Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
16 MABA


__ADS_3

Irana menoleh tidak menyangka Devan akan menanyakan ini padanya, rasa senang membuncah dalam dirinya dan tidak menyadari Anya yang tersungkur ke tanah sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan.


Keadaan malam makin panas padahal hawa pada saat itu sedang di atas rata-rata. Devan menanyakan pertanyaan yang sama lagi "Lo suka sama gue ?". Irana tersenyum dan mengangguk.


Devan maju beberapa langkah mendekat ke arah Irana lalu membuang ludah tepat di sampingnya, dahi Irana bergelombang "Lo gak malu dengan apa yang lo lakuin sekarang ?". Devan berbicara tepat di depan wajahnya.


"Maksud kamu apa Dev ?". Tanya Irana dengan suara seraknya.


Memegang ujung dagu seolah sedang berfikir Devan mendekatkan wajahnya sekarang pada telinganya "Lo tuh terlalu murah buat gue?". Suara itu seperti hembusan angin yang menyapanya.


Kemarahan terpancar jelas dari mata Irana, Devan mengangguk lalu membantu Irana berdiri tapi malah di tepis oleh pemiliknya.


Irana yang muak dengan semua ini lalu menjambak rambut Anya dengan kencang, keadaan semakin ricuh beberapa orang langsung menarik Irana untuk menjauh.


Dengan baju dan rambut yang basah Anya mencoba kuat untuk ini, wajahnya sudah pucat menahan dingin yang menusuk kulitnya, keadaannya saat ini memang menyedihkan tapi singa ini memang belum tenang untuk diam.


Semua orang kaget dengan perlakuan Irana, Irana yang selalu tersenyum, lemah lembut dan bertutur sopan berubah menjadi orang tidak di kenal seperti ini.


"Ran Lo tuh jadi cewe harus punya harga diri bukan karena lo suka sama Devan Lo jadi begini". Ucap Ryan menenangkan.


Irana sudah seperti orang kesurupan ia hanya diam tanpa bersuara, di sana pertahanan Anya tumbang untung saja Devan langsung sigap menahan Anya. Sebenarnya Anya masih sadar hanya saja tubuhnya sudah lemas.


Irana akan mendekat ke arah Anya tapi di tahan oleh tangan Ryan "Mau ngapain Lo ?". Irana menoleh "Gue mau minta maaf atas kejadian barusan yan, gue ngerasa bersalah".


Ryan merasa aneh, wajah Irana tidak mengisyaratkan rasa bersalah atas kejadian yang dia perbuat barusan.


Irana mendekat ke arah Anya dan berjongkok di hadapannya, saat menunduk Irana mengutarakan rasa bersalah nya barusan "Maafin gue Nya gue terlalu khilaf, mungkin kejadian barusan Lo gak akan bisa maafin gue tapi gue bener-bener minta maaf".

__ADS_1


Anya hanya mengangguk, semua orang merasa lega karena kejadian ini sudah membaik, berbeda dengan Anya yang kaget karena saat ini Irana sedang tersenyum menyeringai ke arahnya.


Irana mengeluarkan pisau lipat dalam sakunya, kejadian begitu cepat hingga semua orang langsung berteriak kencang melihat kejadian ini, Devan yang lengah dengan ini hanya terdiam melihat darah yang keluar dari perut Anya.


Irana berdiri lalu membuang pisau itu ke sembarang arah dia pun syok apa yang dirinya lakukan terhadap orang di hadapannya.


Naya mendekat ke arah Devan sambil menangis "Kak cepet bawa Anya ke rumah sakit !". Devan mengangguk lalu membawa Anya pada mobil gawat darurat yang selalu di bawa dari kampus takut karena ada kejadian seperti ini.


Orang yang ada di sana merasa kasian dengan Anya dan Irana sudah di laporkan oleh pihak yang berwajib oleh Ryan.


Di perjalanan Devan mencoba memasangkan selang oksigen grafik menunjukkan tubuh Anya semakin melemah nafasnya pun mulai tidak konsisten, karena darah bekas tusukan merembes pada baju Anya membuat hati Devan sakit.


Naya sedari tadi hanya menangisi Anya yang terkapar lemah di atas brankar seharusnya ia tadi sigap saat Irana mengeluarkan pisau dari sakunya tapi ia lebih bodoh karena tidak menyelamatkan sahabatnya.


Ambulance sudah sampai di rumah sakit Citama Anya di bawa ke ruangan UGD, sekarang mereka berdua menunggu di bangku depan pintu berharap cemas semoga Anya bisa selamat.


Cinta ?


Sebenarnya sangat tidak mungkin Devan mencintai Anya karena perlakuan dirinya yang seperti kemarin, dirinya juga bingung apa ia memang benar-benar mencintai atau hanya ingatan mantannya saja.


Meskipun ia tidak suka dengan perlakuan Anya yang terlalu angkuh tapi dalam hatinya seperti ada rasa ingin melindungi anak ini, tidak mungkin ia membawa seorang cewek ke rumahnya jika tanpa alasan jelas waktu itu.


Devan menyesal ia tidak tahu kejadiannya akan seperti ini, Devan menyandarkan belakang kepalanya pada tembok berharap Anya bisa bangun dan dia akan bisa membicarakan isi hatinya selama ini.


Dokter yang menangani Anya keluar Naya dan Devan mendekat sepertinya akan ada sesuatu yang akan di sampaikan, "Kalian keluarga pasien ?". Tanya dokter bingung.


"Kita temennya dok, gimana keadaan Anya ?". Dokter itu mengangguk.

__ADS_1


"Karena luka tusuk yang dalam membuat saudara Anya kehilangan banyak darah, sekarang kita membutuhkan darah AB dan kebetulan stok darah AB di rumah sakit ini sedang habis ?". Tuturnya.


Naya meremas tangannya pasalnya ia memiliki darah O, jadi bagaimana cara dia mencari darah AB untuk sahabatnya.


"Saya dok, darah saya AB ?". Naya menoleh ternyata itu Devan yang berbicara, Devan bersedia mendonorkan darahnya untuk Anya, biasanya orang ini tidak perduli dengan apa pun.


Anya mengalihkan pikirannya hal itu tidak seharusnya dia pikirkan sekarang yang terpenting Anya bisa sadar secepatnya.


"Mari ikut saya !". Dokter itu pergi di ikuti oleh Devan yang berjalan di belakangnya.


Di rumah sakit Ryan dan yang lain mulai berdatangan "Nay gimana keadaan Anya ?". Naya yang sedang duduk memberikan ruang untuk mereka.


"Kak Devan lagi donorin darah buat Anya". Ryan menghela nafas, "Syukur deh".


"Kak masalah kak Irana gimana ?". Naya paham bagaimana perasaan Irana dia mencintai Devan memang sudah lama bahkan sejak Karen masih ada tapi perbuatannya terhadap Anya memang berat apalagi jika sampai orang tua Anya tidak menerima ini semua.


Ryan terdiam, seperti orang sedang berfikir wajahnya menunjukkan raut bingung, Naya mengerti semua ini memang sulit untuk di percaya.


"Irana udah di bawa ke kantor polisi". Ucap Ryan lemah, Naya mengangguk singkat setidaknya Irana bertanggung jawab atas perbuatannya.


Devan sudah mendonorkan darahnya, sekarang dirinya sedang mencari udara segar di taman rumah sakit, ia melihat banyak sekali di sini orang yang sedang berjuang untuk hidup dan sehat.


Dirinya duduk di salah satu bangku yang ada di sana, malam semakin larut sama dengan pikirannya yang makin ke sini makin merasa sakit, Devan mencoba menarik nafas panjang berharap semuanya kembali pada semula.


seharusnya dirinya lebih bisa belajar dari pengalaman, saat dirinya mendonorkan darah pada Anya ada sedikit rasa lega dalam hatinya setidaknya ia telah berusaha untuk membantunya.


Hari ini benar-benar berat bagi Devan tidak ada lagi raut judes, kata-kata tidak sopan yang keluar dari mulut mungil wanita itu. Haruskah dirinya menyesal kehilangan seseorang yang ia cintai untuk kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2