
Pertanyaan Devan membuat dahi Anya bergelombang, ia tak pernah menyangka akan mendapatkan jawaban yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali.
Pelipisnya mulai bermunculan keringat, sudah jelas Devan tidak menerima kehadiran bayi dalam perutnya.
"Jadi lo ngebuang gue kayak sampah setelah apa yang lo lakuin ke gue ?". lirihnya
"Gue gak maksa, kenapa lo mau aja waktu itu ?".
Pandangan Anya turun ke bawah, tetesan air matanya berubah menjadi membasahi lengan yang ia tautkan di antara keduanya.
Dirinya juga bodoh, jelas ini salah Anya. Bukannya ia melarang Devan tapi malah mempersilahkannya. Jika begini tidak ada yang orang yang akan ia salahkan saat mencari alasan nanti.
"Lo tau itu bukan salah gue". Tegasnya.
Devan sepertinya tidak ingin di salahkan. Sudahlah ia sangat capek, Anya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan.
Tidak ada kata pisah di antara keduanya yang ada hanya Anya menyimpan rasa sakitnya sendiri.
Pikirannya sangat kacau sekarang, bahkan ia sempat menabrak beberapa orang saat berjalan.
"Maaf". Ucap Anya karena menyenggol lengan seseorang.
"Anya".
Anya menoleh orang yang ia tabrak ternyata adalah Ryan. "Sorry". Ucapnya sambil berlalu.
Ryan menyeritkan dahi, Anya tidak seperti biasanya, dari tatapan matanya pun terlihat kosong. Apa terjadi masalah di antara Devan dan Anya ?.
Ryan hanya mengedikan bahu, ia tidak boleh berfikiran negatif karena itu akan menjerumuskan otaknya untuk menyuruh menerka-nerka sesuatu yang belum tentu terjadi.
Sampai di rumah Anya langsung membuka kresek yang ia bawa, membawanya ke dapur dan memotongnya. Di lihat dari internet ternyata buah nanas mudah ampuh untuk menggugurkan kandungan.
__ADS_1
Kenapa ia tidak coba saja ? Anya langsung berbelok ke arah penjual buah setelah otak buntunya menyuruh Anya untuk melakukannya.
Setelah di bilas dengan air bersih ia langsung memakannya dengan lahap. Tidak perduli seberapa asam lidahnya sekarang Anya terus memakannya sampai habis.
Ia kembali membersihkan alat-alat dan kulit nanas agar tidak terlihat oleh mamanya. Lalu Anya menuju ke atas untuk berganti pakaian.
Sejenak kakinya berhenti sebentar.
"Tapi kok gak ada reaksi apa-apa".
Ia bingung biasanya setelah memakan habis buah nanas langsung mengalami nyeri yang hebat. Anya kembali mencari ponsel dan mencari tahu lewat jelajah internet.
Biasanya kandungan untuk hamil muda sangat kuat.
Pikirannya mulai berkelana. Ia mencari makanan dan minuman yang dapat menggugurkan hamilnya. Setidaknya dengan begini ia tidak membunuh secara keras pada anak di dalam perut dirinya.
Aborsi. Kata itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Ia kembali membawa tas dan memakai sendal untuk pergi ke apotik. Anya menyusuri jalan sambil melangkah ke bawah di sana ada mamanya yang sedang menonton siaran TV.
"Anya ke depan sebentar ya ma, ada barang yang harus di beli".
"Ati-ati yah".
Anya mengangguk sambil tersenyum, tidak mungkin ia berbicara akan ke apotik. Bisa-bisa mamanya itu geger karena takut ia sakit lagi.
Karena jarak antara rumah dan apotik tidak jauh Anya memilih untuk berjalan kaki. Banyak pertimbangan selama ia berjalan, ada resiko yang harus ia ambil. Jika ini pilihan terbaiknya, Anya akan mencoba tapi bagaimana jika ini adalah jalan buntu baginya?.
Jalan buntu di sini adalah bagaimana jika ia salah dalam mengambil langkah, bukannya memperbaiki keadaan tapi semakin membuat suasana semakin tidak karuan.
Setelah sampai Anya langsung masuk dan menghampiri seorang anak muda di sana.
__ADS_1
"Beli obat ini satu". Ucap Anya sambil memperhatikan contoh obat di ponselnya.
Cewek yang melihat itu langsung terdiam, lalu mengangguk dan ke dalam mengambil obat yang di minta.
"Ini mba".
"Berapa".
"enam puluh ribu".
Anya memberikan uang puluhan kepada embanya. Obat itu berbentuk tablet dan tentunya cukup mahal untuk ukuran obat dengan isi sangat sedikit.
"Ini mba kembaliannya".
"Lebih baik mba pertimbangan lagi deh, kasian sama anak yang ada di kandungannya". Lanjutnya.
Saat memasukan uang ke dalam tasnya Anya terdiam mendengar penuturan orang di hadapannya. Tapi Anya menanggapi itu sebagai angin lalu. Toh yang akan menjalankan hidupnya itu adalah dirinya sendiri bukan orang lain.
"Makasih". Ucapnya sambil pergi dan keluar dari apotik tersebut.
Tidak tahu jika dari jarak kejauhan Farrel melihat Anya yang aneh karena keluar dari apotik. Bukannya Anya butuh obat rumah sakit kenapa ia malah ke apotik.
Farrel jadi khawatir, apa obat Anya sudah habis atau kekurangan kah ?.
Di dalam mobil Farrel mulai berfikir. Lebih baik ia turun dan mennayai obat apa yang di beli oleh Anya tadi. Pasalnya Anya seperti orang yang tidak ingin tahu jika orang lain mengetahuinya.
Farrel turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam apotik, "Maaf mba saya mau tanya, yang cewek tadi beli obat apa ya ?".
Mba tadi terdiam sejenak, ia melihat Farrel dari atas sampai bawah. Mba itu berfikir semua cowok sangat brengsek karena telah mengambil hal paling berharga dalam diri seorang perempuan.
Farrel yang di tatap seperti itu merasa heran, kenapa orang ini seperti membenci dirinya bukannya mereka tidak saling mengenang ?.
__ADS_1
"Maaf, tadi mba itu beli obat buat gugurin kandungan". Ucapnya sambil mengecilkan sedikit nada bicaranya.
Farrel yang mendengar itu langsung terdiam.