Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
68 MABA


__ADS_3

"Jadi kan pa ?". Tanya Anya memastikan.


"Ah, jadi". Ucapnya sambil mengangguk, "Ayo !".


Keduanya masuk ke dalam mobil, di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Seolah masing-masing sibuk dengan pemikirannya.


"Kamu udah pikirin apa yang mau di beli ?".


"Belum". Jawab Anya, dirinya belum pernah menyiapkan kado untuk kolega papahnya karena itupun Anya selalu menolak jika di ajak. Pernah ia menyiapkan kado tapi itu untuk sahabatnya dulu.


"Dulu pas bapak nikah, isi kadonya apa aja ?". Tanyanya polos.


"Tau dari mana kamu saya pernah menikah".


Hilmi menjawab itu dengan tenang berbeda dengan Anya yang langsung tersadar dengan apa yang ia ucapkan barusan. Matanya mengekor ke samping sedikit melihat bagaimana reaksi Hilmi yang mungkin dapat menyinggung hatinya.


"Dari mana Anya ?".


"Anu pa, saya nanya sama Dinda. Saya gak maksud kok pa cuman saya liat photo bapak sama istri di meja kerja". Jelasnya, "Maaf ya pa".


Anya langsung memalingkan wajah ke samping dan melihat bentangan gedung yang menjulang tinggi. Meskipun dalam hati ia merutuki perbuatannya yang tidak sopan.


Tidak tahu kalau di sana Hilmi meresponnya dengan senyuman simpul. Tidak biasanya ia seaneh ini jika menyangkut Sandra karena siapapun yang membicarakan istrinya lebih tepat mantan di depan dia Hilmi biasanya selalu tidak terima.


"Hilmi".


"Hah".


"Panggil Hilmi".


Anya membeo, "Enggak sopan pa".


"Ini perintah".


"Entar di kira yang enggak-enggak sama yang lain".


"Emangnya kamu pengen ada sesuatu ?"


"Eh".


Menyebalkan sekali orang yang ada di sampingnya ini. Jika Hilmi tidak membantu dirinya mungkin ia pun tidak akan membantu dia. Anggap saja ini balas Budi.

__ADS_1


Mobil Hilmi telah sampai di depan sebuah mall terbesar di Jakarta. Setelah memakirkan mobilnya dengan beres Hilmi keluar mendahului Anya.


"Cowok gila". Sumpah serapahnya.


Karena takut ketinggian Anya menyusul Hilmi dari belakang. "Pelan-pelan dong nada, saya capek banget kudu lari-lari".


Langkah Hilmi terhenti mendengar nama itu, Anya yang tengah berlari pun langsung menubruk punggung Hilmi hingga terpelanting ke belakang.


"Nama gue Hilmi".


Anya berdiri dan membereskan bajunya yang kotor akibat ulah bos-nya yang tidak tahu diri itu. "Nama lo kan Hilmi Anada Pramudya".


"Tapi gue gak suka di panggil itu".


"Lah kenapa pak Hilmi terhormat. Umur kita hanya terpaut dua tahun dan itu nama bapak". Sanggahnya karena capek meladeni sikap Hilmi yang sangat menyebalkan.


"Ayo Na saya tau tempat buat nyari kado dimana". Anya menarik lengan Nada yang termatung di tempatnya.


Itu adalah nama panggilan istrinya untuk Hilmi dulu. Karena bagi Sandra menyebut dirinya berbeda dengan orang lain sangatlah spesial. Mendengar panggilan itu lagi membuat perasaan Hilmi tidak menentu yang pasti ia pun tidak tahu apa yang dirinya rasakan sekarang.


Antusiasme Anya dalam mencari barang membuat Hilmi kaget.


"Ini cocok kayaknya deh". Anya mengangkat sebuah kotak berukuran sedang yang berisi hiasan.


Saat ini mereka sedang berada di toko aksesoris. Bukan aksesoris untuk wanita namun lebih ke barang-barang unik dan modern yang terpampang di setiap jajarannya.


"Ih sini dong Hilmi". Anya menarik Hilmi agar lebih dekat dengannya jelas ia kesal melihat Hilmi yang malah diam mematung.


"Bagus gak ?".


"Bagus".


"Ini"


"Bagus".


"Bagusan yang mana ini atau ini". Tanyanya sambil memperlihatkan kedua barang tersebut di samping wajahnya.


Pertanyaan yang di ajukan seketika membuat Hilmi menjadi kaku, Anya sangat menggemaskan saat menunjukkan barang yang membuat ia begitu merasa senang.


"Apapun pilihan lo bagus kok". Katanya

__ADS_1


Mendengar itu Anya tersenyum manis, "Kenapa senyum ?".


"Emang gak boleh ? Harus banyak senyum tandanya bersyukur bapak Hilmi terhormat".


Kata terhormat sangat malas di dengar oleh Hilmi, Anya yang menyadari perubahan wajah Hilmi langsung menyusul dan mendekat.


"Ngambekan ah ga seru". Cibir Anya


"Gue gak ngambek".


Anya hanya mengangguk tanpa mendengar perkataan Hilmi, mereka berjalan menuju kasir untuk membayar barang yang sudah di tentukan.


"Ke butik sebentar". Titahnya.


Dahi Anya bergelombang, ia kira telah selesai. Lagipula kenapa Hilmi membawa dirinya ke sana.


"Ngapain ?".


"Nanti juga lo tau".


Di ruangan tertutup seseorang membawa dirinya untuk melihat dan memilih gaun yang sekiranya Anya suka. Tapi Anya hanya memegang tanpa berniat untuk mengambil. Pertanyaannya saja belum Hilmi jawab bagaimana bisa ia memilih sebuah baju tanpa tau kemana akan pergi.


"Kalau gak ada yang suka, saya sudah siapkan gaun ini. Coba pakai".


Gaun berwarna navy senada dengan bagian bahu terbuka sedikit membuat Anya risih. Meskipun gaun itu memperlihatkan tulang selangkanya tapi dari keseluruhan semuanya tertutup dan tidak terlalu menampilkan lekuk tubuhnya.


Di hadapan cermin besar Anya ragu untuk memakainya, dalam hati ia memantapkan hanya sebagai balas budi.


Gaun itu terlihat sangat cocok di pakai oleh Anya. Kulit Anya yang putih menambah kesan anggun yang tercetak jelas.


"Cantik banget, suaminya pasti suka". Ucap mba-mba di sana.


Lihatlah Anya sekarang. Pipinya sudah seperti kepiting rebus. Apa dia bilang ? Suami ? Ah mba ini tidak tahu saja kalau dirinya hanya menjalankan tugas sebagai manusia karena orang itu telah baik kepadanya.


Mba tadi menuntun Anya menuju ruang tadi untuk mendengar pendapat Hilmi. "Pa Hilmi, gimana menurut bapak".


Hilmi yang mengantuk karena menunggu terlalu lama langsung tak berkutik saat matanya pertama kali menjatuhkan pandangan.


Hanya satu kata yang bisa Hilmi katakan


Subhanallah

__ADS_1


Matanya tidak berkedip sama sekali melihat mahluk tuhan yang sangat sempurna. Otaknya terus menarik saraf darah untuk menikahi seorang wanita di hadapannya. Padahal Hilmi tidak pernah terang-terangan mengagumi kecantikan seseorang. Kecuali Sandra, mantan istrinya.


Kenapa malam ini perhatian Hilmi seolah di tumpahkan pada seorang perempuan yang dia sendiri tidak tahu asal-usulnya.


__ADS_2