Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 26


__ADS_3

Di rumah Hani.


Hani memaksa budhe Inem untuk istirahat. Tapi budhe Inem tidak mau karena merasa ini sudah tanggung jawabnya untuk mengurus rumah. Karena kesal tidak di anggap. Hani menelepon Beni dan mengubahnya ke mode pengeras (loudspeaker),


Dalam telepon terdengar jelas bahwa Beni dan Ratih memperbolehkan budhe untuk pulang lebih awal. Lagi pula besok adalah hari minggu jadi rumah akan di bersihkan sendiri oleh keluarga Hani. Akhirnya budhe Inem menurut. Dia pulang lebih awal. Hani mengantar budhe Inem keluar, ternyata dia sudah di jemput oleh suaminya.


“Tadi ada apa sih mbak?” Tanya pak Herdi.


“Gak tau pak. Tiba-tiba budhe pingsan. Kayaknya kecapekan.” Ucap Hani.


Pak Herdi pun mengangguk. Dia tidak ingin memberi tau dugaannya ke pada siapapun untuk saat ini. Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir.


“Mbak Ini udah jam tiga. Mbak Hani jadi ke rumah sakit gak?” Tanya pak Rian.


Hani yang kelupaan mengabari Jaelani karena sibuk mengurus budhe, menjadi panik. Dia buru-buru masuk dan langsung menuju kamarnya untuk mencari ponselnya. Dia ingin mengajak Jaelani bertemu di tempat biasa. Kantin rumah sakit.


Sampai di kamar, tanpa berpikir panjang dia langsung menelepon Jaelani.


***


Jaelani baru saja memejamkan matanya. Tiba-tiba nada deringnya berbunyi. Nada dering khusus apabila ada telepon dari Hani. Buru-buru di bangun dan mengangkatnya. Karena itu Jaelani sedikit pusing.


“Hai...”


“Oh bisa Han. Oke, sampai jumpa nanti.”


Setelah telepon tertutup Jaelani menjatuhkan dirinya lagi. Dia menutup matanya selama tiga menit.


“Baru aja mau tidur. Halllah... kenapa susah banget bilang gak bisa.” Ucapnya frustasi.


Dengan berat hati, jiwa dan raga akhirnya Jaelani bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit.


Jaelani langsung tidur di sofa panjang di sana. Dia meletakkan kakinya di paha kakaknya yang sedang asik mengupas jeruk.


“Katanya kesini malam?” Tanya kakak Jaelani.


“Kangen sama aku ya? Makanya buru-buru datang.” Ucapnya lagi.


Jaelani tidak menjawab, dia malah menutup kedua matanya dengan lengan kanannya. Sedangkan kakak Jaelani tersinggung karena merasa di abaikan, dia mengoleskan kulit jeruk bagian dalam ke kaki Jaelani.

__ADS_1


“Woy kak!” Ucap Jaelani sambil menurunkan kakinya.


“Apa?” Bentak kakak Jaelani.


Situasi sudah memanas kala itu, itu pertanda perang saudara akan di mulai. Jaelani mulai duduk. Dia menatap tajam kakaknya. Sedangkan kakaknya tidak peduli, dia tetap fokus makan buah jeruk.


“Kak upil kakak gedhe banget.” Ucap Jaelani meledek.


Seketika kakaknya tersedak, karena dia ingin menjawab ucapan Jaelani. Bukannya mengambilkan minum, Jaelani malah berjoget ria di depan kakaknya.


Melihat adiknya berjoget di depannya membuatnya sebal. Dia segera berlari kecil ke meja kecil di dekat mamanya dan meminum air langsung dari botolnya. Setelah dia sudah tidak tersedak. Dia kembali ke Jaelani dengan air yang tersisa sedikit di mulutnya.


Byur!


Kakak Jaelani menyemburkan air dari mulutnya ke Jaelani yang tengah asik berjoget. Saat itu juga Jaelani berhenti, dan pertengkaran terjadi.


Mia dan Deden hanya menonton anak-anaknya bertengkar sudah lama rasanya mereka tidak melihat anak-anaknya seperti itu. Beberapa bulan yang lalu. Kakak Jaelani memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena sedang mengerjakan skripsi. Biasanya satu minggu sekali dia rutin pulang. Tetapi, setelah kejadian ini, dia terpaksa pulang untuk membantu ibunya.


Drrrt drrrt


Ponsel Jaelani berbunyi. Ada pesan masuk, tanpa memberhentikan pertengkarannya dengan kakaknya dia membuka ponselnya berharap dia mendapat pesan dari Hani. Tetapi, ternyata pesan itu dari Galih. Sedangkan kakaknya yang melihat adiknya mulai fokus ke ponsel dia langsung merebut ponselnya.


Drrtt drrrt


Ponselnya berbunyi lagi dan layarnya menyala. Melihat ada foto Hani tersemat di sana. Jaelani buru-buru menangkap tangan kakaknya dengan kasar hingga kakaknya merintih kesakitan.


“Sakit dek!” Rintihnya.


“Makanya jangan jail.” Ucap Jaelani sewot.


Jaelani langsung duduk dan membaca pesannya. Senyumnya memerkah karena membaca pesan dari Hani. Tidak lama, Jaelani bangun dari duduknya. Dia minta ijin ke kantin untuk beli makan.


“Ikut.” Ucap kakak Jaelani.


Jaelani menolak dengan tegas. Dia beralasan masih marah dengan kakaknya yang jail. Tetapi, itu tidak membuat kakaknya menyerah. Kakak Jaelani masih bersikeras untuk ikut bahkan dia kini sudah berada di depan pintu bersiap keluar.


“Ayok!” Ajak Kakak Jaelani.


“Dih males.”


Kemudian terjadi pertengkaran kecil lagi. Mia yang sudah lelah pun melerainya.

__ADS_1


“Kalian! Sudah cukup!” Tegas Mia.


Seketika Jaelani dan kakaknya berhenti bertengkar. Mereka kini berdiri sejajar menghadap Mia.


“Udah gede tetep berantem aja. Baikan sekarang.” Tegas Mia.


Mereka pun baikan dengan bersalaman dan saling minta maaf. Tetapi hanya tangan dan ucapan saja. Wajah mereka masih cemberut semua dan kaki mereka masih saling menendang kecil.


“Udah?” Tanya Mia.


“Udah ma.” Jawab Jaelani dan kakaknya serentak.


“Ya udah. Kalau mau ke kantin bareng sana.” Ucap Mia.


Jaelani segera berpikir bagaimana caranya agar kakaknya tidak ikut ke kantin. Dia tidak ingin mendapat omelan dari kakaknya karena bertemu Hani. Dia pikir kakaknya akan bereaksi seperti mamanya. Sepintas ide datang.


“Aku beliin deh. Kakak mau beli apa?” Ucap Jaelani manis.


Mendengar ucapan itu Kakaknya merasa kegelian. Dia mengrenyitkan dahinya dan menatap adiknya intens. Dia sudah hapal dengan tingkah adiknya.


“Pasti ada sesuatu nih.” Pikir Kakak Jaelani.


“Mau beli ini, itu, semuanyaaa.” Ucap kakak Jaelani.


“Beneran?” Tanya Jaelani datar.


“Ya enggak lah! Udah ayoo.”


Kakak Jaelani menarik tangan Jaelani keluar. Dia sangat penasaran apa yang sedang di sembunyikan oleh adiknya itu. Dia menatap adiknya intens, mengamati dengan seksama ekspresi adiknya. Selama perjalan Jaelani terus memikirkan cara bagaimana menghentikan kakaknya.


“Sebenarnya ada apa sih?” Pikir Kakak Jaelani dengan serius hingga dahinya berkerut.


Merasa di perhatikan dengan intens Jaelani reflek menoleh. Melihat kakaknya memasang wajah serius membuat Jaelani kelabakan dan tidak bisa berpikir.


“Duh! Kenapa sampai segitunya sih?” Pikir Jaelani


“Ayo cari cara!” Pikirnya lagi.


Kakak Jaelani yang sudah tidak tahan dengan sikap adiknya mulai  geram. Akhirnya dia pun bertanya dengan wajah yang serius.


“Sebenarnya ada apa sih?”

__ADS_1


__ADS_2