Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 32


__ADS_3

“Kapan nih Jadiannya?” Tanya Ilham penasaran.


“Enggak!” Jawab Jaelani spontan.


Dia benar-benar tidak menyangkan ada gosip seperti itu. Bahkan dia merasa sepeti baru mengenal Anggi kemarin. Dia menggelengkan kepalanya cepat membantah gosip itu.


“Wah! Pak boii ternyata.” Ucap Ilham.


“Enggak ya enggak!” Ucap Jaelani sedikit geram.


Melihat ekspresi yang menyeramkan itu Ilham mengerti bahwa gosip itu memang salah. Kini, dia hanya diam mengalihkan pandang dari Jaelani.


Ternyata gosip itu menyebar ketika salah satu siswi teman sekelas Anggi yang bertugas di lapangan bertemu dengan siswi yang bertugas di ruangan. Mereka membicarakan kejadian Anggi tadi. Tanpa meninjau fakta lain. Siswi itu langsung menyebarkan gosip ke kelasnya sendiri.


Jaelani hanya bisa pasrah. Kini dia harus membuktikan bahwa gosip itu tidak benar. Karena di dalam pikiran dan hatinya hanya ada Hani seorang. Sekarang, Jaelani mulai mengakui perasaanya sendiri meski belum mengungkapkan kepada Hani.


***


Di rumah Hani.


Hani terus-terusan di gangggu oleh arwah Kiki. Pensil sering berjatuhan, keras sering tiba-tiba berbalik halaman sendiri dan masih banyak hal lainnya. Kejadian itu membuat Hani risih dan sekaligus membuat Adit merinding ketakutan meski Hani berkali-kali menjelaskan secara logis.


“Hmmm saya boleh keluar sebentar?” Tanya Adit yang sudah merasa kesulitan bernapas karena ketakutan.


“Silahkan kakak.” Ucap Hani.


Adit pun terbirit-birit keluar.


“Kamu mau apa sih?” Tanya Hani sambil fokus menulis.


“Belajar.” Ucap Kiki


Mendengar itu Hani terdiam sejenak. Terlintas di pikirannya sebuah ide. Kemudian, dia menyobek kertas dan membawa beberapa pensil, spidol dan stabilo. Dia meletakkan kertas itu di pojokan ruang tamu di belakang kursi.


“Nih, belajar disini.” Ucap Hani.


“Kenapa di sini?” Tanya Kiki.


“Biar kamu bisa belajar dengan tenang. Aku juga.” Jelas Hani.


Kemudian, tidak ada jawaban. Hanya saja tiba-tiba pensil yang hani taruh tadi bergerak. Hani melotot tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Meski dia sudah melihat itu berkali-kali, rasanya masih tetap menakutkan.


“Hani.” Panggil Adit.


“Iya kak.”

__ADS_1


Hani berlari menuju sumber suara. Dia merasa lega, akhirnya dia bisa belajar sendiri. Sampai di ruang tamu, wajah dan sebagian rambut adit basah. Sepertinya Adit mencuci muka di depan menggunakan kran yang biasa di gunakan untuk menyiram depan rumah.


“Ayo kita belajar lagi.” Ucap Adit.


Hani mengangguk senang. Dia belajar sungguh-sungguh. Entah kenapa untuk beberapa pelajaran, Hani merasa seperti sudah mempelajarinya. Karena memang Hani memulai pelajaran dari kelas satu SMA.


***


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 pertanda kelas privat sudah berakhir. Perut Hani dan Adit sudah kelaparan. Hani benar-benar mengeluarkan banyak tenaga untuk berpikir hari ini.


“Kak Adit. Kata mama, kakak di suruh makan siang di sini sebelum pulang.” Ucap Hani.


“Eh... gak usah. Saya pulang saja.”


“Udah gak usah malu.” Ucap Hani sambil menarik lengan Adit kuat.


“Ni cewek kuat juga. Pantes aja tante dulu bisa tercekik orang tenaganya gede.” Pikir Adit.


Adit, Hani dan budhe Inem pun makan siang. Mereka makan sambil berbincang kecil. Hani terus-terusan bertanya kepada Adit tentang perkuliahan. Hani sangat penasaran bagaimana kehidupan kuliah itu. Adit pun menjawab dengan sabar pertanyaan Hani. Sedangkan budhe Inem ikut mendengarkan saja. Budhe Inem senang melihat Hani ceria lagi setelah sekian lama.


“Oh... gitu ya.” Ucap Hani puas karena semua pertanyaannya sudah di jawab tuntas oleh Adit.


Tidak terasa mereka sudah selesai makan. Budhe Inem membersihkan sisa makan mereka. Saat budhe Inem ingin mengambil piring Adit, piring Adit malah di jauhkan dari budhe Inem.


“Saya bantu.” Ucap Adit.


“Loh... loh loh mas. Jangan.” Ucap budhe Inem panik.


“Gak apa-apa budhe.” Ucap Adit penuh kesabaran.


“Ini pekerjaan saya.” Ucap budhe Inem.


“Iya memang pekerjaannya budhe. Tapi,ini piring bekas makan saya. Saya mau bantu sebentar doang. Hehe...”


Budhe Inem diam terpaku melihat Adit. Ini pertama kalinya ada orang seperti Adit di rumah ini. Tanpa sadar budhe tersenyum bangga kepada anak muda di depannya.


“Ini taruh mana budhe?” Tanya Adit.


“Sini, biar saya kembalikan ke tempatnya. Itu lap nya.” Ucap budhe Inem.


Setelah selesai Adit dan budhe Inem kembali ke meja makan. Hani terlihat bengong melihat keduanya. Ini pertama kalinya juga bagi Hani ada tamu seperti Adit. Dia menatap Adit dengan heran, dan di balas senyum oleh Adit. Seketika Hani malu dan mengalihkan pandang.


“Terima kasih makan siangnya. Saya permisi dulu. Oh iya, saya titip ucapan terima kasih juga buat pak Beni dan bu Ratih.” Ucap Adit dan berlalu meninggalkan ruangan.


Budhe Inem mengangguk. Hani pun mengangguk tanpa menatap Adit. Dia masih merasa malu.

__ADS_1


Saat Adit pergi tiba-tiba budhe Inem menyentuh tangan Hani.


“Pilih mas Adit apa Jaelani?” Tanya budhe Inem menggoda Hani.


“Apasih budhe.” Teriak Hani kesal.


Hani pun pergi ke ruang tamu untuk membersihkan buku-bukunya. Tidak lupa, dia berjalan dengan kaki terbuka dengan sedikit menghentakkan kakinya karena kesal dengan ucapan budhe Inem. Dengan cara berjalannya itu Hani terlihat seperti anak laki-laki saat berjalan.


“Aduhh... anak remaja.” Ucap budhe Inem tersenyum dan kemudian dia termenung seperti memikirkan sesuatu.


Di ruang tamu.


Hani membersihkan semuanya dengan kasar. Menumpuk buku, memasukkan pensil ke dalam kotak pensil, dan memasukkannya ke dalam tas dengan kasar. Kemudian, dia mencangklong tasnya dan pergi ke kamarnya. Dia melirik sekilas budhe Inem dari lantai tangga lantai dua. Terlihat budhe sedang termenung.


“Kenapa budhe kayak gitu? Apa aku tadi keterlaluan ya?” Gumam Hani.


“Ah sudah lah. Nanti juga baikan lagi.” Ucap Hani melangkahkan kaki ke kamarnya.


Sampai di kamar Hani mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke suster Sari. Hani ingin mengetahui keadaan Jaelani dengan bertanya kabar Deden sebagai umpan.


Saat pesannya terbalas, Hani langsung membacanya. Dan matanya pun membulat sempurna. Ternyata Deden sudah pulang kemarin karena kondisinya sudah cukup baik. Kini dia sedih karena tidak ada alasan untuk menemui Jaelani.


“Eh sebentar? Kok aku sedih sih?” Ucapnya tersadarkan.


“Gak gak gak gak gakkkk!” Teriak Hani sendirian.


Dia benar-benar menyangkal perasaannya itu.


“Masak iya aku  suka sama orang yang gak aku ingat siapa dia?”


Hani langsung tengkurap dan berteriak di dalam bantal.


“No no nono!”


Di tempat lain.


Adit sudah sampai di sebuah rumah yang cukup besar dengan pagar yang menjulang tinggi berwarna hitam itu.


Greekkk


Gerbang di buka. Adit mengendarai motornya masuk. Dia menaruh motornya langsung ke garasi. Kemudian dia berjalan ke suatu ruangan. Di sana terlihat ada seseorang laki- laki sedang duduk di sofa dan menonton film action.


“Om.” Panggil Adit.


“Udah pulang. Udah makan belum?” Tanya pria itu.

__ADS_1


“Udah di rumah Hani.”


“Oh... benarkah? Baik sekali keluarga itu.”


__ADS_2