Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 64


__ADS_3

Hani masih di dalam kamarnya, dia mengalami mimpi buruk. Dan perlahan, ingatannya juga kembali. Ada memori yang terlintas, ketika tiba-tiba Della mendorong Hani hingga di jatuh dari bangkunya. Hani ketakutan karena semua mata tertuju kepadanya. Sorot mata mereka terlihat sangat membencinya.


Kemudian datanglah Jaelani yang menyelamatkan Hani dengan menutupi kepala Hani dengan jaketnya.Perasaan itu sangat terasa nyata baginya. Dia yakin, bahwa dia pernah merasakan kejadian itu. Dia yakin bahwa itu pernah terjadi sebelumnya. Tapi kapan? Hani belum mengingatnya sepenuhnya.


Begitu Hani mencoba membuka jaket yang menutupi kepalanya. Dia di kejutkan oleh dua siswi yang berdiri di hadapannya. Dalam mimpinya, Hani membela dirinya. Dia merasa sedang di tuduh oleh Della serta teman lainnya entah siapa namanya.


“Kamu itu pembawa sial. Sejak sekolah di sini. Semua jadi terasa aneh, mulai dari perubahan sikap Della, hingga kejadian di luar nalar.” Ucap salah satu siswi yang wajahnya tidak asing bagi Hani.


Siswi itu adalah Violla. Hani masih belum bisa mengingat Violla. Yang pasti dia merasa sudah sangat mengenal siswi di hadapannya. Di belakang Viola ada Della yang menatap Hani tajam. Tatapan yang membuat Hani begitu kesal. Hani menatap mata Della dengan seksama sehingga dia merasa seperti di hipnotis dan tiba-tiba Hani kembali ke situasi tadi dimana dia terjatuh.


“Pergi kamu! Pergi!” Teriak Della tiba-tiba.


“Jangan ganggu aku.” Teriak Della lagi.


“Della... aku salah apa?!” Teriaknya kesal dan terbangun.


Mata Hani melotot karena dia marah dalam tidurnya tadi. Keringat dingin mengalir melewati pelipisnya. Leher, punggung dan rambutnya juga basah karena keringat dingin itu. Tenaga Hani seperti terkuras begitu saja. Bahkan tenggorokannya kini terasa sangat kering.


Hani mengatur napasnya agar jantungnya tidak terlalu berdebar akibat mimpi buruk tadi. Matanya menatap keseliling kamarnya. Memastikan bahwa dia sudah kembali ke dunia nyata. Saat pikirannya mulai tenang, Hani mencoba mengingat beberapa bagian mimpinya tadi.


Yang teringat jelas adalah ketika Hani terjadi dari bangku dan di tatap tajam oleh siswa siswi di sana. Serta Jaelani datang menyelamatkannya dengan menutup kepalanya. Saat itu juga, perasaan bersalah Hani muncul kembali.


“Kenapa perasaan ini muncul lagi? Setelah sekian lama menghilang?” Ucapnya sambil menyentuh dadanya yang sesak.


“Jaelani?”


Hani sangat penasaran. Mau tidak mau, dia harus segera menuntaskan perasaan aneh ini. Dia sudah tidak mampu menahan perasaanya yang silih berganti. Dia harus mencoba mengingat apa yang terjadi.


Hani langsung turun dari tempat tidurnya. Dia mencari ponselnya yang dia kira diletakkan di meja belajar. Namun, beberapa saat dia sadar jika ponselnya berada di tempat tidurnya. Dengan tidak sabaran, Hani mencari ponselnya di sana dengan mengacak-acak kasurnya.


“Dimana?” Gumamnya.


Dan akhirnya dia menemukan ponselnya. Dia langsung menelepon Jaelani. Satu panggilan, tidak terjawab. Dua panggilan, tidak terjawab. Hani menelepon sambil mondar-mandir di dalam kamar untuk mengurangi rasa cemasnya.

__ADS_1


Hani masih mencoba menelepon hingga panggilan ke lima, dan itu pun tidak terjawab. Rasa cemas dan penasaran semakin menjadi. Ingin sekali rasanya Hani menyusul Jaelani sekarang. Namun, sayangnya dia tidak tau Jaelani dimana?


“Argh!” Kesalnya.


Dan tidak lama, ada telepon masuk dari Jaelani. Hani yang masih memegang ponselnya di tangannya langsung menanggkat telepon itu.


“Hallo! Jaelani!” Ucap Hani hampir berteriak saking antusiasnya.


“Kamu dimana? Aku ke sana sekarang ya?”


Hani tidak sabar ingin segera bertemu Jaelani. Namun, sayangnya Jaelani tidak bisa bertemu Hani saat ini juga. Dia menjelaskan setelah melakukan rapat kecil di kafe. Jaelani harus mengantar Ilham pulang dan langsung ke rumah sakit.


Mendengar itu, Hani cukup kecewa. Dia ingin sekali menyusul Jaelani ke rumah sakit. Tapi, itu tidak mungkin. Dia masih takut jika Mia akan marah lagi. Meskipun tadi dia mendapatkan bingkisan dari Mia. Lagi pula, dia sadar jika sekarang dia terburu-buru.


“Oh gitu, oke deh.” Ucap Hani pasrah dan menutup teleponnya.


“Hah... aku gak boleh buru-buru. Tenang, tetap mencoba tenang. Jangan melakukan sesuatu dengan buru-buru.” Ucap Hani menenangkan diri.


Hani menarik napas dalam dari hidung, dan di keluarkan dari mulut. Dia mengulangi lagi pernapasan itu. Hingga merasa cukup tenang. Dan benar, ketika Hani merasa tenang. Dia mulai berpikir jernih. Dia ingat, jika Hari ini adalah malam sabtu. Malam yang biasa dia habiskan bersama Beni dan Ratih. Dia berpikir jika dia bisa menanyakan kepada orang tuanya ingatannya yang hilang.


***


Di kafe DD.


Jaelani baru saja menutup teleponnya. Dari wajahnya, nampak ekspresi kekecewaan yang mendalam. Padahal dia senang ketika Hani ingin bertemu dengannya. Namun, sayangnya jadwalnya hari ini jadwalnya begitu padat sehingga tidak bisa menemui Hani.


Sedangkan Gio, Ilham dan Galih menatap Jaelani dengan ekspresi yang terkesan mengejek. Mereka senyum senyum aneh melihat ekspresi Jaelani. Senyum mereka terlihat seperti senyum mengejek. Jaelani menatap mereka satu persatu dengan tajam berharap mereka berhenti. Tetapi, itu tidak mempan. Mereka malah semakin terlihat ingin mengejek Jaelani.


“Ciye, ciye ciye.” Ucap Galih.


“Yang lagi di mabuk cinta, di mabuk cintaaaaa~” Ucap Gio sambil bernyanyi.


Sedangkan Ilham hanya senyum senyum saja. Senyumnya tadi memang terlihat mengejek, tapi begitu dia ingat kejadian tadi. Senyumnya berubah menjadi senyum kecut. Bulu kuduknya berdiri saat mengingat kejadian mistis di rumah Hani tadi. Dan, Galih menyadari perubahan ekspresi itu. Sekarang, yang ada di pikirannya negatifnya adalah Ilham menyimpan rasa kepada Hani.

__ADS_1


“Lah masak iya Jaelani di tikung.” Gumam Galih.


Ilham masih terlihat canggung memikirkan tadi dan menyesuaikan ekspresi dengan situasi saat ini. Berkali-kali dia menghembuskan napas panjang. Dia tidak menyangka bahwa Jaelani menjalin hubungan dengan anak yang memiliki indra ke enam, pikirnya.


Brak!


Tiba-tiba Jaelani mengebrak meja cukup keras karena kalah dengan Gio dan Galih. Dia tidak begitu fokus kepada Ilham karena Gio mengejeknya hingga memberikan gambaran-gambaran romantis apa yang akan Jaelani lakukan kepada Hani sesuai dengan sifat Jaelani yang cukup gagah.


“Udah kenapa sih bang.” Ucap Jaelani geram.


Gio malah semakin ingin menggoda Jaelani. Galih pun ikut menimpali kakaknya. Mereka sangat kompak untuk membuat Jaelani tersipu dan marah bersamaan.


Karena sudah tidak betah, Jaelani mengajak Ilham pulang. Gio sempat mencegahnya, namun emosi Jaelani sudah meledak-ledak. Dia menepis tangan Gio. Dan Gio semakin gemas dan menggoda Jaelani.


“Argh! Ayo Ham. Jangan lemot.” Ucap Jaelani geram dan dia mengajak Ilham pulang dengan kasar.


Jaelani berjalan keluar sambil menggerutu di ikuti Ilham di belakangnya. Meski begitu, Ilham masih sempat berpamitan kepada Gio dan Galih.


“Bang, kayaknya Jaelani bakalan di tikung sama temennya itu. Cerita cinta segitiga.” Ucap Galih bersemangat.


Pluk!


Gio menutup mulut Galih menggunakan buku yang ada di hadapannya. Gio sangat kesal ketika melihat adik nya itu berpikir negatif kepada orang lain.


“Heh! Tobat lah wahai anak muda. Itu otak jangan buat mikir neting (negative thinking) mulu. Ingat Hani yang kamu pikir pembawa sial? Malah dia yang mengungkap kejahatan Tony. Yah meski aku udah yakin si Tony itu pasti kena ganjaran.” Omel Gio


“Hah... udah cukup papa yang kayak gitu. Kita rubah generasi buruk itu. Suap dan sebagainya.” Lanjutan omelan Gio.


Gio memang baru saja bertaubat karena dia kagum dengan kisah heroik Hani yang membongkar semua kasus Tony, meski harus hilang ingatan. Dia juga kagum dengan kasih sayang orang tua Hani yang mampu membuat Hani menjadi anak yang berani mengambil resiko. Tidak seperti dia dan Galih, yang takut resiko dan selalu mengandalkan uang dari papanya.


Karena memang selama ini, dia dan Galih kurang kasih sayang, mama mereka meninggal dunia, dan dari papa mereka hanya tau, jika semua masalah akan beres dengan uang. Maka, kerja keras paling utama di banding lainya. Dia sadar lebih dahulu di banding papanya dan Galih, adiknya. Dia masih berharap bisa merubah kebiasaan buruk di keluarganya perlahan lahan.


“Iya bang.” Ucap Galih menyesal.

__ADS_1


Gio hanya tersenyum melihat adiknya menyesal, harapannya semakin melambung tinggi. Respon dari Galih menunjukkan perlahan hatinya mulai terketuk untuk berbuat lebih baik dari kemarin.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2