Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
17 MABA


__ADS_3

Anya di pindahkan dari ruang UGD ke ruang rawat, kaca besar sebagai pembatas memperlihatkan betapa tidak berdayanya Anya saat ini, banyak alat medis yang menempel pada wajah dan tubuhnya.


Semua orang melihat dari kaca dan berharap keselamatan untuk Anya, bagi senior ini terlalu tidak mungkin untuk seorang Irana ia jadi harus melewati beberapa hal untuk kasus ini dan pasti berat bagi dirinya.


Di sisi lain memang hal yang dia lakukan sudah di luar batas keterlaluan bahkan hampir menghilangkan nyawa orang lain.


Devan kembali ke dalam rumah sakit melihat beberapa teman dan junior nya yang sedang duduk, Devan tahu mereka lelah dan ngantuk karena kejadian ini.


Devan mendekat dan mencoba berbicara "Kalian pulang aja biar gue yang tunggu Anya di sini, gue tau kalian pasti capek lagian udah malem gak baik buat cewek pulang malem ?".


Devan menoleh ke arah Ryan, "Lo anterin yang cewek ke rumahnya". Ryan mengangguk.


"Tapi Lo bener ga papa sendiri ?". Tanya Ryan, Devan menggeleng.


"Gue besok ke sini ya gantiin lo". Naya sebenarnya sangat ingin menjaga Anya tapi dirinya belum ganti baju sama sekali dari pagi dan itu membuat badannya gatal-gatal.


Devan mengangguk lagi, mereka pergi meninggalkan Devan yang memandang Anya dari kejauhan, dirinya masuk ke dalam ruangan itu sambil memakai baju pelindung.


Saat mendekat ke arah Anya hatinya lebih merasa sakit entah dirinya terlalu lebay atau bagaimana melihat Anya yang seperti ini seperti ada rasa kenapa harus dia yang seperti ini kenapa bukan dirinya.


Devan mencoba duduk ia melihat luka tusuk itu sudah mulai membaik.


Sampai kapan Anya akan seperti ini ?


kalimat itu terlintas dalam pikirannya, ia mencoba menggenggam tangan Anya yang dingin, tangan ini terlalu lembut untuk ia pegang, tangan ini tidak seirama dengan wajahnya yang selalu menampakkan raut judesnya


Kali ini ia menatap wajah sayu itu, jika boleh jujur selama ini dirinya tidak mengalami amnesia sama sekali karena tabrakan yang terjadi waktu itu.


Dirinya hanya akting dan berpura-pura, entahlah nalurinya membawa Devan pada Anya mungkin supaya lebih dekat dengan gadis ini. Anya memiliki wajah yang mungil mungkin dengan dia memiliki poni akan menambah kesan lucu dalam dirinya.

__ADS_1


Devan tersenyum memikirkan itu, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam dirinya benar-benar sudah merasa ngantuk padahal ia suka begadang tapi kali ini matanya terasa lebih berat.


...***...


Mata itu terbuka perlahan-lahan menyapu seluruh ruangan yang di dominasi oleh warna putih, Anya merasakan kepalanya sedang di hantam oleh batu yang sangat besar.


Tangannya tak sengaja memukul orang akibat rasa sakit yang di rasakan, di sampingnya ternyata ada seseorang yang sedang tertidur, orang itu sedikit terusik karena dirinya.


Anya sedikit melebarkan matanya, Devan ? Kenapa Devan ada di sini ? apa Devan yang menemani dirinya ?.


Kejadian tadi merasuki ingatan Anya, tentang Irana yang seperti orang kesetanan sampai menusuk dirinya dengan pisau, memang dasar Irana yang tidak memakai logika kenapa harus menjadi perempuan yang haus akan laki-laki.


Akibat tusukan tadi membuat dirinya sedikit meringis di tambah kepalanya sedikit pusing, Devan yang mendengar rintihan suara mulai terbangun.


"Kamu udah sadar Nya ?". Devan mengambil minuman di nakas sambil membantu Anya untuk minum.


Seperti ada yang salah dengan pendengarannya Anya mencoba mengulangi "Kamu ?". Devan terlihat seperti orang yang sedang malu karena dia membuang wajahnya ke arah lain.


Devan menggenggam tangan lembut ini untuk kedua kalinya, Anya kaget dengan apa yang Devan lakukan otaknya menyuruh untuk melepaskan tapi hatinya seperti ada tarikan untuk diam saja.


"Maafin gue karena kejadian tempo hari, gue bersikap begitu atas dasar sikap lo yang selalu terang-terangan tentang suatu hal, dari pada gue banyak ngoceh gue mau to the poin aja kalo gue suka sama lo".


Jantung Anya berdetak dua kali lebih cepat, tidak boleh dirinya tidak boleh terbawa dengan apa yang Devan omongin barusan.


Devan memegang dagu Anya, mereka saling memandang mencoba mencari rasa yang sama pada orang di hadapannya mencoba mencari tahu lebih dalam atas rasa ini yang seharusnya.


"Ini memang mustahil bagi gue buat suka sama lo karena sikap gue yang begini tapi kalo di tanya gue suka sama lo karena apa gue juga gak tau". Devan melepaskan pegangannya.


Menunduk untuk menemukan kebenaran atas rasa dirinya, saat menghembuskan nafasnya, "Karena gue rasa gue gak perlu alasan untuk gue suka sama lo, tapi gue cuman nyampein apa yang harusnya gue sampein, Lo gak perlu menjadikan rasa gue sebagai beban buat Lo".

__ADS_1


"Terus Lo maunya gue gimana ?". Jawab Anya tegas.


"Gue gak mau gimana-gimana cukup Lo tau aja itu ?". Jawab Devan, Anya terdiam cukup lama dirinya malah memandang siluet matahari yang mulai muncul karena pagi mulai kembali.


"Dev sini deh ?". Devan menaikkan alisnya.


"Bentar". Ucap Anya.


Devan mendekatkan wajahnya pada Anya membuat Anya tersenyum senang, kemudian Anya menghadiahi kecupan ringan di pipi Devan.


Devan tetap menampakkan raut cool di wajahnya berbeda dengan tubuhnya yang terasa tegang sekarang.


"Gue kira lo akan lama siumannya". Ucap Devan mengalihkan.


"Gue gak selemah itu buat tidur satu bulan, lagian gue tau Lo gak akan sekuat itu buat bertahan lama".


Devan memutarkan bola matanya, sifatnya yang di rasa kembali lagi membuat Devan merasa jengah tapi ia senang setidaknya Anya menerima dirinya kembali.


Dua orang paruh baya masuk ke dalam ruangan, mereka terlihat tergesa-gesa untuk melihat Anya.


"Astagfirullah sayang kamu kenapa ? kok kamu bisa begini ? Terus hubungin mamah sama papahnya baru sekarang lagi".


Terlihat jelas raut panik dari kedua wajah orang tuanya Anya, Anya yang malas dengan sikap mamahnya yang terlalu banyak bertanya malah membuat dirinya tambah pusing.


"Anya gak papa mah !". Mamahnya Anya melihat luka perban di samping perutnya.


"Kamu itu terlalu menganggap suatu hal itu hal sepele, kamu tau hal seperti ini adalah hal yang berat karena bisa ngebahayain nyawa kamu".


"Iya Anya kamu selalu susah kalo di bilangin". Ucap papah Anya.

__ADS_1


Devan terkejut ternyata Anya adalah anak dari om Wijaya dan tante Arin, mereka berdua adalah teman sekaligus kolega papahnya, Devan tahu karena dirinya pernah di ajak oleh papahnya saat acara universery kedua orang tuanya.


Om Monata adalah pemilik perusahaan yang terkenal oleh agen company nya yang bagus dan Tante Arin pun selalu diajak oleh suaminya kemanapun om Wijaya pergi.


__ADS_2