Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 38


__ADS_3

Pukul tujuh malam.


Beni dan Ratih sudah sampai di rumah. Bahkan mereka sudah duduk di meja makan bersama Hani juga. Mereka sedang makan malam bersama dengan ayam bakar madu.


“Han... udah main hp nya. Makan dulu.” Ucap Beni.


“Iya pa. Terima kasih ya pa udah di beliin Hp baru. Aku bersyukur papa bisa beliin aku Hp langsung. Padahal biasanya papa suruh aku nabung dulu buat beli sesuatu.” Ucap Hani.


Beni hanya tersenyum saja. Memang biasanya Beni mendidik Hani untuk mandiri. Jika ingin membeli sesuatu. Hani harus menabung dulu dari uang sakunya. Tidak jarang dia mencari uang tambahan dengan membantu papanya merapikan file kantor. Hani sudah di kenalkan tentang perkantoran oleh Beni sejak kelas dua SMP.


Mereka makan dengan lahapnya. Setelah selesai, Hani mengambil piring dan gelas Ratih dan Beni untuk di bawa ke wastafel. Meski tidak di cuci. Yang terpenting meja makan bersih sekarang.


Setelah makan malam biasanya adalah family time. Hari ini Ratih dan Beni sedang tidak terlalu lelah. Jadi mereka bisa menemani Hani sambil menonton televisi. Mereka pun pergi ke ruang tengah untuk sekedar mengobrol karena mereka sedang tidak mood menonton televisi.


“Gimana belajarnya tadi?” Tanya Ratih.


“Yaa begitulah ma. Seperti kemarin.” Jawab Hani yang masih sibuk dengan ponselnya.


“Oh iya pa. Kata kak Adit. Dia udah nego sama papa kalau setiap hari Rabu dan Kamis belajarnya sore sampai malam karena kak Adit mau ke kampus ngurus skripsi katanya. Itu bener ya pa?” Tanya Hani.


Beni hanya mengangguk. Beni lupa tidak memberitahukan itu kepada Hani dan Ratih. Setelah bertanya Hani kembali bermain dengan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering ada telepon masuk dari nomor yang tidak di kenal. Hani yang penasaran pun mengangkatnya.


“Halo.”


“Ini siapa?”


“Oh...”


Hani begitu senang ketika nomor yang menelepon adalah nomor Jaelani. Kemudian, berpamitan kepada kedua orang tuanya. Tanpa menunggu balasan Hani langsung berlari ke kamarnya.


“Siapa yang telepon ya pa?” Tanya Ratih.


“Paling ya Jaelani.” Ucap Beni santai.


“Kok tau.”


“Ya siapa lagi?”


Kening Ratih langsung berkerut. Dia masih tersisa perasaan jengkel terhadap keluarga itu. Meski dia tau bahwa Jaelani tidak bersalah. Bahkan Jaelani juga memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Beni waktu itu.


Di dalam kamar Hani.

__ADS_1


Hani langsung menjatuhkan diri ke ranjangnya yang empuk. Dia berbincang dengan Jaelani melalui telepon. Mereka bercanda seperti teman yang sudah mengenal lama satu sama lain. Hingga di percakapan dimana Jaelani bilang ingin ke rumah Hani. Matanya langsung melotot mendengar itu.


“Boleh kok.” Ucap Hani semangat. Seketika dia lupa jika besok dia belajar privat di sore sampai malam.


“Oke. Aku tunggu besok ya. Hehe.”


Brak!


Tiba-tiba rak mainan terjatuh. Hani terkejut hingga sedikit berteriak, membuat Jaelani khawatir. Dia memanggil nama Hani terus terusan. Tapi Hani tidak mendengarnya karena dia fokus mencari dimana keberadaan Kiki.


“Halo Han.” Suara Jaelani terdengar khawatir.


“Iya Jae. Aku tutup dulu ya. Byee.”


Hani buru-buru menutup teleponnya. Dia ingin fokus mencari keberadaan Kiki. Dia ingin sekali berkomunikasi dengan Kiki. Dia ingin bertanya apa sebenarnya maunya itu? Tiba-tiba angin dingin berhembus di depan Hani hingga membuat kulitnya merinding.


“Kamu di sini?” Tanya Hani.


“Iya kak.” Jawab Kiki.


Hani mengambil napas panjang sebelum membuka percakapan dengan Kiki. Dia melakukan itu berkali-kali hingga merasa cukup berani.


“Aku mau tanya. Kamu... itu sebenarnya mau apa sih?” Tanya Hani.


“Bukan itu, bukan. Sebenarnya kamu itu mau apa sih? Kenapa kamu ganggu aku? Apa salahku? Apa aku pernah ganggu kamu dulu sebelum hilang ingatan?”


Bertubi-tubi pertanyaan dia lontarkan. Kini, Hani semakin berani  saja. Tetapi Kiki tidak menjawab. Dan mainan yang berada di lantai pun tiba-tiba bergerak dengan sendirinya. Hani pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk tidur.


Tidak lama Hani tertidur. Hani bergerak ke kanan dan ke kiri mencari posisi ternyaman hingga tidak sadar tangannya menggelantung di tepi ranjang. Kemudian, Hani bermimpi.


Hani bermimpi berada di kamarnya. Namun, kamarnya terlihat kosong dan hanya ada tikar plastik dan mainan yang sudah usang. Hani melihat ke keliling ruangan itu. Berdebu banyak sarang laba-laba di pojok ruangan bahkan jendelanya juga kotor.


Kriet.


Pintu terbuka. Terlihat wanita paruh baya masuk membawa makanan. Dia menatap Hani dengan raut wajah yang sedih. Dia perlahan menghampiri Hani dan menaruh nampan berisi makanan di sampingnya.


“Bunda berjanji... bunda akan bawa kamu keluar dari sini ya nak.” Ucap wanita paruh baya itu kemudian memeluk Hani.


Hani sama sekali tidak mengenal siapa wanita itu. Tetapi, Hani merasa sedih, takut, dan juga sakit bersamaan. Tetapi, rasa itu sedikit terobati saat wanita paruh baya itu memeluknya. Bahkan Hani juga meneteskan air mata karena tidak kuat menahan perasaanya dan rasa sakitnya itu.


“Sekarang, kamu makan dulu ya.” Ucap wanita itu sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu menyuapi Hani. Anehnya kenapa wanita itu terlihat sangat besar dan tinggi. Padahal perkiraan Hani usia wanita itu sama seperti usia mamanya.


Brak!


Pintu terbuka paksa. Terlihat bayangan bertubuh besar masuk. Dia menyeret wanita paruh baya di depan Hani sambil membentak wanita itu. Entah kenapa Hani ketakutan dan tidak mau melihat wajahnya meski dia penasaran.


Brak!


Pintu di tutup paksa. Karena penasaran Hani berjalan menuju pintu. Tapi kakinya terasa saki sekali. Seperti ngilu dan perih. Dia membuka pintunya pelan dan mengintip.


“Kenapa kamu suapi dia?” Bentak pria misterius.


“Udah pii.. udah cukup.” Suara wanita paruh baya itu.


“Dia akan aku jadikan tumbal.” Ucap pria misterius.


“Jangan pi. Sudah cukup pi, Aku saja kamu jadikan tumbal. Lepaskan anak itu pi.”


Plak!


Plak!


Plak!


Pria itu menampar wanita paruh baya itu berkali kali hingga wanita itu tersungkur dan pipinya memerah. Kemudian pria itu menyeret wanita itu. Tidak lama pria itu membalikkan badannya. Hani yang ketakutan langsung menunduk dan melepaskan kedua tangannya dari pintu.


Brak!


Ceklek.


Suara pintu di tutup dengan keras dan di kunci. Hani terpental karena terkejut. Tidak lama, terdengar suara gaduh dari luar. Suara itu sangat kencang sekali hingga membuat Hani semakin ketakutan.


“Ibuk... aku pengen pulang.”


Terdengar jelas suara Kiki. Hani yakin itu suara Kiki. Dia menoleh mencari keberadaan Kiki. Tapi tidak ketemu. Di ruangan itu hanya ada Hani seorang.


“Ibuk... aku pengen pulang.”


Suara itu terulang lagi hingga membuat dada Hani sesak. Dia benar-benar merasa sedih, takut dan kesakitan bersamaan. Terlebih sekarang dadanya sangat sesak hingga sulit bernapas. Semakin lama, dadanya semakin sesak hingga Hani terbangun dari tidurnya.


“Haaaahh....”

__ADS_1


Hani menarik napas sedalam dalamnya. Dia bangun dari mimpinya. Ternyata dia tidur dalam posisi tengkurap. Wajahnya penuh dengan keringat, tenggorokannya kering dan tangannya yang tergelantung terasa dingin dan kesemutan. Dia buru-buru membenarkan posisinya yaitu terlentang sambil menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Berkali-kali dia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang kering.


“Hahhh... mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk.”


__ADS_2