
Semakin hari tingkat kemanjaan Anya semakin menjadi, lihat sekarang. Dia merengek karena Hilmi yang harus kembali ke kantor sedangkan dirinya terus menahan lengannya agar tidak pergi.
"Kamu ini kayak anak kecil, lagian habis nikah juga Hilmi bakal terus ada Anya".
Anya yang mendengar itu hanya memajukan bibirnya. Dirinya sudah pulang dari rumah sakit kemarin tapi jiwanya memanggil keras agar Hilmi selalu di sampingnya.
Hilmi terkekeh, "Mau ikut ke kantor ?". Sarannya.
Benar juga, kenapa ia tidak ikut saja bersama Hilmi. Di sana mungkin akan ada banyak orang yang kegatelan dengan calon suaminya.
Anya mengangguk setelah berfikir demikian. Arin yang melihat kelakuan anaknya tidak habis pikir, "Di sana kamu cuman ganggu Hilmi aja sayang". Tegas Arin.
"Enggak kok, di sana juga Anya liat dari kejauhan".
"Gapapa kok Tante, sekalian kenalin calon istri sama orang kantor".
Anya memandang pada mamanya dengan ekspresi tuh kan gapapa.
"Ya udah ati-ati ya". Keduanya menyalimi Arin secara bergantian kemudian berjalan ke arah mobil.
Di mobil Anya terus terngiang dengan ucapan Hilmi yang akan mengenalkan dirinya pada karyawan di kantor.
"Kamu bener mau ngenalin aku sama karyawan kamu ?".
__ADS_1
Hilmi mengangguk, "Kenapa gak nanti aja udah nikah".
"Kelamaan, biar gak jadi fitnah juga".
"Oh takut di kira simpanan bos, gitu".
Hilmi menoleh mendengar nada sindiran, Anya ini semakin sensitif dari hari ke hari. Tapi Hilmi justru merasa terhibur dengan merajuknya Anya yang membuat dirinya semakin merasa di butuhkan.
"Kok gitu sih pikirannya, kan kamu calon istri aku jadi harus di kenalin sayang".
Anya memiringkan sedikit tubuhnya menghadap jendela, Hilmi yang tahu Anya seperti itu tersenyum jahil. Lihat nanti apa yang akan ia lakukan.
Mobil mereka telah sampai di pelataran parkir lobi, "Mau turun apa di gendong". Pilihnya.
"Ehh eh, Hilmi".
Hilmi menggendong Anya ala bright style, banyak orang yang melihatnya saat mereka baru masuk di pintu utama. Anya yang merasa malu langsung memukul dada Hilmi agar diturunkan.
"Yang nangtangin tadi siapa ?". Ejeknya
"Aku kira kamu gak bakal begini, tapi malah. Ahh turunin Hilmi aku malu". Anya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sekarang mereka benar-benar menjadi pusat perhatian.
"Perhatian semuanya kumpul sekarang".
__ADS_1
Hilmi mengambil atensi dan semua orang kantor mendekatkan dirinya agar bisa mendengar apa yang akan bosnya bicarakan.
"Hilmi ih..".
Hilmi masih menggendong Anya dengan entengnya. Anya membulatkan matanya sampai-sampai matanya akan copot.
Setelah semua berkumpul Hilmi menurunkan Anya dengan hati-hati. "sebelumnya maaf saya melakukan hal yang tidak seharusnya saya lakukan. Maksud saya di sini akan memperkenalkan calon istri saya yang bernama Anya. Kami akan menikah dalam waktu cepat ini".
Semuanya bertepuk tangan dan memberi kata selamat. Dan yang membuat mood Anya berubah adalah ia mendengar karyawan perempuan menggosipkan dirinya yang tengah berbadan dua.
Sepertinya perut Anya sudah terlihat jika dirinya tengah mengandung.
Gak percaya yah pak Hilmi begitu
Pak Hilmi itu baik lho, ceweknya aja yang begitu
Samar-samar Hilmi pun mendengar perkataan yang sepertinya membuat Anya langsung terdiam. "Liat semua".
Cup
Semua orang kaget saat Hilmi melakukan hal yang sangat tidak terduga di depan semua orang. "Saya menikahi Anya atas pilihan saya sendiri dan karena saya cinta sama dia. Sekali lagi saya mendengar gosip seperti itu jangan harap kalian masih kerja di sini".
Setelah mengucapkan itu Hilmi langsung menarik lengan Anya menuju ruangannya di lantai atas. Orang-orang yang di sindir oleh Hilmi menunduk takut, sepertinya mereka harus mulai menghormati calon istri bosnya.
__ADS_1