
Remasan tangan Anya membuat Hilmi yakin kalau khawatirnya adalah nyata. "Kenapa Nya ?". Anya terus saja menoleh ke belakang. Hilmi yang bingung pun mengikuti arah pandangnya.
"Gak ada apa-apa kok".
Suara ketukan sepatu semakin mendekat ke arah mereka bertiga, dirinya mencoba menelan salivanya kuat berharap semua ini tidak terjadi.
Mata Darma melihat sosok yang ia temukan tengah berjalan ke arahnya. "Oh iya saya belum ngenalin Pak Hilmi dengan anaknya pak Wijaya, dia tidak bisa hadir karena berhalangan jadi dia yang menggantikan". Jelas Darma.
Cowok tersebut tersenyum dan mengangkat tangannya untuk berjabat, bagaimana pun juga ia harus menerapkan citra yang baik di depan kolega papahnya.
"Yang katanya jadi dokter di rumah sakit itu". Tebak Hilmi. Darma mengangguk, "Ngikutin jejak papahnya". Tambah Hilmi.
Devan hanya tersenyum mendengar pujian yang ia dengar semenjak datang ke sini. Tatapannya jatuh pada sosok wanita yang saling menggenggam, yang membuat ia aneh adalah dia terus menunduk seperti membuat kesalahan.
"Istri bapak ?".
"Kamu ini manggil bapak, Hilmi itu cuman beda dua tahun sama kamu". Potong Darma.
Ketiganya terkekeh, tapi Devan tidak perduli itu. Hatinya seperti tertarik sesuatu, entah itu apa sepertinya ada yang mengganjal.
__ADS_1
"Kenalin ini Anya". Jedanya, "Dia pacar saya". Sebenarnya ia tidak berniat akan mengumbar hubungannya. Bukan juga maksudnya Hilmi berbohong, lagipula ia akan menanyakan hal ini pada Anya dengan serius.
Habis sudah, Anya mulai mengangkat kepalanya dengan pelan. Apa yang pertama kali mereka lihat, keduanya langsung bertatapan. Devan yang tidak percaya langsung membuang muka dengan cepat.
Anya tahu mereka akan bertemu karena cepat atau lambat semua akan terjadi.
Devan
Dia seperti sosok yang tak tersentuh sangat dingin dan seolah mereka memang tidak saling mengenal. Anya tahu Devan memang tidak menginginkan kehamilan ini tapi setidaknya jangan begini.
Jangan membuat Anya berada di batas ambang menyalahkan diri sendiri. Anya pun sama dia seorang perempuan, dia rapuh dan menginginkan kehangatan. Mungkin jalan hidupnya memang begini, dirinya sudah menemukan Hilmi yang baik. Tapi entahlah ia akan menerima dirinya secara utuh atau sama akan meninggalkannya.
"Darma". Ucapnya.
"Anya".
"Dan ini kenalin Devan, anaknya pak Wijaya". Anya mencoba menatap kembali mata itu.
"Devan". Ucapnya dingin.
__ADS_1
Bukannya membalas Anya malah terus menatap tangan Devan yang menggantung di udara. Harus beginikah ? Seperti orang yang tidak saling mengenal ?.
"Anya".
Sama, dingin.
Raga mereka memang dekat tapi rasa keduanya sudah sangat jauh. Devan memang kaget melihat Anya yang tiba-tiba ada di sini, ia akui Anya memang sangat cantik malam ini. Apalagi perilaku Devan yang sepertinya sangat menyinggung hati Anya membuat dia bertingkah bodoh.
"Ah sepertinya kita akan sering bertemu dengan menghadiri pernikahan kalian". Darma terus saja menggoda pasangan baru yang masih sangat hangat.
Hilmi menyadari ada sesuatu yang Anya sembunyikan dari dia. Sejak tadi dirinya hanya diam setelah melihat gerak-gerik di antara keduanya. Hilmi tahu ia memang tidak berhak atas ini tapi hatinya dengan egois berbicara kalau Anya adalah miliknya.
"Astagfirullah".
Anya ambruk ke lantai
Dia pingsan
Tanpa pertahanan, sekarang mereka di kerumuni banyak orang dan menjadi pusat perhatian. Devan yang baru akan menolong langsung menghentikan aksinya karena ada Hilmi yang terlebih dahulu membopong Anya ke luar.
__ADS_1