Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 10


__ADS_3

Sore harinya.


Hani mengambil beberapa buah Naga kemudian dia kupas dan di potong-potong. Dia memasukan potongan buah naga itu kedalam kotak dan menutupnya. Setelah itu dia memasukkannya ke dalam tas kertas yang di dapat saat pesan makan siap saji. Kemudian memasukkannya ke dalam tas yang lebih besar.


“Sudah beres.” Ucapnya.


Kemudian, dia membersihkan mejanya dan berjalan ke pos satpam untuk menemui pak Rian. Sampai di pos satpam Hani mencari keberadaan pak Rian yang ternyata sedang duduk di bawah bersama pak Herdi dan pak Yanto.


“Pak Riiaannn.” Panggil Hani.


“Iya mbak?”


Pak Rian tiba-tiba muncul di depan jendela pos satpam yang membuat Hani terkejut.


“Eh-eh kayak setan aja.” Gumam Hani.


“Kenapa mbak?”


“Anterin aku ke rumah sakit.”


Mendengar kata rumah sakit pak Rian, pak Herdi panik dan langsung keluar dari pos satpam di ikuti pak Yanto. Mereka memperhatikan Hani dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tetapi tidak menemukan apapun yang janggal. Sedangkan Hani kebingungan melihat tingkah mereka.


“Apa yang sakit mbak?” Tanya pak Herdi.


“Gak ada. Bapak siapa?” Tanya Hani dan menatap pak Yanto.


“Oh ini satpam baru. Pak Yanto namanya.” Jelas pak Herdi.


Hani tersenyum menyapa pak Yanto. Tetapi pak Yanto malah bengong melihat sisi sebelah kanan Hani. Hani yang penasaran ikut memeriksa apa yang pak Yanto lihat. Tetapi, Hani tidak melihat apa-apa di sana. Dia mengernyitkan kening dan menatap pak Yanto intens.


Pak Herdi yang melihat Hani seperti itu langsung menyenggol pak Yanto. Dan membuat pak Yanto tersadar dari dunianya. Dia menatap pak Herdi terkejut dan heran. Kemudian pak Herdi memberi kode untuk melihat Hani. Pak Yanto paham dan menyapa Hani.


Hani membalas sapaan pak Yanto dengan canggung karena penasaran apa yang dia lihat. Tapi Hani tidak ada banyak waktu untuk menyelidikinya.


“Ayo pak ke rumah sakit.” Rengek Hani.


“Apanya yang sakit mbak?” Tanya pak Rian khawatir.


“Gak ada. Pengen ketemu suster cantik. Mau kasih ini.” Ucap Hani sambil menunjukkan tas kertasnya.


Pak Rian sempat melongo memproses siapa yang di maksud Hani. Tetapi, tidak butuh waktu lama dia paham siapa yang dimaksud Hani. Kemudian, dia tersenyum lebar dan semangat mengantar Hani. Mereka pun menuju garasi mobil dan ingin segera berangkat.


Pak Yanto masih mematung sambil mengamati anak kecil di samping Hani. Anak kecil itu memegang baju Hani sambil mengekor. Pak Yanto penasaran sekali dengan anak kecil itu. Tubuhnya setengah membusuk tetapi ada putih-putih di rambutnya serta rambutnya terlihat kaku. Lagi-lagi pak Herdi menyadarkan pak Yanto dari dunianya.

__ADS_1


“Hus... anak majikan masih kecil. Ingat umur.” Ucap pak Herdi.


Dia pikir pak Yanto tertarik dengan anak pak bosnya itu. Pak Herdi tidak habis pikir jika benar pak Yanto menyukai anak yang jauh lebih muda darinya.


***


Di rumah sakit.


Hani sudah di sambut oleh suster cantik di depan loby. Dia langsung melingkarkan tanganya di lengan suster itu. Hani begitu menempel dengan suster itu. Mereka berjalan ke kantin rumah sakit di ikuti pak Rian di belakang mereka. Kemudian, Hani memberikan satu kotak berisi potongan buah naga itu kepada suster cantik.


“Ini buat suster cantik. Sehat sehat ya suster.” Ucap Hani.


Suter itu menerima sambil malu-malu. Hani duduk tepat di antara pak Rian dan suster cantik itu. Hani menatap mereka bergantian. Kemudian dia memulai rencananya.


“Suster... perutku sakit. Pengen eek.” Ucap Hani tiba-tiba.


“Oh! Iya yuk saya antar.”


“Gak usah. Kamar mandinya dimana?”


Suster cantik memberikan arahan kamar mandi kepada Hani. Setelah paham, Hani bergegas pergi dari sana. Tetapi dia di tahan oleh pak Rian.


“Kenapa bawa tas juga mbak? Taruh sini aja.”


“Eh pak. Ini sakitnya kayaknya bukan eek deh. Makanya aku haru bawa tas ini. “


“Mungkin mbak Hani mens. Kadang sakit sembelit sama mens itu beda tipis.” Jelas suster cantik.


Pak Rian mengangguk-angguk paham. Kemudian, dia tersenyum karena ada kesempatan langka kencan yang tidak terencana.


Di tempat lain.


Hani mencari dimana tempat rawat inap pak Deden papa Jaelani berada. Sebelumnya dia sudah bertanya kepada Jaelani melalui pesan. Padahal Jaelani melarangnya untuk datang. Tapi Hani masih kekeh untuk menjenguk. Lebih tepatnya bertemu Jaelani.


“Ini ya?” Gumam Hani yang sudah berdiri di kamar rawat inap VIP sesuai arahan Jaelani.


Beruntungnya Hani saat dia akan menelepon Jaelani. Anak laki-laki yang dia ingin temui itu keluar dari kamar.


“Wih udah kayak di sinetron aja. Kebetulan yang kebetulan eh?” Gumamnya.


Jaelani terkejut melihat Hani sudah berdiri di samping pintu. Untungnya Hani tidak menampakkan dirinya di depan pintu. Jika iya, mungkin Mia akan marah-marah lagi.


Jaelani buru-buru menarik Hani. Tampak jelas wajah khawatir Jaelani melihat Hani yang nekat itu. Seketika wajah Hani yang awalnya riang berubah menjadi sedih. Rasa itu kembali lagi. Rasa dimana merasa bersalah saat menatap Jaelani.

__ADS_1


“Hani... keras kepala banget sih.” Geram Jaelani yang tidak habis pikir dengan tingkah Hani.


Hani hanya mematung melihat Jaelani. Perasaannya saat ini sedang perang antara senang, bersalah dan kecewa karena di marahi Jaelani. Kemudian dia menundukkan kepalanya. Wajahnya kiri berubah menjadi datar. Saking kompleksnya perasaaan nya saat itu.


Kemudian, dia mengeluarkan tas kertas berisi kotak yang penuh dengan buah naga yang dia siapkan tadi. Dia memberikannya kepada Jaelani tanpa menatap wajahnya. Jaelani luluh setelah melihat perlakuan Hani.


“Lain kali gak usah kesini ya.” Ucap Jaelani lembut.


“Tapi aku merasa bersalah.” Ucap Hani masih menunduk.


“Gak ada hubungannya Hani. Emang udah waktunya aja.” Jelas Jaelani lembut.


Hani berpikir keras kenapa dia bisa merasa bersalah sebesar ini. Apakah ini karena Hani mengatakan bahwa papa Jaelani mendapat kiriman gaib dari rekan bisnisnya? Hani bertekat untuk menuntaskan rasa bersalah ini. Dia tidak ingin masalah berlarut larut. Awalnya karena hanya ingin bertemu Jaelani berubah menjadi rasa bersalah yang tidak tau asalnya dari perkara apa.


“Pokoknya, aku mau rasa bersalah ini selesai. Aku gak mau di hantui rasa bersalah. Titik” Tegas Hani.


Tiba-tiba Hani merasa merinding dengan ucapannya sendiri. Terlebih dengan kata Hantu. Dia merasa kakinya berat sebelah seperti ada yang bergelayut di sana. Dia mencoba menggerakkan kakinya yang terasa kaku dan berat itu.


“Kenapa Han?”


“Enggak kok. Aku balik dulu. Besok kesini lagi.”


“Di bilangin gak usah.” Ucap Jaelani tegas.


“Kalau ada apa-apa gimana? Aku yang kena lagi. Lagian aku gak enak sama orang tuamu. Dari dulu awal ketemu sampai sekarang kayaknya aku bikin masalah mulu. Main bawa kamu ke tempat-tempat bahaya.” Jelas Jaelani menyesal.


Jaelani mengingat dimana dia membawa Hani ke rumah Della, rumah sakit jiwa, kemudian pergi menemui Viola di rumah sakit dan semuanya berakhir di usir oleh keluarganya.


Hani tidak begitu mendengar ucapan Jaelani karena dia terlalu fokus melemaskan kakinya yang terasa berat dan kaku itu.


“Ihh kenapa sih ini?” Pikirnya.


“Kak takut. Kakak ular itu mau narik aku. Ekornya udah sampai sini.”


Hani tiba-tiba mendengar jelas suara Kiki anak kecil yang tidak kasat mata itu. Seketika Hani merasa semakin merinding. Kemudian, dia juga kesal karena Kiki takut dengan “kakak ular” itu tapi malah tadi menghasut Hani untuk kesini.


“Hantu labil bo...”


“ha?”


“Aku pergi dulu. Besok aku balik.” Ucap Hani sambil berjalan menyeret kakinya.


Jaelani heran dengan tingkah Hani yang aneh itu. Tapi hatinya berbunga-bunga mendapat buah segar yanag sudah di potong itu. Dia tersenyum hingga menampakkan lesung Pipit nya.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


~Terima kasih ya teman-teman yang sudah klik favorit, like, komen, votenya. Semoga cerita saya bisa menghibur kalian ☺~


__ADS_2