
Keesokan harinya.
Hani bangun dengan badan yang pegal-pegal. Dia tidak bisa tidur nyenyak akibat mimpi buruk tadi malam. Hani memutuskan untuk jalan-jalan di halaman depan sambil berolahraga ringan. Hingga akhirnya Hani berhenti di depan pos satpam dan duduk di kursi panjang.
“Hoam.”
Hani menguap karena masih mengantuk. Tapi, meski dia tidur lagi. Tidurnya tidak akan nyenyak. Dia berencana akan membayar tidurnya yang tidak nyenyak tadi malam dengan tidur siang nanti.
“Mbak Hani.” Panggi pak Yanto.
“Loh pak Yanto yang jaga sekarang?” Tanya Hani basa-basi.
Pak Yanto mengangguk dan duduk di dekat Hani. Mereka pun akhirnya berbincang-bincang. Karena sudah dekat Hani tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya kepada pak Yanto.
“Pak Yanto, bisa lihat anak kecil itu?”
“Iya mbak. Wajahnya lusuh kayak gak kerawat gitu. Tangan dan kakinya banyak luka seperti cambukan. Rambutnya pendek dan kumal mbak.”
Tanpa di minta pak Yanto menjelaskan secara detail bagaimana penampakan Kiki yang dia ketahui. Pak Yanto sudah tau jika Hani pasti penasaran bagaimana sosok anak kecil yang menggangunya itu.
“Pak Yanto bisa bicara sama dia?” Tanya Hani lagi.
“Iya.”
“Emmm... gitu, pak Yanto bisa lihat kayak gitu mulai kapan pak?”
Pak Yanto pun menceritakan kisah masa lalunya yang kelam itu. Hingga dia di jauhi oleh teman-temannya waktu kecil dulu. Hani mendengar itu meneteskan air mata seakan-akan dia pernah berada di posisi itu. Perasaan di jauhi, di benci dan tidak di anggap itu seperti membekas di dalam hatinya. Ibarat luka yang belum kering, kemudian gatal dan digaruk hingga luka itu terbuka lagi. Rasanya sakit hingga menyesakkan dada.
“Loh mbak Hani kenapa nangis?” Tanya pak Yanto panik.
“Gak tau... aku merasa kayak aku pernah mengalami itu.” Ucapnya bergetar.
Saat Hani menangis pak Rian datang dengan rambut yang acak-acakan dan kaos yang kusut. Pak Yanto terkejut kenapa pak Rian selalu datang di saat yang genting seperti dia memiliki alarm ketika Hani kesakitan.
“Mbak Hani kenapa nangis di sini?”
“Itu, saya tadi cerita. Terus dia nangis pak.” Jelas pak Yanto.
Kemudian, pak Yanto menjelaskan apa yang terjadi barusan. Seketika pak Rian terkejut ternyata pak Yanto pernah mengalami hal yang di alami Hani semasa sekolah di SMA Dahlia. Pantas saja Hani menangis karena memang merasakan apa yang di rasakan pak Yanto.
Tidak lama kemudian bel berbunyi bahwa budhe Inem sudah datang. Pak Yanto langsung membukakan gerbang dan membantu budhe Inem membawakan beberapa belanjaannya.
Sampai di depan pos budhe Inem terkejut melihat Hani menangis sesengukkan. Dia bertanya kepada pak Rian. Dan pak Rian pun mejelaskan cerita pak Yanto dengan versinya. Tanpa berpikir panjang budhe Inem langsung memeluk Hani dan mencoba menenangkannya. Kemudian dia membawa Hani masuk dan pak Rian yang membawa belanjaannya. Kini pak Yanto merasa bersalah karena telah bercerita. Dia pikir Hani adalah anak yang terlalu sensitif.
__ADS_1
“Aduh... baru beberapa hari udah bikin anak pak bos nangis. Alamat kena teguran gak ya?” Gumam pak Yanto.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Pak Herdi sudah datang dan pak Rian sudah rapi untuk bersiap mengantar Beni dan Ratih. Sedangkan pak Yanto memilih untuk tidur sebentar di mes yang di sediakan oleh pak Beni untuk pegawai laki-laki.
“Mas Herdi, ternyata pak Yanto itu penuh dengan kejutan.” Ucap pak Rian.
“Ada apa?”
“Pertama, Yanto itu usianya ternyata masih dua puluh lima.”
“Loh? Tak kira seumuran mu. Namanya itu loh, kayak nama orang jaman dulu.” Jelas pak Herdi.
“Nah kan, sama. Aku juga berpikir gitu sebelumnya. Kedua, Yanto itu ternyata punya indra keenam kayak mbak Hani dan masa lalunya sama kayak kejadian mbak Hani kemarin. Tuh...” Seru pak Rian.
Pak Herdi mengangguk-angguk sedikit melongo. Ternyata memang pak Yanto itu penuh dengan kejutan. Dan sekarang dia memutuskan memanggil Yanto tanpa ‘pak’ karena ternyata usianya jauh di bawahnya yang mana pak Herdi usianya empat puluh dua tahun.
Kerena penasaran pak Herdi bertanya darimana pak Rian tau semua itu. Dan pak Rian pun menjelaskan kejadian kemarin saat pak Yanto berteriak kepada Hani dan juga kejadian tadi hingga membuat Hani menangis. Saking asiknya mengobrol mereka tidak sadar jika Beni dan Ratih sudah siap untuk berangkat kerja. Sekarang Beni dan Ratih lebih sering berangkat lebih awal.
“Ehem... ceritanya seru banget pak.” Ucap pak Beni.
“Eeh, bapak. Siap berangkat sekarang pak.” Ucap pak Rian dan berlari kecil menuju mobil.
“Lagi cerita apa sih mereka?” Gumam Beni.
Di dalam rumah.
Hani masih memikirkan dari mana rasa sedih itu muncul? Kenapa Hani merasa seakan-akan pernah mengalaminya? Dia berpikir hingga keningnya berkerut dan bibirnya manyun.
“Mbak jangan melamun.” Ucap budhe Inem sambil membawa baju kotor dari kamar.
“Budhe, pernah gak budhe itu merasakan hal yang kayaknya belum pernah budhe rasakan?” Tanya Hani.
Budhe Inem kebingungan dengan pertanyaan Hani. Baginya pertanyaan itu terlalu berbelit. Dia berhenti sejenak untuk menangkap inti pertanyaan itu.
“Gini loh budhe. Misalnya budhe nonton sinetron. Terus budhe ikut nangis gitu karena bisa merasaka apa yang di rasakan si akrtis, padahal kan budhe gak pernah hidup kayak yang di cerita itu.” Jelas Hani pajang lebar.
Akhirnya budhe Inem mengerti maksudnya. Dia mengangguk paham. Dan dia mengatakan itu hal biasa karena hati perempuan itu terlalu lembut dan sensitif makan hal itu wajar terjadi. Hani mengangguk paham. Ternyata hal semacam itu wajar terjadi. Dia pun memakan sarapannya.
“Tapi, rasanya kok kayak nyata gitu ya? Kayak bener-bener pernah ngalami.” Gumamnya.
__ADS_1
Hani memakan sarapannya hingga habis. Setelah itu, dia bergegas ke ruang tamu untuk menanti guru privatnya datang. Awalnya dia lupa, tapi setelah sampai di ruang tamu dia baru ingat percakapan kemarin.
“Duh! Kenapa aku jadi pelupa sih?” Ucapnya sambil menggeleng-geleng.
“Ah iya!”
Hani mengingat sesuatu. Dia langsung berlari keecil ke pojokan ruang tamu untuk melihat apakah benar kertas itu jadi tercoret seperti ucapan budhe Inem kemarin. Dan ternyata benar, kertas itu sudah tercoret seperti benang kusut. Bahkan tidak hanya di kertas saja. Coretan itu juga sampai di lantai sekitar keras itu.
“Wah bener ternyata?” Ucap Hani kagum.
Dia mengambil kertas itu dan membolak-balikkannyya memastikannya.
“Kakak tidak belajar hari ini?” Tanya Kiki.
“Hah!”
Hani terkejut, reflek dia menoleh mencari keberadaaan Kiki. Namun, dia lupa lagi kalau Kiki tidak bisa dia lihat. Dia pun berdiri sambil membawa alat pensil yang di lantai itu. Dia ingin mengambil lap basah untuk membersihkan lantai itu.
“Enggak, aku belajarnya nanti sore. Kamu mau ikut belajar sore apa pagi?” Ucap Hani sambil berjalan.
Dia sudah terbiasa sekarang. Meski kadang masih ada rasa takut dan merinding yang datang tiba-tiba.
“Gimana?” Tanya Hani sambil membasahi kain.
Dari jauh budhe Inem hanya memperhatikan Hani yang berjalan sambil bicara sendiri.
“Nanti aja deh.” Jawab Kiki.
“Ngobrol sama siapa mbak?” Tanya budhe Inem.
Hani terkejut dan bingung mencari alasan.
“Hahahaha.”
Suara tawa Kiki menggelegar. Hani semakin panik takut budhe Inem pingsan lagi. Tapi, sepertinya budhe Inem tidak mendengar itu?
“Mbak?”
“Ah itu budhe lagi ngikutin dialog drama yang lagi viral itu hehe.”
Budhe Inem dan tersenyum saja. Karena dia juga tidak tau apa yang sedang viral saat ini. Hari-harinya sudah sibuk dengan pekerjaan.
“Dia gak akan dengar aku ngomong apa. Kalau aku gak pengen dengerin suara ku ke dia kak.”
__ADS_1
“Ooo jadi yang dengar Cuma aku aja.” Gumam Hani.
~Untuk teman-teman teruwah 😉 terima kasih masih stay. Maaf saya tidak bisa up date setiap hari. Saya berterima kasih juga buat teman-teman yang menambahkan novel saya ke favoritnya 😍. Sampai jumpa di episode selanjutnya👋~