
Hani berlari riang menuju pos satpam memanggil nama pak Rian. Namun, sayangnya pak Rian tidak di sana. Dia masih tidur santai di mes. Sekarang yang ada di pos satpam hanyalah pak Yanto.
“Pak Rian masih di mes mbak.” Ucap pak Yanto.
“Tumben, biasanya jam segini udah di depan pak?” Tanya Hani penasaran.
“Iya, kemarin begadang sampai sekitar jam dua mbak. Katanya gak bisa tidur karena besok mau di ajak suster Sari ke rumahnya.” Jelas pak Yanto.
Hani menahan tawa membayangkan bagaimana ekspresi pak Rian yang gugup karena besok mau ke rumah suster Sari. Tapi, rencana tetaplah rencana. Hani meminta tolong kepada pak Yanto untuk membangunkan pak Rian. Karena dia ingin pergi joging. Dia juga menjelaskan jika tidak ada pak Rian dia tidak bisa joging.
Pak Yanto pun menurutinya. Dia pergi menemui pak Rian dan memintanya untuk bangun serta memberitahunya untuk bersiap-siap pergi joging. Ketika pak Yanto sudah pergi, tiba-tiba bel berbunyi. Hani pikir itu Jaelani, jadi dia bergegas masuk ke pos satpam melihat siapa yang datang. Dan ternyata itu budhe Inem.
“Loh? Ini kan hari minggu? Kenapa budhe Inem ke sini? Bawa sayuran juga?” Gumam Hani.
Kemudian, Hani berjalan menuju gerbang untuk membukakan gerbang untuk budhe Inem.
Sret~
Gerbang terbuka. Budhe Inem terkejut karena yang membuka adalah Hani. Dia mundur beberapa langkah saking kagetnya. Matanya bergerak ke atas bawah dan kembali lagi ke atas untuk memastikan bahwa itu benar Hani.
“Mbak Hani?” Tanya budhe Inem.
“Iya budhe. Kok budhe ke sini? Kan ini hari Minggu?” Tanya Hani balik.
Budhe Inem menjelaskan bahwa dia di panggil oleh Ratih untuk membantunya memasak hari ini. Katanya Hari ini akan ada tamu penting datang. Jadi Ratih harus mempersiapkan beberapa makanan untuk para tamu. Budhe Inem sedang berbohong kepada Hani. Ini sesuai dengan permintaan Ratih. Ratih tidak ingin Hani jadi tidak nyaman karena merasa di awasi.
Hani mengangguk paham. Dan dia juga penasaran siapa tamu yang akan datang hingga membuat Ratih, mamanya harus mempersiapkan makanan hingga perlu bantuan budhe Inem. Ketika Hani mau bertanya, tiba-tiba budhe Inem memaksa masuk. Budhe Inem harus menghindar dari Hani agar tidak bohong lagi.
“Padahal mau tanya. Kayaknya buru-buru banget. Oh iya, tadi mama juga udah rapi. Hmmm pasti tamunya istimewa?” Gumamnya.
Kemudian, Hani menutup kembali gerbangnya. Tidak di sangka Jaelani datang. Dia berteriak cukup kencang agar Hani tidak menutup gerbangnya. Beruntung Hani mendengarnya. Dia membuka kembali gerbangnya sambil tersenyum.
“Hah...” Jaelani menghela napas panjang.
__ADS_1
“Titip sepeda di sini ya?” Ucap Jaelani.
“Boleh.”
Hani dan Jaelani masuk ke halaman rumah. Jaelani menempatkan sepedanya di dekat pos satpam. Tidak lama kemudian, pak Rian datang dari mes. Wajahnya terlihat kacau karena kurang tidur. Matanya yang sudah hitam semakin hitam. Mungkin akibat begadang tadi malam.
“Pak Rian ayo joging.” Ucap Hani semangat.
“Sama pak Rian?” Tanya Jaelani kecewa karena awalnya dia pikir akan berdua saja dengan Hani.
Hani mengangguk semangat. Entah kenapa perasaanya begitu senang. Semangatnya membara tiba-tiba. Kemudian, dia mengajak pak Rian dan Jaelani pemanasan terlebih dahulu. Mau tidak mau Jaelani menurutinya. Dan pak Rian ikut pemanasan dengan menguap berkali-kali.
Setelah selesai pemanasan mereka langsung berangkat joging. Tidak terasa hari semakin terang. Hani dan Jaelani berlari kecil di depan. Sedangkan pak Rian di belakang mereka sambil menahan kantuk. Mereka ingin joging menuju taman komplek. Selama perjalanan Jaelani dan Hani saling bertukar tebakan lucu.
Tidak terasa mereka sudah sampai di taman. Hani dan Jaelani sedang mengatur napas mereka sambil berjalan lambat. Mereka benar-benar kehabisan napas karena mereka berlari sambil tertawa cukup membuat dadanya sesak.
“Hah... hah... hah... duduk situ yuk Jae.” Ajak Hani yang sudah menyerah.
“Yuk! Pak Rian ayok duduk sana.” Ajak Jaelani.
Mereka pun duduk di bangku taman yang teduh. Hari ini taman cukup ramai. Hani cukup senang melihat pemandangan pagi ini sangatlah menyenangkan melihat orang-orang lalu lalang. Tapi, perasaan senang itu memudar ketika Hani ingat tujuannya bertemu Jaelani.
“Jae aku mau tanya.” Ucap Hani serius.
“Iya.”
Hani diam beberapa saat untuk menyiapkan mentalnya. Sesekali dia melirik pak Rian dan Jaelani bergantian. Membuat dua laki-laki itu menjadi tegang.
“Ada apa?” Tanya Jaelani.
Kemudian, Hani mengeluarkan MP3 dari tasnya. Dia sudah memasukkannya dari tadi malam. Kemudian, dia menyalakannya dan memutar beberapa lagu dengan mode loudspeaker. Jaelani kebingungan dengan tingkah aneh Hani ini.
“Pak Rian, aku minta tolong beliin minum. Lupa bawa minum.” Ucap Hani.
__ADS_1
Jaelani hendak menawarkan dirinya sendiri untuk membeli air minum. Tapi, mata Hani menatapnya tajam. Membuat Jaelani mengurungkan niatnya.
“Oke mbak, Tunggu ya. Saya sambil cari sarapan ya mbak, Lapar.” Ucap pak Rian.
Pak Rian sudah percaya kepada Jaelani. Sebelum pergi pak Rian menepuk punggung Jaelani lirih mengisyaratkan untuk titip Hani sebentar. Jaelani mengangguk paham dan tersenyum. Ketika pak Rian sudah menjauh. Hani mengganti lagu yang di putar menjadi rekaman Jaelani.
“Bisa jelasin kenapa kamu rekam ini?” Ucap Hani tegas.
Tanpa ragu Jaelani menceritakan semuanya. Dia ingin Hani mengingat semuanya segera. Dia tidak memikirkan efek sampingnya. Dia menjelaskan semuanya sedetail mungkin. Dan Hani memperhatikan dengan seksama. Cerita itu cukup singkat. Tapi, entah kenapa Hani sangat panjang bagi Hani.
Jaelani menceritakan bahwa semua menganggap Hani pembawa sial kala itu hanya karena dia masuk ketika ada siswi yang meninggal. Kemudian, Hani duduk di tempat siswi yang meninggal. Belum lagi mereka merasa ada beberapa hal yang janggal yang menurutnya tidak bisa di terima akal sehat. Mulai dari Della yang mengamuk, gosip tidak jelas, ketika Hani terkurung di kamar mandi dan sebagainya.
“Della? Siapa Della itu? Tanya Hani antusias.
“Della itu dulu sahabatnya Nana. Dia bertingkah aneh setelah Nana meninggal. Dan... Della selalu ketakutan ketika deket sama kamu. Anehnya kenapa anak-anak malah nuduh kamu bukan Della? Hah... terlebih gosip itu semakin menjadi ketika orang tuamu masuk rumah sakit dan koma keduanya. Anak-anak jadi semakin percaya kalau kamu itu pembawa sial.” Jelas Jaelani.
Ketika Jaelani bercerita dia tidak begitu memperhatikan Hani karena terlalu tenggelam dalam imajinasinya.
Teng!
Jaelani terkejut karena ada getaran di kursinya. Ternyata itu karena sikut Hani menyenggol sandaran kursi. Hani sedang berusaha menahan kepalanya yang terlihat pusing. Hani menundukkan kepalanya sambil memijit-mijitnya pelan.
“Han? Pusing? Hah? Tadi belum sarapan?” Tanya Jaelani panik.
Dia langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia langsung menelepon pak Rian. Beruntung Jaelani dulu pernah bertukar nomor telepon dengan pak Rian. Lebih beruntung lagi ternyata pak Rian sudah berada di dekat Hani dan Jaelani. Maka, tidak lama pak Rian datang.
Dia juga ikut panik melihat Hani yang pucat pasi dan lemas itu. Sedangkan Hani merasa sangat pusing hingga tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya. Pak Rian dengan sigap menangkap Hani. Dia mencoba dan Jaelani memanggil nama Hani. Mereka terus memanggilnya sebelum Hani tidak sadar sepenuhnya.
Syukurlah Hani masih bisa menjawab meski lemah. Kepalanya begitu pusing, dia merasa ada beberapa memori melintas di kepalanya.
“Aku mulai ingat....” Pikirnya.
~ Terima kasih, sudah mampir baca ~
__ADS_1