Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
78


__ADS_3

Di rumah Galih.


“Gilaa?! Kenapa bisa seperti itu? Kan aku cuma cerita kamu kalau aku sebenarnya pelakunya! Cuma kamu yang tau kalau aku yang membunuh Nana.”


“Oke. Di rumah ku aja, kebetulan papa juga ada di rumah nanti malam.” Ucap Galih.


Ketakutan Galih akhirnya terjadi juga. Ada orang yang membocorkan informasi pribadinya. Tapi siapa? Jika di ingat-ingat kembali Galih hanya mengaku kepada Jaelani. Dia tidak pernah cerita sedikit pun kepada yang lain, meski dulu dia pacaran dengan Viola dan dekat dengan Della juga. Apa lagi Hani? Dia ingat betul jika dia tidak dekat dengan Hani karena baru masuk saja Hani sudah di hindari banyak orang.


“Sial! Siapa sih yang membocorkan rahasiaku. Sepertinya dunia tidak mendukungku untuk berubah menjadi lebih baik. Sepertinya dunia mendukungku untuk berbuat lebih jahat lagi.” Ucap Galih kesal.


Galih sangat kesal hingga memukuli sofa di ruang tamu rumahnya. Setelah selesai melampiaskan amarahnya. Dia menyenderkan diri dan mendongak ke atas agar lehernya lemas. Dan tiba-tiba dia melihat Gio di depan matanya.


“Woah?! Abang.” Ucap Galih panik.


Gio menatap datar adiknya. Kini dia tau, kenapa orang tuanya merekomendasikan Jaelani untuk bantu-bantu di kafe. Dia juga tau kenapa orang tuanya sangatlah baik kepada Jaelani dan keluarganya. Dengan dinginnya Gio duduk di samping Galilh. Gio benar-benar kecewa karena baru tau hal ini. Selama ini yang dia tau, pelaku sebenarnya adalah Tony dan sedang menjadi buronan.


“Jadi itu sebabnya keluarga kita baikin Jaelani.” Ucap Gio.


Galih tertunduk diam. Dia tidak bisa berkutik. Dia lebih takut kepada Gio di banding dengan papanya. Karena kesehariannya dia selalu bersama kakaknya Gio. Galih sangat beruntung memilki kakak seperti Gio. Dia di sayang, di perhatikan, dan juga sering di ajak bercengkrama agar tidak merasa kesepian. Dulunya memang Gio sama seperti Galih. Tapi sekarang dia berubah. Dia tidak ingin menempuh jalan salah lagi.


“Dek! Itu bukan karena dunia menginginkanmu untuk menjadi jahat lagi. Tetapi, Tuhan sedang memberimu ujian agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini dengan cara yang benar. Tapi....” Ucap Gio terpotong.


Gio menghela napas panjang. Dia menatap adiknya tidak tega tapi dia harus melakukannya. Dia pikir Galih sudah cukup bisa memilih mana yang terbaik untuknya. Yang Gio bisa lakukan hanyalah menuntunya ke jalan benar. Tapi, jika Galih memilih jalan lain. Itu sudah keputusan dia sendiri.


“Tapi, jika kamu tetap memilih jalan yang itu. Maaf, aku... bisa saja menjaga jarak denganmu meski kamu adalah adikku.” Ucap Gio.


Galih mematung mendengar ucapan kakaknya. Dia lebih takut kehilangan kakaknya di banding kehilangan papanya. Meski dia sering di manjakan oleh papanya dengan di turuti semua kemauannya. Tapi Galih tidak mendapat cukup kasing sayang darinya. Terlebih papanya sering sekali mengecewakan Galih ketika Galih meminta waktunya untuk sekedar bercengkrama bersama keluarga.


“Kak... Mana bisa aku mengaku kak? Masa depanku akan hancur. AKU JUGA INGIN KULIAH, BEKERJA DAN MENIKAH.” Ucap Galih.


“Tidak ada yang tau masa depan. Ada dua hal yang akan terjadi, Kamu hancur dan bangkit menjalani hidup baru, atau kamu selalu merasa bersalah dan memikirkan jalan keluar dari satu masalah yang sama. Sedangkan semakin kamu dewasa, masalah akan semakin banyak yang datang. “


“Menikah? Bekerja? Meskipun kamu hancur, kamu akan mendapat seseorang yang dapat menerimamu. Di dunia ini masih banyak kok  orang baik yang mau mengapresiasi perubahanmu. Asalkan kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar berubah.”


“Atau kamu mau bekerja dan menikah dengan menyembunyikan identitas aslimu. Dan suatu saat akan BOM!!! Meledak. Mereka semua akan tau bagaimana aslimu. Belum tentu juga mereka mau menerimamu. Semua sama-sama berat, tinggal kamu memilih yang mana?”


Ceramah Gio menyadarkan Galih. Sungguh ucapan Gio dapat membuat adiknya ini selalu luluh. Dia selalu di buat nyaman dengan penjelasan Gio. Galih merasa sangat beruntung memiliki Gio dan akhirnya dia memilih untuk jujur dan menerima apapun resikonya. Asalkan ada Gio di sisinya itu sudah cukup.


***

__ADS_1


Beberapa jam berlalu.


Sekarang waku sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Jaelani sudah duduk santai di ruang tamu rumah Galih. Dan tidak hanya Jaelani, ada Galih, Gio dan papa mereka. Gio sengaja ikut ke dalam percakapan ini untuk menemani Galih jika saya Galih mulai goyah.


“Jadi, temen kamu tau dari mana Jae tentang pemalsuan kesaksian?” Tanya papa Galih.


“Gak tau om. Dia itu tau dari informan papanya. Dan setahu saya papanya itu pengusaha yang cukup sukses tapi gak banyak orang tau wajahnya. Dia itu bekerja di balik layar gitu.” Jelas Jaelani.


“Coba jelaskan kayak gimana temenmu itu.”


“Dia orangnya mandiri. Dia di latih disiplin dan mandiri sejak dini. Bahkan sekarang, dia gak tinggal sama orang tuanya. Dia tinggal di tempat kos sendiri. Dia baru boleh pulang kalau hari libur, eh pokoknya gitu lah om. Padahal jarak rumahnya dari sekolah gak jauh jauh amat gak sampai melewati beberapa kota. Ini orangnya om.” Jelas Jaelani sambil menunjukkan media sosial Ilham.


Papa Galih memeriksa dan mengambil tangkapan layar media sosial Ilham dan meminta Jaelani mengirimnya ke nomor Galih. Dan kemudian di kirimkan ke nomornya. Dia ingin melacak siapa orang yang membocorkan rahasia besar ini.


Tung!


Begitu foto tangkapan layar itu sudah masuk di ponsel Galih. Semua menatap ke Galih. Dan dia semakin ragu akan pilihannya. Tapi, Gio masih berusaha untuk menuntun adiknya memilih jalan yang benar. Berkali-kali kakinya menyentuh kaki Galih agar dia tidak goyah.


“Ayo! Kirim ke papa. Biar papa lacak!” Ucap papa Galih geram.


“Engak pa. Gak usah di lacak.”


“Apa?!” Papa Galih sudah naik pitam.


“Hah...” Galih mengembuskan napas panjang.


Antara lega dan khawatir tidak bisa di bedakan. Galih bingung dengan perasaannya sekarang. Itu semua terlihat jelas di wajah Galih. Jaelani dan Gio memperhatikannya dengan seksama. Gio sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia anggap ini sudah pilihan Galih dan dia bersiap untuk mulai jaga jarak dengan adik semata wayangnya itu. Dan tidak di pungkiri raut wajah kecewa tercetak jelas di sana.


“Aku salah ya?” Pikir Jaelani.


Memang Jaelani sedang berada di posisi kemanapun dia pergi. Dia tetap salah. Karena dia sudah terlanjur terlena oleh jalan yang tidak berujung. Baik itu kebaikan dan keburukan pasti akan berlanjut tanpa ujung bagi Jaelani.


“Tapi, aku harus mengambil jalan ini demi bisa kuliah. Ingat Jae papamu sudah mulai bangkrut. Bahkan kakakmu memilih pulang dan mengerjakan skirpsinya secara daring.” Pikir Jaelani sembari menyemangati dirinya sendiri meski dia tau ini jalan yang salah.


***


Beberapa Hari berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan Jaelani tidak berani menghubungi Hani. Di sekolah pun dia banyak mengalihkan pikiran dengan menjadi siswa yang rajin. Dia juga berusaha sebisa mungkin agar tampil biasa saja dengan Ilham agar teman sebangkunya itu tidak curiga.


“Wih! Jadi siswa yang rajin nih ihuuu. Ciyyee... Anggi makin kesemsem tuh.” Ucap Ilham.

__ADS_1


“Hmmm?”


Yah semua sedikit berubah demi mengalihkan pikirannya. Kecuali, ketika membahas tentang Anggi. Sikapnya masih sama. Karena dia tidak ingin menyakiti hati perempuan hanya karena memberi harapan palsu. Dia sangat menghargai perempuan terlebih kakaknya dan mamanya.


“Eh! Yan ini tetep ya sedingin kutub.” Sahut Ilham.


Jaelani hanya memutar matanya malas. Ingin sekali menjitak kepala Ilham tapi dia berusaha menahanya, dan ternyata tangannya dan otaknya tidak bisa bekerja sama. Tangannya sudah bergerak duluan menjitak kepala Ilham.


Pletak!


“Adohhh!” Teriak Ilham.


“Sakit mblo.” Ucap Ilham sambil membalas jitakan Jaelani lebih keras.


Dan terjadilah baku hantam ringan di antara mereka. Dan mereka baru berhenti ketika mereka sama-sama merasakan ada ponsel begetar di meja.


“Hape siapa tuh?!” Ucap Iham.


Mereka sama-sama mengecek ponsel masing-masing. Dan Ilham melihat ponselnya sudah berada di mode sunyi. Jadi itu pasti ponsel Jaelani kan. Saat Ilham ingin meperingatkan Jaelani, Ilham terkejut dengan ekspresi teman sebangkunya  itu.


“Jae!” Panggil Ilham dengan sengaja sedikit keras di telinganya.


“Nanti aku ikut ke kosmu ya.” Ucap Jaelani tiba-tiba.


Ilham bingung, tapi dia tidak bisa menolaknya. Dengan senang dia membicarakan permainan yang akan mereka mainkan di sana. Ilham baru saja membawa PS ke kosannya. Sedangkan Jaelani lega karena dia baru saja membaca pesan dari Galih bahwa papanya sudah mengetaui siapa yang membocorkan rahasianya yaitu pengacaranya sendiri.


Ternyata pengacara Galih di suap oleh seseorang suruhan papa Ilham agar membeberkan rahasia kasus Ilham. Papa Galih sangat kecewa dan memberikan pelajaran ke pengacara itu. Dan kini, dia berusaha membungkam Ilham dengan menjadikan Ilham sandra. Galih masih berusaha menahan papanya di bantu Gio. Galih benar-benar sadar dan ingin melewati jalan yang benar. Dia juga meminta bantuan Jaelani untuk membungkam Ilham secara halus agar rahasianya tidak tersebar kemana-mana.


Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Akhirnya bel pulang sekolah menggema di sekolah SMA 18 Jaelani dan Ilham sudah bersiap berjalan menuju kos Ilham. Sepanjang perjalanan Jaelani di hantui rasa was-was. Jaelani juga memikirkan cara bagaimana agar Ilham mau tutup mulut demi keamanan dirinya sendiri.


Dan akhirnya mereka sampai. Saking sibuknya melamun Jaelani terkejut bahwa mereka sudah sampai. Dia bahkan grogi hingga tidak sadar tersandung saat masuk kedalam kos. Ilham menenrtawakan temannya itu dengan puas.


“Kenapa pak? Rabun jauh?” Ucap Ilham sambil tertawa terpingkal-pingkal.


“Hiih.” Kesal Jaelani dan berdiri.


Drtt Drrtt


Ponsel Jaelani berbunyi. Dia membaca pesan di layar ponselnya hingga melonggo karena tidak percaya. Perasaannya hancur seketika membuatnya lemas dan kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


“Kenapa Jae? Masak kesandung doang sampek mau pingsan.” Ucap Ilham,


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~


__ADS_2