Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
92 MABA


__ADS_3

Sejak kemarin Hilmi selalu saja memaksa dirinya untuk di pulangkan. Bukannya itu urusan dokter ? Anya mencoba memberi pengertian seperti anak kecil dengan iming-iming sembuh. Hilmi tetaplah Hilmi, Anya baru tahu ada sifatnya yang keras kepala.


"Ya udah mama bicara dulu sama dokter". Ucap Riri


Riri keluar dan membuat suasana Hilmi berubah menjadi ceria. Untunglah mamanya mengerti, ia sudah tidak betah berada di sini dengan makanan dan ruangannya yang bau obat.


"Kalo sakit lagi aku gak mau tanggung jawab". Kata Anya


"Kok gitu". Tanya Hilmi


"Kamu tuh belum sembuh sayang, masa mau pulang. Nanti kalau ada apa-apa gimana ?"


Hilmi menarik lengan Anya dan mendudukkan di atasnya. "Kamu gak percaya aku udah sembuh ?". Anya menggeleng, kemudian


Cup

__ADS_1


"Gimana udah sembuh belum ?". Anya kaget dengan perlakuan Hilmi yang spontan. Seketika dirinya langsung berfikir, Hilmi memang memaksa ingin pulang. Jika di lihat lagi dia memang tidak merasakan lagi sakit, Anya berharap Hilmi bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.


"Sayang kok malah ngelamun".


Anya menatap lekat mata sang suami ada ketakutan dalam dirinya jika Hilmi malah meninggalkan dirinya. Dekapan kuat membuat Hilmi juga kaget, Anya ini selalu saja berbuat hal yang membuat Hilmi bingung.


"BANG HILMI".


Teriakan seseorang membuat keduanya menoleh, ia bergegas menuju arah Hilmi yang sedang duduk di atas brankar. Setelah di hadapan Hilmi Anya sadar kalau cewek ini menatap dirinya tak suka.


"Clara, kamu di Indonesia ?". Tanya Hilmi


"Jangan begini Ra, Abang masih sakit".


"Abang sakit kenapa ? Rara denger Abang di tembak makanya Rara pulang ke Indonesia". Tanyanya khawatir

__ADS_1


"Gapapa kok, oh iya kenalin ini istri Abang, Anya namanya".


Anya yang tengah berdiri mengulurkan tangannya pada Clara dengan canggung. Clara yang melihat itu langsung membalasnya dengan cepat, jika dilihat tidak begitu cantik untuk standar Hilmi. Jelas jika begini Clara tidak suka dengan Anya.


"Dia Clara, anaknya Tante Rumi adiknya mama. Karena Tante Rumi udah meninggal jadinya Clara sekolah di luar negeri. Papanya di sini kerja buat biayain kuliahnya dia". Jelas Hilmi, ia yakin akan ada kesalahpahaman di sini. Sudah bisa di lihat jika Clara selalu saja mendekatinya. Sebenarnya Hilmi telah tahu sejak dulu sikap Clara yang seperti ini, bahkan dia pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Hilmi.


Hilmi yang mengetahui itu hanya menganggap sebagai candaan. Dulu Clara masih sekolah dan sikapnya yang mungkin masih labil. Ia mungkin belum tahu jika tidak boleh menikah dengan satu turunan. Lagian Hilmi tidak pernah menganggap Clara lebih dari apapun ia sudah menganggap Clara seperti adiknya sendiri.


Dulu saat akan menikah dengan Sandra Clara marah dan pergi keluar negeri dengan alasan belajar. Sampai sekarang Hilmi baru bertemu lagi dengan dia setelah 4 tahu tidak bertemu dan di saat dirinya sudah menikah dengan Anya.


"Aku kangen banget sama Abang". Jelas Clara yang melanjutkan pelukannya.


Anya menatap ke sembarang arah, ia tidak boleh cemburu Clara tidak lain adalah sepupu Hilmi dan itu pasti Clara akan menjadi saudaranya.


Mata Clara tak sengaja menatap perut Anya yang sudah lumayan besar. "Abang udah mau punya baby". Tanya Clara spontan.

__ADS_1


Hilmi menganguk, "Doain ya Ra, semoga persalinannya lancar". Ucap Hilmi sambil mengusap perut Anya dengan lembut.


Rasa kesal itu muncul lagi, persis seperti dulu dirinya melihat Hilmi akan menikah dengan Sandra. Setelah semua luka yang telah ia rasakan karena memaksa akan terus mencintai Hilmi, Clara sudah bertekad untuk terus berada di samping Hilmi walaupun dia sudah memiliki istri.


__ADS_2