
Setelah selesai makan Jaelani dan Azzahra mendekat. Mereka mengajak Mia untuk duduk di sofa panjang yang jauh dari papanya.
“Jadi?” Ucap Mia judes karena masih sebal.
“Mah....”
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk. Mia, Azzahra, dan Jaelani menengok ke arah pintu bersamaan. Kemudian, dia melihat Galih dan papanya sudah berada di ambang pintu.
“Eh bapak. Silahkan masuk pak.” Ucap Mia ramah.
Jaelani dan Azzahra hanya bisa mendengus kesal. Rasanya seperti sia-sia setelah mereka mengumpulkan tenaga, dan pikiran untuk berbicara dengan mamanya.
Mia mengarahkan papa Galih ke pak Deden. Sedangkan Galih berjalan ke Jaelani dan Azzahra. Galih menyapa mereka sambil memberikan bingkisan buah-buahan. Bukan mendapat senyuman, tapi Galih mendapat pukulan kecil dari Jaelani dan Azzahra.
Jaelani dan Azzahra sudah menganggap Galih seperti saudara. Maka mereka tidak sungkan untuk melakukan hal yang nyeleneh seperti ini.
“Ada apa sih?” Ucap Galih cemberut.
“Kenapa anda datang sekarang!” Ucap Jaelani dengan emosi.
“Kan aku udah bilang tadi.” Jawab Galih tidak kalah melotot.
Keadaan di antara mereka hening mendadak karena mereka sama-sama merasa paling benar. Tanpa berpikir mereka saling mengeluarkan ponselnya dan membuka isi pesan mereka.
Galih dengan percaya diri menunjukkan pesannya kepada Jaelani. Sedangkan Jaelani hanya menatap Galih dengan malu. Ternyata dia tadi belum sempat membalas pesan dari Galih karena ponselnya di rebut kakaknya. Dia juga tidak membaca semua pesannya. Dia hanya membaca bagian awalnya saja yaitu ‘aku akan kesana bersama papa’ dan di pesan ke dua bertuliskan ‘sore ini’ tidak terbaca oleh Jaelani. Azzahra juga ikut membaca pesan yang ada di ponsel Jaelani.
Bug!
Sebuah tinju mendarat di bahu Jaelani dengan keras. Entah kenapa hari ini Jaelani berasa di pukuli berkali-kali.
“Kakak sih! Tadi main ngerebut aja.” Ucap Jaelani kesal.
“Aku? Tapi aku kan gak tau itu dari Galih. Seharusnya kamu cek lagi.” Ucap Azzahra membela.
__ADS_1
“Gimana mau baca lagi? Dari tadi kakak ngajak berantem mulu.”
“Pesan dari Hani aja kebaca dan di balas.” Bela Azzahra.
Kata-kata itu cukup mengakhiri pertengkaran itu. Jaelani tidak bisa mengelak lagi karena dia memang membalas pesan Hani. Lagian, dia juga ingin mengalah kali ini karena merasa kakaknya kini ada di pihaknya.
Sedangkan Galih yang mendengar nama itu merasa bersalah. Entah siapa ‘Hani’ yang di maksud? Setiap mendengar nama itu perasaan bersalah selalu muncul. Kini wajahnya berubah menjadi masam.
“Kenapa Gal?” Tanya Azzahra.
“Enggak kak.” Jawab Galih dengan tersenyum paksa.
“Ini Hani teman kita.” Ucap Jaelani seolah peka padahal dia hanya ingin pamer jika dia masih berhubungan dengan Hani. Jaelani juga ingin membuktikan jika Hani anak baik.
“Ah? Kalian masih berteman. Syukurlah.” Ucap Galih semakin murung.
Melihat itu Azzahra kembali meninju lengan adiknya itu. Dia tidak habis pikir, kenapa adiknya tidak peka seperti ini? Sedangkan Jaelani hanya kebingungan menatap ekspresi aneh kakaknya itu.
“Oh ya... hasil sidang kemarin kan kamu gak di penjara kan? Kamu masih bisa di rumah tapi dengan pengawasan ketat?” Ucap Jaelani.
Azzahra hanya menggeleng-geleng menyerah. Betapa tidak pekanya Jaelani malah membahas hal itu setelah membahas Hani.
Azzahra mengangguk-angguk paham. Dia mencoba memahami perasaan Galih. Dia berusaha untuk menghiburnya, dengan mengajak Galih untuk tersenyum. Dia juga bertanya apa keinginannya agar setidaknya bebannya sedikit berkurang.
“Aku ingin minta maaf ke Hani langsung.” Ucap Galih.
Lagi-lagi suasana menjadi Hening. Baik Jaelani dan Azzahra bingung mau bereaksi seperti apa? Tapi yang jelas saat ini. Mereka ingin menghibur Galih.
“Minta maaf aja langsung. Aku anterin deh. Sepulang sekolah.” Ucap Jaelani antusias.
“Modus!” Sahut Azzahra dengan senyuman sinis.
Galih merasa mendapat dukungan dari orang lain. Kini keberaniannya untuk meminta maaf semakin bertambah. Apalagi ada Jaelani yang menemaninya. Dia merasa sangat tepat untuk segera datang kesini.
Di sisi lain.
__ADS_1
Papa Galih meminta maaf kepada keluarga Jaelani. Dia merasa sudah merepotkan keluarga itu karena harus ikut berursan dengan pengadilan dan hukum. Itu di sebabkan oleh anaknya. Mia dan Deden juga memaafkannya. Meski sekarang kepercayaan mereka sedikit berkurang kepada keluarga itu.
Papa Galih juga sudah mendengar bahwa perusahaan keluarga Deden sedang menurun. Dia menawarkan bantuan dengan investasi di perusahaan itu. Tetapi Deden menolaknya secara halus. Dia benar-benar belum bisa percaya kepada keluarga itu. Karena suatu keretakkan dari kepercayaan akan sulit di kembalikan. Meski kembali pun pasti masih tetap ada rasa was was seperti yang Deden rasakan.
“Baiklah. Jika bapak butuh bantuan. Hubungi saja saya.” Ucap papa Galih yang masih berusaha untuk memperbaiki hubungan kedua keluarga tersebut.
Tidak terasa sudah setengah jam mereka berbincang-bincang. Galih dan papanya pun ijin pulang karena hari sudah mulai gelap.
Setelah mereka keluar dari kamar itu. Suasana berubah lagi. Suasana menjadi canggung lagi. Deden yang merasakan perubahan itu akhirnya bertanya.
“Ka-lian itu ke-apa sih? Ma? Kak? Dek?” Tanya Deden susah payah.
Mereka tidak menjawab hanya diam terpaku menghadap Deden. Sedangkan Deden menatap mata mereka satu persatu. Dengan tatapan itu Deden sudah tau jika pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
“Gak kenapa kenapa kok pa.” Ucap Mia menenangkan Deden yang mulai tegang.
Deden tidak boleh terlalu tegang atau terkejut. Karena dia punya riwayat penyakit jantung dan stroke.
“Afa i-i ga- ra-ga- ra Ha-i?” Tanyanya.
Seketika semua menatap Deden seakan-akan Deden tau apa yang ada di pikiran mereka saat ini. Setelah itu mereka saling menatap satu sama lainnya. Melihat respon itu Deden sudah tau pasti bahwa yang mereka permasalahkan adalah Hani. Deden menghembuskan napas berat.
“Iya pa... ini karena Hani.” Ucap Jaelani memberanikan diri.
Seketika Mia melotot ke arah anak-anaknya. Jaelani dan Azzahra hanya bisa tertunduk.
“Sebenarnya, beberapa hari yang lalu Hani selalu membawakan buah-buahan untuk papa. Bahkan sekarang dia juga membawa buah-buahan. Dia sudah tiga hari kesini tapi, dia gak berani masuk pa. Takut di marahi mama. Ini buahnya.” Jelas Jaelani sambil menunjukkan kresek buah yang tadi.
Amarah Mia memuncak. Dia benar-benar tidak bisa berpikir lagi kenapa anaknya melanggar peraturannya. Mia sangat tidak suka jika anaknya itu bertemu Hani. Tapi, sekarang mereka malah terang-terangan mengatakannya.
“Ma... tolonglah ma. Semua yang menimpa kita itu bukan salah Hani. Dia anak baik ma. Bahkan dia masih ada niat untuk menjenguk papa. Dia juga mendoakan kesembuhan papa.” Ucap Azzahra.
“Ma... kami mohon. Mama jangan menyalahkan semua ini ke Hani hanya karena mama mendengar bahwa Hani pembawa sial. Mama sendiri juga tau kan kalau Hani hanya berusaha berbuat baik kepada teman-temannya yang bahkan membencinya dulu.” Jelas Jaelani.
Mia masih tidak mau menerimanya. Meskipun Jaelani sudah berkali-kali menjelaskan bahwa semua yang dia lakukan untuk menemani Hani kemanapun karena kemauannya sendiri. Bukan paksaan dari Hani. Bahkan tidak sekali pun Hani meminta bantuan ke Jaelani.
__ADS_1
“A-afin Ha-i ma.” Ucap Deden susah payah.
Kemudian, dia meminta alat tulis kepada Azzahra. Dia masih bisa menulis dengan lancar. Dia pun menuliskan semua isi hatinya agar istrinya memaafkan Hani serta mengikhlaskan semua kejadian ini. Dia yakin bahwa semua ini adalah takdir dan cobaan keluarga ini. Tinggal kita harus percaya satu sama lain bahwa ini semua ada jalan keluarnya.