
Hani terkejut dengan suara Jaelani yang panik itu. Dia jadi takut mendengar Jaelani panik.
“Han... mama aku ke sana. Dia mau marah-marah sama kamu. Aku gak bsia cegah. Sebaiknya kamu telepon orang tua kamu sekarang. Jangan keluar rumah.” Jelas Jaelani.
Hani mematung mendengar Jaelani berbicara cepat seperti itu. Dia terdengar benar-benar panik. Sedangkan Hani bingung kenapa Jaelani mengkhawatirkan Hani. Lagi-lagi perasaan aneh muncul.
“Han, Hani kamu masih di sana kan?” Tanya Jaelani.
“Iya.”
“Bikin takut aja. Habis gak denger apa-apa di telepon.”
“Iya aku denger kok. Makasih ya Jae. Aku tutup ya.”
Hani buru-buru menutup teleponnya. Perasaan berdebar dan besalah bercampur jadi satu. Anehnya perasaan berdebar seperti bukan berasal dari rasa bersalah. Perasaan aneh apa ini?
Kemudian dia mengingat ucapan Jaelani bahwa mamanya akan ke rumahnya. Dia membukan ponselnya dan ingin menghubungi orang tuanya. Tapi entah kenapa Hani merasa itu tidak perlu. Dia merasa ingin menghadapi mama Jaelani sendiri.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya sendiri. Dia bahkan menunggu kehadirannya di depan pos satpam. Saat mendengar suara bel Hani langsung meluncur ke gerbang rumahnya. Sedangkan pak Herdi yang sedang makan tidak berpikir panjang karena dia pikir Hani sedang menanti kiriman paket.
Di luar gerbang.
Mia sudah berdiri dengan emosi menggebu-gebu. Dia menatap Hani tajam hingga seakan-akan bola matanya ingin keluar. Mereka saling tatap untuk beberapa menit.
“Kamu... kamu kan bikin suami saya lumpuh?” Ucap Mia terbata-bata karena menahan amarah.
“Lumpuh?” Tanya Hani.
Pertanyaan Hani membuat amarah Mia tidak bisa di bendung. Mia merasa Hani sedang mengejeknya. Karena dia yakin Hani yang membuat suaminya lumpuh. Mengingat kemarin Hani mengatakan bahwa Deden mendapat kiriman. Dalam pikiran Mia Bagaimana Hani bisa tau jika bukan dia yang melakukan?
Plak
Mia menampar Hani begitu kencang hingga membuatnya tersungkur. Mia merasa sedikit puas sudah membuat Hani tersungkur. Namun itu masih belum bisa memuaskan amarahnya yang sudah tidak terbendung itu. Ingin sekali Mia menampar Hani untuk memuaskan amarahnya. Untungnya pak Herdi cepat keluar karena dia merasa Hani keluar teralu lama hanya untuk mengambil paketan.
“Mbak Hani!” Teriak pak Herdi.
Dia langsung membantu Hani berdiri sambil menatap tajam wanita paruh baya itu. Mia menatap pak Herdi tidak kalah tajam karena dia sudah di butakan oleh amarahnya.
“Ibu tidak bisa main hakim sendiri.” Ucap pak Herdi.
“Kamu hanya satpam gak usah ikut campur.” Ucap Mia.
“Justru karena saya satpam, tugas saya itu memastikan keluarga yang saya jaga aman. Saya akan menelepon polisi jika ibu melanjutkan semua ini.”
__ADS_1
Mia terasa tertantang dengan ucapan pak Herdi. Tetapi terlintas di dalam pikirannya suami yang yang lemah di rumah sakit. Membuatnya untuk melupakan tantangan itu. Dia meraih ponselnya dan memesan taksi online dan mengabaikan Hani dan pak Herdi.
Pak Hedi menggeleng-geleng heran terhadap perlakuan wanita paruh baya itu. Dia menuntun Hani masuk. Sampai di dalam rumah pak Herdi mendudukan Hani di ruang tamu dan mengambilkan air minum untuk Hani.
Hani masih syok kepada kejadian tadi. Pikirannya sudah tidak karuan. Dia takut karena ucapannya kemarin membuat papa Jaelani celaka. Dia begitu bingung apa yang harus dia lakukan?
“Kakak.” Suara anak kecil terdengar lagi.
“DIAM!” Teriak Hani yang kesal.
Andai saja kemarin dia mengabaikan ucapan anak tidak kasat mata itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Hani ingin menangis karena ketakutan tapi bisikan itu semakin menghantui membuatnya lebih kesal.
“Kakak... itu bukan salah kakak. Om itu sudah dapat kirimannya udah lama.” Suara anak kecil terdengar lagi.
“AAAAAAAAA” Teriak Hani histeris.
Pak Herdi dan budhe Inem berjalan cepat karena mendengar Hani berteriak. Untunglah air yang di bawa pak Herdi tidak tumpah. Sampai di ruang tamu Hani masih menutupi telinganya sambil menggelengkan kepalanya. Budhe Inem dan pak Herdi berusaha menenangkan Hani.
“Apa kita telepon bapak aja ya?” Tanya budhe Inem.
“Iya mbak. Telelpon aja.”
Hani masih berusaha untuk mengusir bisikan itu. Kata-kata bisikan itu tetap sama dan terus teringian-ngiang di telinga Hani. Tapi seperti biasanya, tiba-tiba suara itu berhenti tanpa sebab. Hani yang sudah merasa mulai nyaman pun melepas kedua tangannya yang tadi menutupi telinganya.
“Bapak mbak Ha...ni.”
Hani buru-buru merebut ponsel budhe Inem dan mematikan teleponnya. Dia tidak mau orang tuanya tau tentang ini. Alasannya adalah Hani hanya ingin tau apa makna dari “tidur lama” yang kini sudah dia ketaui maksud dari kata itu adalah lumpuh.
“Jangan kasih tau mama, papa.” Ucap Hani.
Drrttt Drrrttt
Ponsel budhe Inem yang berada di tangan Hani bergetar. Ada panggilan masuk dari Beni.
“Budhe jangan bilang kalau mamanya Jaelani kesini. Pokoknya jangan bilang apa-apa.”
Budhe Inem mengangguk paham. Hani memberikan ponselnya dan budhe Inem mengankat telepon dari Beni. Dia menyampaikan bahwa tadi sempat khawatir karena Hani di panggil tidak menjawab, tetapi ternyata mbak Hani tertidur di pos satpam bersama pak Herdi jelas budhe Inem yang berbohong. Dia tidak mau menanggung semua sendiri, dia juga melibatkan pak Herdi di sana.
Setelah itu teleponnya di tutup. Hani bernapas lega sedangkan pak Herdi dan budhe Inem saling menatap dengan tajam. Hani kembali menegaskan kepada pak Herdi dan budhe Inem untuk tidak berakata apa-apa tentang kejadian ini. Setelah itu dia pergi ke kamarnya untuk istirahat. Namun sebelum pergi, dia meminum air yang di bawa pak Herdi karena kehausan setelah berteriak.
Hani sudah berlalu menjauh. Kini di ruang tamu hanya tinggal budhe Inem dan pak Herdi. Mereka sedang berdiskusi bagaimana enaknya. Apakah mereka menuruti semua permintaan Hani? Atau mereka melapor kepada Beni dan Ratih? Akhirnya mereka memutuskan untuk melapor jika hal ini terjadi lagi.
Di kamar Hani.
__ADS_1
Hani merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Dia menyalakan speakernya agar tidak terasa sepi. Karena biasanya saat sunyi dia mendengar suara-suara aneh seperti orang yang sedang berbicara seperti di pasar.
“Apa benar papa Jaelani lumpuh karena kiriman orang?” Gumamnya.
“Lalu bagaimana si suara itu tau?” Pikir Hani.
“Karena kemarin, waktu di rumah sakit kakak perempuan itu tertawa. Dia mau ajak aku ke rumah om itu. Dia mau nunjukkin kalau dia akan melilitkan ekornya di kaki om itu.” Suara misterius itu menjawab.
Seketika Hani terkejut dan duduk dari tidurnya. Matanya mencari dari mana asal suara itu. Dan kenapa seolah-olah suara itu tau apa yang ada di pikiran Hani.
“Aku di sini kak. Di sebelah kakak.” Bisik suara anak kecil itu lagi.
Hani langsung menoleh ke kanan karena dia mendegar suara dari telinga kanannya. Matanya mencoba mencari dari mana sumber suara itu.
“Kakak mau lihat aku?” Tanya anak kecil itu.
“Tidak! Tidak! Tidak!”
“Hahaha.”
Suara anak kecil itu tertawa menggelegar seperti menggema. Hani mulai merinding ketakutan. Meski dia sudah sering seperti ini. Namun, dia masih masih belum bisa beradaptasi seutuhnya. Dia masih merasa takut dan merinding.
“Ka-kamu siapa?” Tanya Hani.
“AKU KIKI.”
“Ka-ka-kamu mau apa sih sebener...nya.”
“Main sama kakak.... Aku kesepian kak....”
“Tolong... jangan ganggu aku... Aku kan.. gak ganggu kamu.” Ucap Hani memberanikan diri.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar lagu K-Pop keskaan Hani di sana. Meski begitu entah kenapa Hani tetap merasa was-was.
Krekk
Kursi belajar Hani bergeser tiba-tiba. Hani langsung menoleh dengan melotot tidak percaya apa yang dia lihat. Hani mengamati kursi itu mana kali bergerak lagi. Dan benar, kursi itu bergerak lagi. Kali ini kursi itu bergeser lumayan cepat. Jantung Hani berdetak cepat karena terkejut.
Brak
Tiba-tiba buku di meja Hani terjatuh. Hani semakin takut, dia menyesal telah mengatakan hal itu. Matanya tidak berhenti melihat kesekeliling rumahnya. Mana tau akan muncul sesuatu yang mengerikan.
Tok tok tok
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~