
"Kamu kan lagi kerja Dev ?".
Devan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Renata. "Saya izin sebentar". Ucapnya.
Mata Anya bergulir di antara keduanya, "Dia suka sama lo ?".
Devan tidak menggubris dan langsung menarik lengan Anya menuju parkiran.
"Ih Devan, gue nanya juga".
Anya terus memukul-mukul lengan Devan yang menarik lengannya secara paksa. Karena Anya terlalu rewel Devan berhenti.
"Kalo iya kenapa ?".
"Gak kenapa-kenapa, cantik lagi. Pantes deh sama lo".
"Gue gak butuh penilaian lo". Katanya.
Sangat menyebalkan sekali Devan. Lalu kenapa dia sekarang malah memperhatikan Anya secar intens. Anya yang di perhatikan seperti ini merasa risih.
"Kenapa ?".
"Gue gak bisa suka sama orang. Karena hati gue udah stuck di satu orang".
Mata Anya menatap ke sekeliling. Apa Devan tidak malu bertingkah seperti ini di depan parkiran. Lalu tentang hatinya, kenapa Devan harus memberitahukan pada Anya. Bukankah itu hanya Devan yang tahu.
"Siapa".
"Orangnya di depan gue".
Rasanya banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di perut Anya. Sepertinya pipinya pun sudah merah seperti kepiting.
Devan tersenyum tipis, "PD banget sih lo".
Devan kembali menarik lengan Anya dan masuk ke dalam mobil. Devan tidak mungkin membiarkan Anya pulang sendiri menggunakan ojek atau taksi. Ia hanya takut kejadian yang sama akan terulang ke tiga kalinya.
__ADS_1
Di perjalanan tidak ada percakapan di antara keduanya baik Devan maupun Anya mereka sama-sama diam. Tiba di belokan jalan tengah mobil mereka di berhentikan oleh dua orang yang menggunakan motor.
Jalanan di sini cukup sepi apalagi mereka hanya berdua, Anya takut kalau akan terjadi sesuatu pada mereka, "Dev gimana ?".
"Tenang Nya, lo tunggu di sini. Gue bakal keluar". Tapi lengannya langsung di tahan oleh Anya.
"Dev, gue takut lo di apa-apain sama mereka".
Devan tersenyum lalu mengusap pipi Anya sebentar, "Tenang aja, gue gak bakal kenapa-kenapa".
Devan langsung keluar dan menemui dua orang yang sejak tadi mengetuk-ngetuk pintu mobil Devan.
Satu orang di antaranya menyuruh orang lain untuk menghajar Devan, dan terjadi pertengkaran di antara mereka. Untung lah Devan dahulu mempelajari silat jadi ia tidak kewalahan saat berhadapan dengan orang seperti ini.
Tapi tetap saja, dua lawan satu. Perut Devan terkena pukulan keras dan membuatnya terpelanting ke belakang. Anya yang melihat itu langsung menutup mulut, ia benar-benar takut sekarang.
Pertarungan itu terus berlangsung, akhirnya Devan bisa melawan mereka walaupun dirinya babak belur.
Anya menyusul Devan, "Dev kamu gak papa kan".
Devan mengusap ujung bibirnya yang berdarah akibat terkena pukulan lalu menggeleng.
"Biar gue aja yang nyetir". Usul Anya ia tidak tega melihat Devan dalam keadaan lemah seperti ini.
Devan memberikan kunci mobilnya pada Anya. Akhirnya Anya lah yang menyetir sampai rumahnya. Di rumahnya Arin sedang tidak asa karena ada kegiatan dengan temannya.
"Sini biar gue obatin".
Anya membawa alat medis dan beberapa plester. Di mulai dengan menggunakan handuk dan air panas, ia tempelkan di sudut bibir Devan.
"Sakit gak ?". Devan menggeleng lemah.
Setelah di obati sekarang giliran luka di perut yang parah. "Sini biar gue obatin juga".
"Yakin ?".
__ADS_1
Anya menoleh, "Yakin apa ?".
"Gue bakal buka baju Nya, dan di sini gak ada orang".
Benar juga, nanti menimbulkan fitnah di antara tetangga. Tapi Anya kasihan pada Devan bukankah Devan begini gegara dirinya.
"Gue cuman ngobatin lo doang gak lebih".
Devan tersenyum lalu mengangguk, dirinya memulai dengan membuka kancing kemejanya satu persatu.
Anya yang merasakan itu ketar ketir sendiri, bahkan jantungnya seperti akan copot. Dalam hati ia menguatkan kalau ia hanya berniat membantu tidak lebih.
"Di sini Nya". Jelas Devan.
Astagfirullah, Anya bisa jelas melihat bagaimana perut itu bisa berbentuk seperti roti sobek. Ini bukan pertama kalinya Anya melihat hal seperti ini tapi kenapa jika melihat langsung ia seperti merasakan sensasi yang berbeda.
"Kenapa di liatin mulu". Tanyanya.
"Eh..".
Anya tersadar dan langsung menuangkan cairan obat pada tempat yang terluka. Bahkan lengannya sampai gemetaran saat mengoles menggunakan kapas.
Anya menelan saliva kuat-kuat. Bukankah dirinya pun sudah dewasa, dan paham mengenai hal seperti ini. Ah, sepertinya kulit ini sangat liat dan kuat.
Anya menggeleng mencoba menepis pikiran kotor itu. Bisa ia akui jika tubuh Devan sangat bagus dan sepertinya ia selalu berolahraga, terlihat dari otot-otot di lengannya yang terbentuk.
Setelah semua selesai Anya menjauhkan diri dari hal yang menggoda keimanannya.
"Gue nyimpen ini dulu ya". Anya menunduk sambil memegang kotak obat.
Devan tersenyum nakal, ia mencoba menarik Anya dan membuat Anya terjatuh di pelukannya. Seketika mata Anya langsung membulat, wajahnya bersentuhan dengan dada Devan dan itu membuat Anya tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Ihh Devan, di baju dulu sana".
Devan terkekeh, Anya terbangun tapi Devan malah memeluk Anya dengan erat.
__ADS_1
"Sebentar aja Nya". Pintanya.
Baru Anya akan menolak pelukan ini tapi permintaan Devan seolah menyihir dirinya. Biarlah lagipula Anya menikmati momen ini.