanpa pikir panjang kemudian Devan mengangguk.


__ADS_2