
"Mas". Panggil Anya
"Kenapa sayang".
Anya juga bingung harus mulai dari mana ia berbicara. Mengenai sikap Clara tadi jelas membuat Anya tidak nyaman dengan kehadirannya, "Gimana kalau kita pindah rumah"
Dahi Hilmi bergelombang tiba-tiba istrinya menginginkan pindah rumah tanpa alasan. "Sini jelasin kenapa pengen pindah emangnya ?".
Anya yang tengah membuat susu vitamin untuk kandungan langsung menoleh kemudian berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Aku rasa dengan adanya Clara di sini jadi gak nyaman deh, mending kita pindah aja". Biarlah dirinya di sebut egois, tapi itu memang benar adanya. Bukankah lebih baik berbicara sesuatu jika ada yang mengganjal di antara hubungan rumah tangga.
Hilmi terlihat sedang berfikir, apapun akan ia lakukan untuk Anya. Apalagi ini menyangkut keluarga. Hilmi tahu apa yang di rasakan istrinya, bukannya dirinya tidak tegas dengan adanya Clara di rumah ini. Hilmi hanya ingin bersikap sebagaimana keluarga dalam arti saudara bagi dia.
Hilmi mengangguk, "Kita bicara dulu ya sama mama".
Anya tersenyum, "Bukan maksud aku buat jauhin kamu dari Clara. Tapi sikap dia emang gak bisa aku terima".
"Aku ngerti". Tiba-tiba pikiran jahil Hilmi muncul, "Emang kenapa sih, cemburu Clara ngasih perhatian ?".
__ADS_1
"Enggak"
"Terus"
"Kamu bayangin aja punya suami tiap hari di goda sama saudara sendiri, siapa yang gak kesel coba". Jelasnya.
"Jadi kesel" Pancing Hilmi.
Anya mengangguk kemudian langsung melebarkan matanya. "Ihh kamu mah".
"Di minum dulu ntar keburu dingin". Hilmi mengambil susu yang di buat Anya dan di berikannya.
"Kita kan mau ke dokter, kamu mau ganti baju dulu". Tanya Hilmi
Anya mengangguk, "Ya udah aku ke mama dulu bentar".
...***...
Clara baru bangun siang, ia menjadi sangat pemalas dalam sebulan ini karena jadwal yang sangat gila. Ia bekerja di luar negri untuk menambah penghasilan. Meskipun uang yang di berikan papanya sangat cukup justru Clara selalu merasa kurang dengan apa yang dia punya.
__ADS_1
Ia berniat ke dapur untuk mengambil minum tapi matanya melihat Hilmi yang tengah berjalan menuju kamar Tante Arin.
Rasa penasaran menuntunnya untuk ikut dan mendengarkan percakapan mereka, Untung saja pintu kamarnya tidak di tutup terlalu rapat jadinya ia bisa mendengar dengan jelas.
Ma Hilmi mau bicara
Hilmi mau pindah sama Anya, katanya hadirnya Clara di sini buat dia gak nyaman jadinya Hilmi buat mutusin buat beli rumah
Mama ikut aja gimana kamu, Anya juga kan istri kamu jadi kamu sebagai suami harus dengerin apa yang dia mau
jadi mama setuju
iya
Samar-samar Clara yang mendengar itu membuat kemarahannya naik kembali. Dasar wanita tidak tahu diri, harusnya dia saja yang pergi dari sini malah bawa-bawa bang Hilmi lagi.
Clara berfikir jika Hilmi pergi usaha untuk mendekatinya akan semakin tipis. Ia harus berfikir bagaimana caranya untuk menghalangi mereka pindah agar tetap disini.
Yang semakin membuat Clara sebal adalah rasa cinta Hilmi yang begitu besar untuk Anya. Ia jadi iri bagaimana dulu seluruh perhatian di berikan untuk orang lain sedangkan dirinya tidak pernah mendapatkannya. Bagaimana orang lain selalu mendapat perhatian penuh dari orang yang ia sayangi sedangkan dirinya tidak pernah.
__ADS_1