
Naya sedang merenungkan kejadian tadi yang membuat dirinya mengalami ketakutan dan kekhawatiran seperti ini. Di ujung kamar Naya berdiri menghadap cermin besar, dari wajahnya tidak ada keceriaan yang selalu ia pancarkan.
Akhir-akhir ini Naya selalu memakai baju panjang, entah kenapa tapi dia tidak ingin menampakkan itu pada orang lain. Saat di buka baju lengan panjang bagian atas lebam biru kehitaman itu sangat terlihat.
Bagaimana cara dirinya terlepas dari Rifan pacarnya yang telah memukulnya secara verbal maupun non-verbal, jika Rifan datang ke rumahnya semua terlihat baik-baik saja. Ia berlagak seperti orang tidak bersalah dan Naya tidak ingin orang tuanya tahu tentang ini.
Dahulu waktu dirinya pertama kali berpacaran Rifan tidak seperti ini, dia selalu memperhatikan dan memberi Naya perhatian membuat dirinya semakin jatuh hati pada Rifan, saat hubungannya berjalan 3 bulan Rifan mulai sedikit berubah.
Permasalahan sepele saja Naya langsung di bentak dengan mengeluarkan kata-kata yang dirinya sendiri pun kaget, semakin lama Rifan makin menjadi dia semakin sering menyakiti dengan cara memukul menjepit dirinya di pintu mobil bahkan meludahinya.
Naya kira itu adalah bentuk rasa kasih sayang terhadap dirinya, Naya menerima semua perlakuan Rifan dan dirinya mulai terbiasa dengan ini tapi setelah mencari tahu dari internet ini bukanlah hubungan yang sehat.
Terlalu lama merenung sampai ia tidak sadar bahwa dari tadi seseorang mengetuk pintu kamarnya "Buka aja". Ucap Naya berteriak.
Saat pintu di buka memperlihatkan bunda Naya yang menghadap pada dirinya sambil tersenyum "Bisa mamah bicara sebentar !". Ucapnya
"Akhiri hubungan kalian baik-baik sekarang". Seketika tubuhnya merasa tegang, mata Naya menyorot pada bola mata bundanya.
"Mamah tahu hubungan kalian bagaimana, kalau bukan teman kamu yang memberi tahu itu mamah mungkin akan marah besar sama kamu, mamah berniat akan menelpon polisi untuk masalah ini tapi melihat Rifan dan keluarganya mamah urungkan".
Temen ? Seingat dirinya orang lain tidak tahu kejadian ini tapi, Anya ! Apa Anya yang memberi tahu ini pada bundanya ? Karena hanya Anya yang menyelamatkan dirinya dari pukulan Rifan.
Tania memegang tangan anaknya, mengusap dan menyalurkan ketenangan bagi Naya, orang tua siapa yang ingin anaknya di perlakukan seperti ini oleh orang lain, bahkan dirinya pun tidak pernah bermain tangan jika sedang marah.
"Rifan sekarang ada di bawah, sekarang kamu akhirin semuanya, tenang di sini ada mamah sama papah kamu ga usah takut". Naya mengangguk lalu berjalan ke luar kamar dan menuju lantai bawah.
Dari tangga ia melihat Rifan sedang duduk sambil memainkan handphonenya, ia merasa takut dan khawatir tangannya mulai mengeluarkan keringat dan kakinya pun merasa sangat berat untuk melangkah.
__ADS_1
"Fan ?". Sadar ada Naya dia memasukkan hp pada sakunya.
"Aku mau ngomong sebentar !". Rifan mengangguk dan memberi ruang pada Naya, dirinya yang tidak tahu harus memulai dari mana spontan "Kita akhiri hubungan ini yah ?".
Terlihat perubahan raut wajah Rifan yang menampakkan raut marah semakin membuat Naya gemetar, tapi dirinya harus berani, harus.
"Kenapa Nay ?". Tanyanya
Jeda beberapa saat "Aku mau sendiri dulu".
"Basi tau gak, gue tau lo begini karena sikap gue kan, gue begini karena gue sayang sama lo Nay !." Menggeleng dan menepis lengan Rifan merupakan suatu keberanian yang Naya lakukan sekarang.
"Tante tau cara kamu memperlakukan anak tante sekarang, itu bukan karena cara kamu menunjukan rasa sayang tapi kepribadian kamu yang menuntun untuk melakukan itu". Tania dari tadi mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu.
"Tapi tante !". Rifan berusaha menepis ucapan Tania, "Gak ada kata toleran buat kamu, sekarang jangan temuin Naya lagi dan kamu bisa keluar dari rumah ini sekarang ?". Tania mempersilahkan tangannya pada pintu di ujung sana.
Rifan keluar dengan wajah yang berapi-api, sekarang Naya cukup lega karena bisa terlepas dari jeratan Rifan, meskipun ada sedikit rasa tidak rela dalam hatinya. "Makasih bunda". Tania mengangguk "Kalau ada apa-apa bilang jangan di pendem sendiri yah ?". Naya mengangguk sambil tersenyum.
Ingin rasanya Anya diam di kost-an dan tidak berangkat ke kampus jika tidak ingat dengan cita-cita dan orang tuanya mungkin sekarang ia malah lanjut tidur bukan bersiap-siap seperti ini, ya sudah lah apa pun yang terjadi nanti jalani saja.
Untung saja hari ini kelas penuh jadi tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk bertemu dengan orang seperti dia. "Anyaaaa". Suara Naya sangat memekakkan telinga, Anya yang baru sampai di kelas menatap dia malas.
"Makasih banget Anyaa", Naya memeluk Anya dengan perasaan yang sangat bahagia, "Aduh pengep Nay !". Ucap Anya
"Sorry". Setelah melepaskan pelukannya, baru Naya menceritakan hal yang membuat dia merasa terbebas dari dunia yang kejam "Akhirnya gue putus sama Rifan !". Ucap Naya antusias.
"Bagus dong !".
__ADS_1
"Iya, ini berkat lo yang ngasih tau bunda tentang Rifan, gue bakal balas budi ke lo apapun itu, pokoknya gue seneng banget". Dahi Anya mengerut.
Ngasih tau ? Anya tidak tahu apa-apa tentang ini ? Dengan orang tuanya Naya saja ia tidak pernah bertemu, Sepertinya Naya salah paham dengan dirinya.
"Nay kayaknya lo salah orang.. ".
Dosen kelas pertama mereka datang Naya kembali pada tempat duduknya sebelum dirinya berbicara, nanti saja lah ia berbicara dengan Naya.
Setelah berkutat dengan mata kuliah Anatomi yang mempelajari tentang segala macam organ dalam pada tubuh manusia, membuat perut Naya membutuhkan asupan makanan.
"Nya, Ren anter ke kantin bentar yu, gue laper tadi pagi lupa sarapan". Siren mengangguk, sejak kemarin Siren dan Naya sudah dekat, Naya merasa Siren adalah orang yang cukup asik jika di ajak berteman.
Anya yang serius sejak tadi memilih tidak ikut "Ayo lah Nya, lo tuh selalu gak mau di ajak keluar kalo kelas udah selesai". Anya menyimpan pulpen pada tempatnya, ia memilih ikut dari pada Naya yang terus mengoceh jika sudah seperti ini.
Seperti dugaan Anya jam-jam seperti ini kantin selalu penuh dan ia malas untuk masuk dalam gerombolan kaum kelaparan. "Kita suit gimana, yang kalah harus pesenin ?". Ucap Naya di gerbang kantin.
"Boleh". Siren mengangguk, Anya pun mengangguk terserah bagaimana temannya ini ia hanya mengikuti.
" Satu, dua, tiga". Ternyata Anya yang kalah. Sangat malas ia masuk ke sana tapi mau bagaimana lagi. "Lo pada mau apa ?".
Tanyanya
"Bakso sama es jeruk". Ucap Naya
"Kalo lo ?".
"Samain aja".
__ADS_1
Anya pergi pada lautan manusia di depannya, mengantri adalah budaya yang baik sebagai warga negara indonesia, setelah cukup kosong baru ia memesan pada mang-mang gerobak.
Saat akan membawa keseimbangan Anya hilang dan menumpahkan bakso pada seseorang, Anya melebarkan matanya bakso itu tumpah mengenai tangan Irana dan es jeruknya mengenai baju Devan.