
Hani di jemput Beni naik mobil pulang ke rumah. Sampai rumah Hani langsung di gendong Beni menuju kamarnya. Sedangkan Jaelani duduk di ruang tamu dengan takut. Dia takut Ratih tidak mempercayainya lagi. Jaelan menunggu dengan panik di temani pak Rian di sana.
“Tadi ada apa?” Tanya pak Rian.
Jaelani dengan ragu menjelaskan jika Hani meminta Jaelani menceritakan semua kenangan bersamanya. Dia juga menjelaskan bahwa Hani masih menyimpan rekaman suaranya. Dia juga menunjukkannya begitu saja. Entah karena Jaelani terlalu polos atau dia terlalu panik.
“Ini Mp3 tadi. Dan ini rekamannya.” Ucap Jaelani gugup.
Pak Rian langsung mengambil dan mendengarkan mp3 yang di suguhkan Jaelani. Begitu mendengar rekaman itu pak Rian berkrenyit dan memandang Jaelani dengan tatapan aneh. Jaelani semakin di buat takut.
Tidak lama kemudian, Ratih datang ke ruang tamu. Jaelani langsung menunduk ketakutan karena dia pikir, dia akan di marahi oleh Ratih. Namun ternyata tidak. Ratih menjemput dokter yang akan memeriksa keadaan Hani. Jaelani masih tertunduk hingga Ratih bersuara.
“Silahkan dok.” Ucap Ratih.
Seketika Jaelani mendongak lega. Ternyata, semua itu hanya ketakutan Jaelani saja. Tapi, Jaelani masih sempat menatap mata Ratih. Terlihat tatapan khawatir di sana. Jaelani semakin merasa berasalah berkali-kali lipat. Dia juga hampir putus asa dan ingin melarikan diri.
“Emang dulu mbak Hani di jauhi banget ya?” Tanya pak Rian tiba-tiba.
Jaelani terkejut, jantungnya berdegup kencang. Dia jadi mudah kaget karena panik. Kemudian, dia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan hingga perasaanya begitu membaik. Dan Jaelani menjelaskan semuanya kembali. Pak Rian hanya menatap sedih kepada Jealani. Yang pak Rian tau Hani hanya tidak memiliki teman mungkin karena perbedaan budaya atau semacamnya.
“Pantas saja tingkah mbak Hani aneh. Dia sering teriak-teriak sendiri, ketakutan tidak jelas, dan banyak lagi. Apa mbak Hani sudah kena penyakit mental dari dulu ya?” Ucap pak Rian tanpa sadar.
__ADS_1
Jaelani sedikit melotot mendengar penjelasan itu. Dia menatap tajam pak Rian ingin bertanya mengenai penjelasan dari perkataan itu. Namun, sayangnya pak Rian buru-buru menutup mulutnya rapat. Kemudian dia ijin pergi ke kamar mandi, tetapi ternyata dia pergi melalui pintu belakang. Dia pergi menuju mes berharap Jaelani tidak menunggunya.
“Kenapa Hani kayak gitu?” Gumamnya.
Lima belas menit berlalu. Terdengar ada suara langkah kaki dari dalam. Siapapun itu yang datang, Jaelani harus siap untuk menghadapinya. Mungkin Beni? Ratih? Atau pak Rian yang sudah selesai BAB? Dan ternyata itu suara langkah kaki Beni dengan ibu dokter. Beni menatap Jaelani sekilas kemudian mengantar dokter itu ke depan.
“Hah... tenang Jae, tenang.” Ucap Jaelani.
Tidak lama kemudian, Beni kembali. Dia langsung duduk di hadapan Jaelani. Jantung Jaelani kembali berdebar kencang, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering bahkan tanganya mulai dingin. Dia hanya bisa berharap tidak akan terjadi apa-apa.
“Jaelani, tadi Hani kenapa kok bisa sampai gitu?” Ucap Beni.
“Itu om, tadi tiba-tiba Hani merasa pusing. Aku gak tau karena apa? Karena tadi Hani pusing habis lari-lari dan belum sempat minum atau makan apapun di taman.” Jelas Jaelani.
“Mungkin, Hani kecapekan karena dia kan gak pernah olah raga.” Ucap Beni.
Jaelani hanya mengangguk-angguk canggung. Dia tidak tau harus menjawab apa lagi.
“Tadi Hani tanya tentang masa lalunya gak?” Tanya Beni.
Jaelani yang awalnya menunduk langsung mendongak menatap mata Beni. Ekspresi Beni masih sama, dia masih terlihat santai dan tenang membuat Jaelani semakin ketakutan.
__ADS_1
“Hmm?” Beni berdehem.
Akhirnya Jaelani menjelaskan semua sedetail mungkin kepada Beni. Terkait rekaman mp3. Dan semua kejadian Hani di masa lalu saat bersekolah di SMA Dahlia. Dia juga menjelaskan bahwa Hani juga bertanya tentang Della lebih detail.
Beni mendengarkan dengan seksama. Tatapannya yang santai tadi berubah menjadi serius seiring cerita Jaelani semakin dalam. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa anaknya di perlakukan seperti itu di sekolah. Pantas saja beberapa bulan lalu ada beberapa wali murid datang ke rumahnya untuk minta maaf.
Selama ini Beni hanya berpikir bahwa Hani membuat masalah karena dia ikut campur ursan orang lain saja. Dia pikir ini karena anaknya hanyalah gadis remaja yang mulai membangkang dan mulai merasa bisa mengatasi semua masalah. Baik masalah sendiri maupun masalah orang lain. Beni memijit mijit keningnya yang terasa pusing.
“Om gak apa-apa?” Tanya Jaelani.
“Hah... sebaiknya kamu pulang ya. Iyah... semoga Hani baik-baik saja.”
“Tapi om, saya gak enak karena Hani pergi sama saya tadi.”
“Gak apa-apa. Udah kamu pulang saja ya.”
Jaelani tidak bisa membatah. Dia pun akhirnya pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan takut dan khawatir jika Hani kenapa-kenapa, serta merasa bersalah. Meski sebenarnya itu bukan salahnya.
Sedangkan di kamar Hani.
Ratih memeluk Hani yang tertidur pulas. Dia sedang tertidur karena di beri obat penenang. Tiba-tiba Hani meneteskan air matanya dalam tidurnya.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca.~
~ Mampir juga yuk ke profilku. Kali aja kalian juga cocok sama cerita baru. Terima kasih lagi~