
Setelah Devan pulang Anya terus merutuki prilakunya tadi yang di luar kendali. Kenapa ia harus membicarakan ini pada Devan, bukannya ini adalah hal yang ia tutupi sejak dulu.
Lagian mamanya ini kenapa malah mengajak Devan untuk masuk ke dalam rumah. Alhasil Devan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit besok. Anya benci rumah sakit, ia benci saat orang lain menatap dirinya dengan raut kasihan.
Bisa saja dirinya besok tidak menuruti perintah Devan, tapi Anya hanya kasihan pada mamanya yang berharap dirinya untuk bisa sembuh walaupun dengan pengobatan jalan.
Ponsel di atas nakas miliknya berdering, Anya berjalan gontai untuk mengambilnya. Saat di lihat ternyata itu adalah pesan dari Farrel yang menyuruhnya untuk tidak lupa makan dan minum obat.
Ia menghela nafas gusar, "Kenapa gue harus ada di antara dua cowok yang gue sendiri juga gak bisa nolak perhatian mereka".
Anya tidak mengerti kenapa bisa terjadi secepat ini, sudahlah lagipula kedepannya ia akan sering bertemu dengan Devan.
Pagi sekitar pukul 8 Farrel sudah ada di rumah Anya. Sudah menjadi list bagi Farrel untuk menemani Anya setiap kali ia berobat, Anya sebenarnya tidak mau selalu merepotkan Farrel tapi Farrel selalu memaksa dan tidak merasa di repot kan.
Anya menuruni anak tangga dan melihat mamanya sedang berbicara dengan Farrel, "Nah, nih Anya. Kamu ini lama banget kasian Farrel nungguin dari tadi". Kata Arin.
"Maaf ya Rel ?".
"Ga papa kok Tante, yu Nya. Udah siap ?".
Anya mengangguk, "Anya pamit dulu ya ma".
Keduanya menyalimi Arin secara bergantian, kemudian mereka jalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan gerbang.
Dari tadi ada yang menggangu pikiran Anya, bagaimana ia bercerita tentang Devan yang akan menjadi orang yang selalu meriksa keadaan dirinya untuk sekarang dan seterusnya.
Farrel yang melihat raut khawatir dari Anya langsung menyentuh wajah kekasihnya itu, "Kamu kenapa sayang, kok kayak takut gitu ?".
Farrel menstrater mobil dan melajukan mobilnya. Anya melirik ke arah Farrel, akankah Farrel mengizinkan dirinya selalu berhubungan dengan mantannya.
"Rel kamu ngizinin aku gak kalau aku berobat ke dokter Devan". Tanya Anya.
"Dokter Devan ?". Farrel seperti tidak asing dengan nama itu. Ah ia ingat, itu adalah mantannya Anya.
"Kok tiba-tiba mau ?". pasalnya Anya selalu tidak mau jika harus di periksa oleh mantannya.
"Kemarin aku gak sengaja di anterin dia pulang dari Alfa soalnya hujan, dan mama tau dia dokter di sana jadinya aku di suruh berobat sama dia". Anya menunduk, "Maaf aku baru bilang".
__ADS_1
Farrel terdiam untuk beberapa saat, lalu ia menoleh pada Anya yang sedang menunduk, "Aduh sayangnya Farrel, gapapa kok aku ngerti. Apapun hal yang buat kamu sembuh aku dukung".
Anya terperangah tidak percaya kalau Farrel membiarkan pacarnya ini untuk selalu berhubungan dengan mantan. Jika orang lain mungkin sudah overprotektif atau bahkan di putuskan.
"Tapi Rel kalau kamu ngerasa gak nyaman bilang aja aku bisa cari dokter lain kok".
Keduanya sudah masuk ke lahan parkir rumah sakit, Farrel mencari tempat yang pas untuk mobilnya. Setelah selesai ia memusatkan badannya pada Anya.
"Aku paham ini Nya, kalian cuman sebatas pasien dan dokter lagipula aku percaya kok sepenuhnya sama kamu".
Anya tersenyum tipis, Farrel memang tipe orang yang tidak selalu menuntut banyak. Lalu bagaimana Anya, akankah dirinya bisa mengerti keadaan Farrel seperti Farrel mengerti keadaan dirinya.
"Ya udah ayo". Ajaknya
Anya menganguk kemudian ia keluar dari mobil, keduanya melangkah untuk masuk ke dalam. Di dalam keadaan rumah sakit tidak terlalu ramai, mungkin ini karena hari libur jadi tidak terlalu banyak dokter.
"Anya". Ucap seseorang.
Keduanya menoleh, "Lo Anya kan ?".
"Ryan ?".
"Baik, lo juga dokter di sini ?".
Ryan mengangguk, "Wah gak bakal ngira gue bakal ketemu sama lo ?".
Anya tersenyum, ternyata Ryan juga sudah sesukses Devan. Menjadi seorang dokter di rumah sakit ternama seperti ini. Lalu bagaimana dirinya, ah selalu saja dirinya begini jika bertemu orang yang ia kenal lebih sukses dari dirinya.
"Aku cari kamu ternyata di sini". Irana baru saja datang tetapi ia tidak menemukan keberadaan Ryan di mejanya. Tapi ia malah melihat ia sedang berdiri di sini.
Irana terkejut saat melihat orang yang sedang di ajak bicara itu adalah Anya, "Anya !".
Anya tersenyum tipis, waktu juga cepat berlalu. Anya yang melihat gandengan dan cincin di antar keduanya sudah paham tentang apa yang mereka jalani saat ini.
"Lo sama siapa ke sini ?" Tanya Ryan basa-basi.
"Oh iya, Ini Farrel. Pacar gue". Tegasnya sambil memegang lengan Farrel.
__ADS_1
Farrel tersenyum ke arah keduanya dan di balas senyum juga oleh Irana dan Ryan.
"Oh iya gue mau nanya, ruangan Devan di mana ?".
Irana dan Ryan saling memandang, untuk apa Anya mencari Devan. Bukannya Anya sedang bersama pacarnya, "Ah, lo tinggal naik ke lantai 2 lurus di ujung ada". Jawab Ryan.
Anya mengangguk paham, "Makasih ya, gue duluan".
Keduanya menganguk, akankah terjadi perang dingin antara mereka. Ryan tidak tahu hal apa yang akan terjadi di antara keduanya, tapi semoga saja Ryan berdoa mereka akur tanpa memperdulikan masa lalu masing-masing.
Anya mengetuk ruang meja Devan, di pintu tertera nama Devan dengan dokter dalam dan umum. Setelah ada ucapan masuk dari dalam keduanya melangkah masuk.
Terlihat Devan tengah duduk sambil memakai snnelli dokter kebanggaannya. Devan yang melihat Anya langsung berdiri tapi dari belakang muncul Farrel membuat Devan duduk kembali.
"Silahkan duduk". Titahnya.
Keduanya duduk di kursi yang sudah di sediakan. Entah kenapa mendadak suasana terasa sangat canggung. Anya melirik keduanya baik Devan maupun Farrel mereka seperti enggan untuk mengeluarkan suara terlebih dahulu.
"Buat berobatnya berapa kali dalam seminggu ?". Tanya Anya.
Devan melihat berkas Anya yang sudah ia dapatkan dari dokter yang menangani sebelumnya. Kenapa dirinya tidak bisa fokus seperti ini, tapi dalam hati ia harus profesional dan menjaga kode etik dokter.
"Untuk obat bisa di isi ulang kalau sudah habis. Untuk kemoterapi bisa dua kali dalam seminggu". Jawabnya.
Anya mengangguk pelan, ia merasa oksigen di sekitarnya mulai berkurang. melihat Devan seperti biasa saja sudah tampan apalagi seperti ini Devan terlihat gagah dan berwibawa.
Anya menepuk-nepuk pipinya pelan, toh Farrel pun saat sedang meeting terlihat sangat cool. Memakai jas seperti layaknya lelaki idaman tapi kenapa melihat Devan malah membuat dirinya tidak berdaya.
"Sayang kenapa ?". Tanya Farrel, sejak tadi Anya seperti tidak mendengarkan ucapan dokter dan hanya terdiam.
Devan yang mendengar itu langsung menyimpan pulpen di sampingnya dengan keras. Kemudian tersenyum simpul kepada dua orang di depannya.
"Bisa di cek dulu buat darah sama gula soalnya buat syarat kemoterapi ke depannya". Jelas Devan sambil berdiri.
Devan mengeluarkan alat-alat dan mendekat ke arah Anya, memasangkan dan mengecek apakah darah dan kadar gulanya bisa untuk dirinya melakukan kemoterapi.
Jujur keadaan seperti sangat menyiksa bagi Anya, jarak Devan sangat dekat dengan dirinya bahkan ia bisa merasakan kulit Devan yang bersentuhan dengan kulit miliknya.
__ADS_1
Di sisi lain Farrel terus memperhatikan dirinya tanpa sedikitpun pun lengah, mungkin berpura-pura tidak melihat dan merasakan hal seperti ini merupakan jalan ninja untuk Anya.