Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
80


__ADS_3

Di tempat lain.


Hani sedang berkemas untuk pulang. Dia bisa pulang cepat karena kondisinya yang membaik dengan cepat juga. Dalam diam, Hani terus memperhatikan keadaan sekitar. Sudah terlalu lama baginya tidak mendengar suara Kiki. Selama di sana, dia hanya mendengar suara orang menangis, bayi menangis, langkah kaki bahkan kadang mendengar seperti ada anak kecil di berlari di luar lorong pada tengah malam.


“Kenapa Kiki sudah menghilang? Apa papa mama obatin aku ke orang pintar lagi selagi aku gak sadar kemarin?”


Dua pertanyaan itu sering muncul di benak Hani. Ingin sekali Hani menanyakan itu kepada orang tuanya. Tapi, dia takut jika orang tuanya akan khawatir dan dalam bahaya ketika tau jika Hani berhubungan dengan makhluk tidak kasat mata itu.


“Permisi, dengan mbak Hani? Ini saya bawakan kursi roda.” Ucap suster yang sudah masuk ke dalam ruangan itu tanpa Hani ketahui karena terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Loh sus, papa mama saya mana?”


Hani tiba-tiba bingung karena tidak melihat Ratih dan Beni di sana, jelas-jelas dia hanya memunggungi mereka sebentar untuk memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas. Mata Hani menatap sekitar untuk mencari keberadaan orang tuanya, dan ketika dia kembali menatap suster betapa terkejutnya dia. Suster itu sudah tidak ada di sana.


“Loh?! Mana suster tadi?” Ucap Hani mulai panik.


Puk!


Tiba-tiba ada yang menepuk punggung Hani, dan seketika itu pandangan Hani gelap selama sedetik. Setelah itu, dia terkejut karena posisinya berdiri berbeda. Sekarang dia menatap ranjang seperti semula tadi. Matanya melotot seakan tidak percaya apa yang terjadi barusan.


“Hani....”


Terdengar suara samar-samar seperti suara Ratih. Hingga suara itu akhirnya terdengar lebih keras dan Hani pun sadar bahwa Ratih benar-benar memanggilnya. Dia langsung menoleh ke sumber suara.


“Kamu kenapa?” Tanya Ratih khawatir melihat ekspresi Hani.

__ADS_1


“Hah?”


“Kamu kenapa?”


Hani linglung sesaat memastikan bahwa yang dia lihat itu benar-benar mamanya. Dia juga mengkedip-kedipkan matanya dengan cepat sambil mulutnya komat-kamit membaca doa.


“Haniii.” Ucap Ratih lebih keras.


Hani pun bernapas lega, dia yakin bahwa yang ada di depannya adalah Ratih. Dia pun tersenyum canggung agar mamanya tidak mencurigainya. Tapi, Ratih sudah paham kenapa Hani seperti ini. Dia hanya tersenyum dan menepuk pundak Hani pelan sambil berkata.


“Jangan melamun Han, fokus.” Ucap Ratih lembut.


“Oh iya, yuk udah di bawa in kursi roda nih sama suster. Katanya ini standar prosedur dari rumah sakitnya. Si pasien harus duduk di sana di antar ke kendaraanya.” Jelas Ratih.


Hani semakin bingung, jadi yang terjadi ini apa? Apa ini nyata? Tapi kenapa rasanya sangat aneh bahkan membuat bulu kuduk Hani merinding. Dengan pikiran masih bingung, Hani berjalan menuju kursi roda dan duduk di sana sambil memikirkan apa yang terjadi barusan. Rasanya sangat membuat Hani tidak nyaman hingga tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


“Syukurlah, kita bisa pulang.” Ucap Ratih.


Hani tersenyum mendengar itu. Ratih yang memperhatikan Hani dari kaca spion depan juga ikut tersenyum. Mereka pun memulai perjalanannya. Perjalanannya sangat lambat, karena Hani memang meninta Beni untuk berjalan pelan agar Hani bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan pulang. Rasanya sudah lama sekali Hani tidak keluar.


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah. Gerbang di buka dengan sangat antusias oleh pak Herdi. Bahkan ada pak Yanto juga di sana. Ada budhe Inem dan juga pak Rian di sana menyambut kedatangan keluarga kecil ini. Sederhana sih, tapi membuat Hani senang karena merasa diperhatikan.


“Ihh... ada pak Yanto juga ma.” Ucap Hani antusias.


“Iya, ya.”

__ADS_1


Begitu masuk Beni memberhentikan mobil di depan mereka. Beni membuka kaca mobilnya. Hani menyapa dengan riang mereka semua. Mereka juga ikut tersenyum karena melihat Hani yang ceria ini.


“Mbak Hani selamat datang di rumah.” Ucap pak Yanto.


“Terima kasih pak Yanto.”


“Mbak Hani ada serpres di dalam mbak.” Ucap budhe Inem.


Hani terkekeh mendengar pelafalan budhe Inem. Saking senangnya dia turun dari mobil dan memeluk semua orang yang berdiri di sana satu persatu. Ratih pun ikut turun, sedangkan Beni melajukan mobil ke tempat parkir.


Setelah pak Herdi menutup gerbang, Hani mengajak mereka semua masuk. Hani sangat senang dan ingin menjamu semua orang di sini. Entah apa alasannya mereka seperti ini? Yang jelas mungkin ini hari terbaik bagi Hani.


Sampai di ruang tamu. Hani terkejut, ada boneka beruang besar berwarna ungu di dudukan di sofa ruang tamu. Dan juga ada beberapa mainan kecil di sana. Hani melongo melihat itu. Kenapa ada banyak mainan di sana.


“Serpres mbak Hani. Kita beliin ini buat mbak Hani. Soalnya akhir-akhir ini mbak Hani sering beli mainan sampai numpuk di kamar. Jadi kita beli beberapa mainan yang bisa di mainkan bersama seperti ular tangga, monopoli ini.” Ucap budhe Inem.


“Ini sebagai cara kita bersyukur karena mbak Hani sudah ingat kembali. Kita tau mbak Hani pasti kesepian di rumah. Jadi kita beliin ini.” Sahut pak Rian.


“Kita bisa main sama-sama mbak kalau mbak Hani mulai bosen. Sambil nunggu pendaftaran masuk sekolah umum mbak hehe. Atau mbak Hani bisa juga main sama mas Jaelani. Uhem uhem.” Sahut pak Herdi.


Hani tersenyum mendengar cara pak Herdi berdehem. Semua terlihat bahagia hari ini. Hani menatap beberapa mainan yang ada di sana. Dia ingat jelas kenapa dia menumpuk mainan di dalam kamar. Itu karena Kiki, agar Kiki tidak mengganggunya. Tapi, orang lain berpikir Hani kesepian. Yah, memang dia kesepian tetapi dia tetap gadis remaja anak SMA yang tidak tertarik dengan hal seperti ini. Dia lebih tertarik dengan beberapa konten di ponselnya yang sesuai dengan usianya.


“Nanti malam kita makan bareng yah. Semua harus datang yah. Budhe Inem sama pak Herdi boleh ajak keluarganya sekalian., pak Rian juga boleh ajak suster Sari. Emmm pak Yanto....” Ucap Ratih terputus karena dia belum tau sepenuhnya tentang pak Yanto.


“Saya jomblo buk.” Ucap pak Yanto sambil tersenyum bangga.

__ADS_1


Lagi-lagi semua tertawa karena hal sederhana seperti ini. Ini sangatlah menyentuh. Hingga membuat Hani hampir menangis. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal, entah apa itu. Rasanya seperti sangat dekat.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya. Jaga kesehatan ya semuanya.~


__ADS_2