Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 63


__ADS_3

Di tempat lain.


Di rumah Tony dan Tina. Mereka sedang sibuk memperhatikan sesuatu di layar monitor. Tony sedang memutar balik beberapa rekaman yang tersimpan, hasil dari mengintai di kamera yang di taruh di boneka panda.


“Stop!” Seru Tina.


Toni pun menghentikan rekaman yang di mainkan itu. Mata Tina menyipit memperhatikan ada sesuatu seperti bayangan anak kecil berambut pendek berbaju hijau muda melintas di depan kamera. Untuk memastikannya, Tina meminta Tony untuk memperbesar gambar itu. Dan benar Tina tidak salah lihat.


“Tuh tuh lihat.” Ucap Tina heboh sambil menunjuk penampakan di layar


Tony ikut memperhatikan penampakan yang di tunjukkan Tina. Mata tony membelalak, karena dia tidak percaya apa yang telah dia lihat. Ini pertama kalinya bagi Tony melihat penampakan di layar monitor miliknya.


“Hah? Hani ternyata ngeri juga. Pelihara tuyul kali dia.” Ucap Tony sinis.


“Pantes aja, boneka itu beberapa kali terjatuh dari tempatnya. Udah kayak cenayang aja ck ck ck” Sahut Tina.


Tony masih memperhatikan layar monitor itu. Dia benar-benar melihat langsung penampakan dari kamera yang di pasang di boneka. Dia tersenyum aneh, antara tidak percaya dan takjub dengan apa yang dia lihat sekarang.


Tiba-tiba Adit masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Reflek Tony dan Tina menoleh bersamaan ke sumber suara. Begitu tau yang masuk adalah Adit. Mereka hanya diam saja, coba saja yang masuk adalah pegawainya. Pasti mereka sudah marah besar.


“Oh? Udah mulai mantau nih?” Ucap Adit yang berjalan menuju Tina dan Tony.


Plak!


Pukulan keras mendarat di punggung Adit. Tina memukulnya dengan sekuat tenaganya. Meski wanita, tenaga Tina begitu besar untuk ukuran wanita. Adit hanya bisa meringis kesakitan sambil mengusap-usap punggungnya yang panas.


“Ada apa sih tante?” Ucap Adit sedikit marah.


“Bodoh! Kenapa harus kamu kasih tulisan terus di tempel di dekat kamera? Untung aja Hani gak tau. Kalau tau, hancur rencana kita.” Ucap Tina kesal.


“Ck ck... gitu doang.” Ucap Adit remeh.


Tina semakin kesal karena respon Adit yang meremehkannya. Dia kembali memukuli Adit sekuat tenaga hingga Adit tersungkur dan hanya bisa bertahan dengan menutupi wajahnya dengan kedua lengannya. Sedangkan Tony, hanya menikmati perkelahian kecil itu.


“Ampun tante!” Ucap Adit akhirnya menyerah.

__ADS_1


Tina pun mengentikan pukulannya. Meski dia sebenarnya masih kesal dan ingin sekali melampiaskan semuanya kepada Adit. Tapi itu tidak bisa dia lakukan, karena Adit adalah tiket emas bagi Tony dan Tina.


“Sini, sini keponakan om.” Ucap Tony.


Adit pun berdiri dan berjalan menuju Tony. Kemudian, dia duduk di bangku dekat Tony dan ikut memperhatikan layar monitor itu. Matanya langsung menangkap jika ada penampakan di layar monitor itu.


“Itu?”


“Iya, itu kali yang gangguin kamu pas ngajar haha. Kamu kan penakut.” Ucap Tina balas dendam.


Adit hanya menyengir karena dia tidak bisa marah kepada tantenya. Dan Tony, mengalihkan topik. Dia mulai menceritakan rencananya. Adit dan Tina memperhatikan rencana Tony dengan seksama.


“Gini, kita bekerja pada hari rabu, kan jadwalnya les sore. Nanti, Adit bertugas menyembunyikan ponsel Hani. Bagaimana pun caranya. Dan, Tina bertugas membuat Beni dan Ratih sibuk tentang rapat pokoknya usahain mereka pulang telat. Nah, aku akan mematikan listrik sekitar perumahan itu.” Jelas Tony di awal.


“Terus?” Tanya Adit dan Tina bersamaan.


Tony tersenyum licik dan menjelaskan rencananya. Dia ingin, Adit membuat Hani pergi entah kemana untuk mencari sumber penerangan. Sementara itu, Adit menuangkan obat diare ke minuman Hani. Belum selesai menjelaskan rencananya Tina malah memotong pembicaraan.


“Sesimple itu kenapa harus aku ikut bergerak?” Tanya Tina meremehkan.


Dia ingin Adit memberikan obat diare itu kepada Hani sehingga membuat pembantu Hani yaitu budhe Inem terusir. Setelah budhe Inem terusir, Tina akan masuk ke rumah itu menjadi asisten rumah tangga baru.


“Aku jadi pembantu?” Sela Tina kembali.


“Iya, kamu jadi pembantu. Tenang, aku akan mencarikan anak di bawah umur yang membutuhkan pekerjaan. Dia akan kamu bawa sebagai alasan anak karena janda. Dan kamu bebas memperkerjakan dia.” Jelas Tony.


“Aku JANDA?” teriak Tina kesal.


Tina langsung tidak menyetujui rencana itu. Dia merasa harga dirinya sudah di injak-injak oleh saudara kembarnya. Tina yang memiliki sifat pemarah itu tidak bisa menutupi emosinya yang meledak sekarang. Dia berteriak kesal dan mengeluarkan banyak umpatan dari mulutnya.


“Oke! Berarti tidak ada kata balas dendam.” Ucap Tony.


Seketika, Tina berhenti mengumpat. Memang Tina sangat ingin balas dendam kepada Hani karena telah merusak wajahnya yang cantik. Bahkan dia harus menjalan operasi plastik berkali-kali untuk wajahnya. Akhirnya, dia diam sejenak untuk menurunkan tingkat emosinya.


“Deal ya? Kita bubarkan acara balas dendam ini?” Tanya Tony santai.

__ADS_1


“TIDAK!” Bentak Tina yang kesal.


Lagi-lagi Tony tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Tina masih dengan jengkelnya karena dia tidak bisa bebas mengumpat. Sedangkan Adit hanya bisa menjadi penonton setia dari drama ini.


Kemudian, Tony melanjutkan. Dia ingin, pembantu Hani di usir agar Tony dan Tina bisa leluasa mendekati target sambil mencari kelemahan Hani dan kemudian melakukan aksi balas dendam yang sebenarnya.


“Setelah Hani sakit, kamu juga harus pura-pura sakit. Nanti akan aku buatkan surat dokter palsu agar Beni semakin percaya.” Jelas Tony.


“Terus om?” Ucap Adit semakin penasaran.


“Lalu, kita akan mulai menyiksa Hani perlahan lahan. Semua rencana sudah di buat detail. Dan pasti akan berjalan lancar. Asal....” Ucap Tony terpotong.


Tina dan Adit semakin di buat penasaran oleh Tony. Mereka benar-benar antusias menjalankan rencana balas dendam untuk Hani. Secepat mungkin, harus segera di mulai. Itulah pikiran Adit dan Tina.


“Asal apa om?” Tanya Adit.


“Tidak ada cinta di antara kalian.”


Ucapan Tony membuat Tina dan Adit melongo. Mereka pikir, kenapa Tony berpikir hal sekonyol itu? Tina dan Adit hanya bisa saling menatap memastikan apa yang mereka dengar itu benar.


“Kalian masih di tahap gampang baperan. Karena sering ketemu, takutnya tumbuh rasa cinta dan ingin melindungi. Dan itu, bisa menghancurkan semuanya.” Jelas Tony.


Tina berpikir sejenak mendengar itu. Jika di pikir lebih dalam, memang Adit berada di masa mencari jati diri dan juga cinta. Pasti ada kemungkinan kecil tentang tumbuhnya perasaan Adit kepada Hani. Karena cinta bisa tumbuh karena terbiasa.


Sedangkan Adit, dia meremehkan ucapan Tony. Dia pikir, dia adalah orang profesional yang tidak akan melibatkan perasaan pribadi dalam pekerjaan. Dia yakin, semua akan berjalan secara profesional. Bahkan, sampai sekarang pun dia merasa bahwa tidak mungkin ada perasaan kepada Hani, terlebih dia tau jika Hani itu aneh? Dia di kelilingi oleh sesuatu tidak kasat mata. Memikirkannya saja sudah membuatnya meriding.


“Gak akan om.” Tegas Adit.


Tina dan Tony hanya menatap tajam Adit, karena mereka belum sepenuhnya percaya bisa melibatkan Adit di misi balas dendam ini. Mengingat kecerobohan pertamanya, yaitu hampir membongkar mata-mata Tony dan Tina karena meletakkan kertas di boneka panda.


Di tempat lain, tepatnya di kamar Hani.


Hani sedang berguling ke kanan dan kiri. Bahkan saat terlentang pun, Hani masih menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri seakan-akan dia sedang merasa gelisah. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah cantik dan punggung Hani.


“Emmm... Della? Aku....” Gumam Hani dalam tidurnya.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2