
Hani heran, kenapa pak Yanto bisa duduk santai seperti itu? Atau ini hanya sebuah ilusi? Dia menatap pak Yanto dengan tajam. Memperhatikan dari atas sampai bawah. Pak Yanto duduk manis degan kaki di tutup rapat, kedua tangannya di lutut dan kepalanya menunduk.
“Loh pak?” Ucap Hani.
Tidak lama pak Rian keluar dari pos satpam karena ketakutan. Dia juga merasakan angin berhembus kencang hingga menjatuhkan beberapa buku TTS milih pak Herdi dalam pos satpam.
“Mbak Hani gak apa-apa?” Tanya pak Rian.
“Gak kok pak. Tapi, pak Yanto.”
Pak Rian langsung menatap pak Yanto. Dia juga heran dengan tingkah pak Yanto. Lalu, tiba-tiba pak Yanto menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri membuat Hani dan pak Rian terkejut.
“Hehehehe.”
Tiba-tiba pak Yanto tertawa dengan suara berbeda membuat Hani dan pak Rian merinding ketakutan. Hani reflek, langsung berlindung di belakang pak Rian.
“Kak ayo main.” Ucap pak Yanto.
Deg!
Jantung Hani serasa berhenti berdetak. Sekujur tubuhnya terasa seperti kesemutan. Keringat dingin mulai bercucuran. Tangan dan kakinya mulai terasa dingin dan seperti mati rasa. Hani berpikir bahwa pak Yanto sedang kesurupan.
Sret!
Tiba-tiba pak Yanto oleng dan lemas. Pak Rian dengan sigap menahan kepala pak Yanto yang hampir terjungkal. Hani masih bersembunyi di belakang pak Rian. Kini, dia berpegangan erat dengan baju pak Rian.
“euh.”
Pak Yanto sudah sadar, dia sudah bisa menopang tubuhnya sendiri. Dia kembali duduk tegak dengan memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia juga merasa mual. Berkali-kali berusaha memuntahkannya, namun tidak bisa.
“Yanto.” Panggil pak Rian.
“Iya, mas.” Jawab pak Yanto.
__ADS_1
Pak Rian bernapas lega, karena pak Yanto sudah kembali seperti semula. Dia buru-buru mengambilkan minum untuk pak Yanto. Sedangkan Hani hanya berdiri mematung di depan pak Yanto. Dia masih belum percaya jika pak Yanto sudah sepenuhnya sadar.
“Ini.” Ucap pak Rian sambil memberikan minuman air putih.
Pak Yanto meminum air putih itu setengah gelas. Kemudian, dia kembali memijit kepalanya yang terasa pusing. Hani dan pak Rian kebingungan harus berbuat apa. Mereka hanya menunggu pak Yanto bicara dengan sendirinya.
Tidak lama kemudian, Beni dan Ratih datang. Mereka khawatir karena melihat dari jendela kamarnya. Terlihat Hani dan pak Rian sedang ketakutan.
“Ada apa ini?” Tanya Beni.
Hani dan pak Rian saling menatap. Mereka tidak tau menjawab apa? Dan tidak di sangka pak Yanto lah yang menjawab pertanyaan pak Beni. Dia bilang, jika dia merasa mual dan sedikit pusing. Dia meminta ijin untuk istirahat sebentar saja.
Beni yang melihat raut wajah pak Yanto yang sedikit pucat itu mengangguk mengerti. Dia memperbolehkan pak Yanto istirahat sebentar. Terserah bagaimana cara pak Rian dan pak Yanto mereka bertoleransi.
Lalu, Beni dan Ratih mengajak Hani masuk karena udara malam semakin terasa menusuk di kulit. Hani pun menurut, tetapi sebelum berbalik badan. Dia sempat melihat pak Yanto tersenyum.
“Kenapa pak Yanto tersenyum?” Pikirnya.
Lalu, Hani melanjutkan langkahnya masuk ke rumah bersama orang tuanya. Sedangkan pak Rian membantu pak Yanto untuk berbaring sebentar di mes. Dia juga berharap, pak Yanto tidak tidur terlalu lama. Karena pak Rian tidak boleh tidur larut malam. Dia harus menyetir mengantar Beni dan Ratih besok pukul setengah tujuh.
“Apa besok pagi aku tanyakan ya? Atau besok malam?” Gumam Hani.
“Hoam.”
Hani menguap karena kekenyangan memakan pentol sepuluh ribu. Dia meletakkan mangkuk itu di balkon dan masuk untuk tidur.
Malam ini Hani tidur sangat nyenyak, karena dia merasa seharian ini dia telah melakukan aktifitas yang melelahkan. Mulai dari membeli mainan, berwisata kuliner dan mengerjakan soal kimia yang cukup memeras otaknya.
***
Keesokan paginya.
Hani merenggangkan tubuhnya. Dia merasa sangat puas karena merasa tidak di ganggu oleh sosok itu. Biasanya dia sering bangun karena mendengar suara mainan yang bergeser maupun terjatuh.
__ADS_1
Hani turun dari tempat tidurnya dengan mengucek matanya yang terasa mengganjal. Tidak sengaja dia menginjak mainan di lantai. Seketika matanya terbelalak karena mainan sudah berserakan di lantai. Bahkan mainan yang baru di beli pun juga berserakan di sana.
“Setidaknya, aku tidur nyenyak kemarin.” Gumamnya.
Hani langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Karena hari ini dia ada les privat jam tujuh pagi.
Pagi ini Hani sarapan dengan sereal coklat dengan susu full cream. Hani sarapan tepat pukul setengah tujuh. Ratih dan Beni berpamitan untuk bekerja. Mulai sekarang Ratih dan Beni harus berangkat pagi. Agar mereka bisa libur di hari Sabtu dan Minggu.
“Mama berangkat dulu. Belajar yang rajin.” Ucap Ratih.
Hani hanya mengangguk karena mulutnya kini penuh. Sedangkan Beni hanya mengelus kepala Hani untuk berpamitan. Mereka pun pergi bekerja.
Tidak lama kemudian, budhe Inem datang. Karena Beni dan Ratih berangkat lebih pagi. Budhe Inem juga menyelesaikan pekerjaan dapurnya lebih awal. Kini dia duduk di depan Hani.
“Emmm... mbak Hani.” Ucap budhe Inem ragu.
“Bentar.” Jawab Hani.
Dia sudah selesai makan. Kemudian, dia meminum susu yang tersisa di makuknya. Lalu, Hani menaruh bekas makannya di wastafel dan kembali duduk bersama budhe Inem.
“Ada apa budhe?” Tanya Hani sambil menyeka mulutnya dengan tissue.
“Itu mbak... yang kemarin. Itu rahasia kita ya mbak. Itu... saya merasa gak enak kalau sampai bapak, ibu, atau pun para karyawan lain tau.” Jelas budhe Inem.
Hani mengerutkan keningnya. Kenapa budhe Inem menyembunyikan kisah itu? Kenapa dia merasa tidak enak? Apakah hal itu memalukan?
“Kenapa budhe?” Tanya Hani.
Budhe Inem menghela napas panjang. Dia menjelaskan, jika dia tidak ingin terlihat sedih ataupun lemah. Baginya sudah cukup dia bekerja di keluarga sebaik keluarga Beni. Dia merasa kebutuhannya sudah di cukupi oleh Beni.
Tidak jarang, budhe Inem mendapat sembako dari Beni. Bahkan kadang, dia juga mendapatkan baju dari pak Herdi. Meski baju bekas dari istri dan anaknya. Baju itu masih layak pakai. Sedangkan pak Rian juga sering meminjamkan uang kepada budhe Inem tanpa bunga. Jadi, dia tidak mau di kasihani lagi.
Hani mengangguk paham. Dia tau, jika keluarga budhe Inem adalah keluarga pas-pasan karena budhe Inem harus membiayai keluarganya sendiri serta ibunya yang mengidap penyakit stroke dan bapaknya sudah tidak mampu bekerja karena sudah berusia tujuh puluh tahun.
__ADS_1
“Siap laksanakan budhe!” Ucap Hani ceria.