Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 19


__ADS_3

“Budhe... aku tanya dong.” Tanya Hani sesaat setelah budhe Inem mengomel.


“Iya mbak ada apa?” Jawab budhe Inem yang sudah duduk di depan Hani.


“Sebelum aku hilang ingatan. Apakah aku udah pernah tinggal di sini? Soalnya terakhir aku ingat masih di kota dulu. Di rumah cat ungu.”


Deg!!!


Jantung budhe Inem tiba-tiba berdetak lebih kencang. Dia tidak menyangka Hani akan bertanya seperti itu. Dia bingung harus menjawabnya mulai dari mana? Karena sebelumnya Beni mengatakan kepada seluruh karyawannya di rumah itu, untuk menjelaskan secara perlahan saat Hani mulai bertanya tentang masa lalunya.


“Jawab seadanya aja lah.” Pikir budhe Inem.


“Iya mbak, mbak Hani udah tinggal di sini. Sekitar tiga atau empat bulanan.” Jelas budhe Inem.


Hani menghentikan aktifitasnya sejenak. Setelah menelan makannya dia mulai berpikir. Mungkin yang dia alami tadi memang pernah dia lakukan di rumah ini. Tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan aneh yang akhir-akhir ini dia rasakan. Akhir-akhir ini perasaan Hani tidak menentu. Dia merasa kan kesakitan, kesedihan, marah, kecewa tiba-tiba setelah mendengar suara aneh.


“Budhe, tadi tuh waktu aku liat berita di TV. Aku tuh merasa kayak pernah melakukan itu. Apa ya bahasanya... ah! Dejavu.” Ucap Hani.


“Dejamu?” Tanya budhe Inem penuh keheranan.


Hani hanya tertawa. Dia tidak mau menjelaskan apa itu Dejavu? Sedangkan budhe Inem masih kebingungan dengan kosa kata yang baru dia dengar itu. Tetapi dia tidak ambil pusing. Karena baginya bahasa itu berkembang sesuai jaman. Yah dia pikir itu adalah istilah gaul bagi anak sekarang yang tidak perlu di pahami maknanya.


Hani melanjutkan aktifitasnya, tetapi dia merasa masih ada yang mengganjal di dalam hati serta otaknya. Dia masih memikirkan kejadian tadi. Dia benar-benar merasa pernah di posisi itu. Apalagi saat mendengar kasus bunuh diri dengan gantung diri, serta surat yang di temukan di dekat korban. Dia benar-benar merasa tidak asing dengan hal itu. Tetapi Hani menepisnya karena dia pikir semua orang pernah mengalami kejadian yang berulang. Entah orang itu amnesia atau tidak.


Saat masih asik makan sambil melamun. Tiba-tiba budhe Inem berbicara kepada Hani. Tetapi Hani tidak begitu mendengarnya dengan jelas,


“Kenapa budhe?” Tanya Hani.


“Ini loh kotak apa sih mbak? Kok di taruh kulkas? Kayak kotak kado gini.” Tanya budhe Inem.


“Oh itu coklat sama permen budhe.”


“Oalah mbak, mbak. Kotak bagus kayak gini kok di taruh kulkas. Ya sayang toh mbak kalau kena embun kotaknya jadi lembek.”


“Gak apa-apa budhe, biarin aja lah. Oh iya kalau budhe mau ambi boleh kok. Buat anak budhe juga boleh.”


“Oh iya... aku harus telepon suster cantik nih, buat ngucapin terima kasih.”


Hani makan lagi sambil mengamati budhe Inem yang masih sibuk menata isi kulkas. Hani benar-benar kagum dengan para wanita di rumah ini. Baik Ratih mamanya dan budhe Inem. Mereka benar-benar tangguh dan tanggung jawab dengan pekerjaan mereka masing-masing. Meski kadang mereka juga mengeluh, karena merasa lelah dengan kerjaannya. Tetapi, kemudian mereka tetap berusaha untuk melakukan yang baik. Beni selalu menanamkan prinsip itu kepada seluruh penghuni rumah ini.

__ADS_1


Hani sudah selesai makan. Dia menaruh piring di wastafel kemudian ke kamarnya. Sampai di sana dia mencari ponselnya. Tanpa berpikir panjang dia langsung menelepon suster Sari sambil tiduran. Padahal dia tau kalau setelah makan tidak boleh tidur. Tetapi, dia tetap melakukannya.


Tuuut tuuut tuuut.


“Halo.” Ucap suster sari di sebrang sana.


“Halloo suster cantik.” Ucap Hani ceria.


“Oh... ini nomornya mbak Hani (ada suara berisik)”


Hani lupa jika suster Sari belum tau nomor ponselnya. Dia juga baru sadar bahwa mungkin dia sudah mengganggu suster Sari yang masih bekerja.


“Ma-maaf ya suster. Hani ganggu ya?”


“Engga kok! Ini lagi istirahat. Ada apa mbak Hani telepon?”


“Cuman mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat suster cantik. Hani suka banget sama hadiahnya.”


“Iya, sama-sama.”


“Ya udah. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya suster.”


Mendengar nama Jaelani perasaan aneh Hani datang lagi. Perasaan bersalah dan berdebar. Berdebar karena takut kah? Karena senang kah? Atau berdebar yang lain? Perasaan yang tidak menentu itu selalu membuat dada Hani terasa sesak. Tapi selain perasaaan aneh itu selalu terselip perasaan rindu. Benar-benar perasaan yang sangat aneh. Padahal Hani tidak mengingat sama sekali siapa Jaelani. Hani bengong sesaat. Sedangkan suster Sari berusaha memanggil nama Hani.


“Mbak Hani... hallo.”


“I-Iya suster, saya tau Jaelani. Kenapa suster?”


“Oh... tadi dia nanyain kamu.”


Mendengar itu perasaan yang mendominasi saat ini adalah perasaan berdebar, bukan perasaan bersalah. Anehnya Hani merasa senang karena di tanyakan oleh Jaelani. Dia sempat berguling-guling di atas kasurnya yang rapi itu.


“Huek!”


Tiba-tiba Hani mual. Itu karena dia setelah makan dan langsung berguling-guling. Isi perutnya seakan-akan ingin keluar sekarang juga. Untuk mencegah itu, Hani buru-buru bangun dari tidurnya.


“Kenapa mbak Hani?” Tanya suster Sari panik.


Hani buru-buru mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Selain tidak ingin suster Sari khawatir, dia juga malu telah berguling-guling tidak jelas hanya karena ucapan suster Sari.

__ADS_1


Hani pun mengalihkan topik dengan bertanya apa yang suster Sari dan Jaelani bicarakan. Sayangnya suster Sari tidak sempat berbicara dengan Jaelani karena ada panggilan darurat di IGD. Hani merasa kecewa tapi dia juga penasaran kenapa Jaelani bertanya tentang dia. Akhirnya terlintas sesuatu di dalam pikirannya.


“Apa aku ke sana aja ya?” Pikir Hani.


“Jangan kak!” Ucap Kiki tiba-tiba. Namun ucapannya tidak keras seperti biasanya.


“Mulai lagi deh!” Kesal Hani.


“Iya?” Tanya suster Sari.


Hani lupa kalau dia masih tersambung dengan suster Sari. Dia buru-buru mengakhiri teleponnya. Dia tidak ingin ada satu orang lagi yang menganggapnya gila.


Hani benar-benar kesal sekarang. Karena dia merasa seharian ini telah di ganggu oleh sosok tak terlihat itu. Mulai dari coklatnya yang berkurang serta saat dia makan coklat di ruang tengah saja masih di ganggu dengan chanelnya yang sering tiba-tiba berganti sendiri. Meski begitu perasaan takut masih ada di lubuk hati Hani.


“Terserah aku dong! Mau kemana? Mau ngapain? Kamu ganggu mulu.” Teriaknya.


Setelah berteriak Kiki tidak menunjukkan suaranya lagi. Tapi dia menunjukkan keberadaanya dengan barang-barang yang berjatuhan. Mulai dari buku, kuas cat, sisir, bahkan sampai boneka yang di dekatnya juga jatuh. Hani benar-benar terkejut saat benda terdekatnya jatuh.


“Hah... hah... hah...” Napas Hani terengah-engah.


Lalu Hani teringat ketika Kiki mengatakan akan membantunya.


“Katanya kamu mau bantu aku?” Ucap Hani bergetar.


Tiba-tiba barang yang berjatuhan berhenti. Suasana perlahan kembali seperti semula. Hani memanfaatkan ini untuk menagih tawaran si sosok tak kasat mata itu. Dia ingat jika dia merasakan bahwa kemungkinan sosok ini adalah anak kecil. Bahkan dia sempat merasakan yang kemungkinan tingginya sepinggangnya.


“Kiki... kalau sudah berjanji tidak boleh di ingkari.” Ucap Hani pelan.


“Aku tidak berjanji.”


Seketika Hani ingat jika sosok itu hanya bilang akan membantu tapi tidak berjanji. Hani berpikir keras untuk memutarkan perkataan agar bisa membuat sosok itu menepati tawarannya.


“Tapi kan.. kamu bilang mau bantuin. Sama aja itu berjanji.” Hani benar-benar sudah kehabisan akal.


Lima menit tidak ada jawaban dari sosok itu. Antara takut dan penasaran membuat Hani cukup kelabakan sendiri.


“Pokoknya besok aku mau ke rumah sakit.” Tegas Hani meski tidak ada pertanda dari sosok itu.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~

__ADS_1


__ADS_2