
Malam ini semua sudah berkumpul di rumah budhe Inem dan keluarga kecilnya, pak Herdi juga dengan istri dan tiga anaknya, suster Sari, pak Rian dan juga pak Yanto. Dan terjadi lagi anak budhe Inem selalu menangis saat berada di dalam rumah ini. Anak budhe Inem mulai berhenti menangis ketika pak Yanto mendekat dan mengelus-elus kepala anak itu.
“Maaf ya pak, bu anak saya menangis terus. Biasanya gak gini loh.” Ucap budhe Inem menyesal.
Ratih hanya tersenyum dan menenangkan budhe Inem. Dia tidak mau merusak acara syukuran malam ini. Dan Hani masih heran karena ada sesuatu yang mengganjal itu belum hilang sampai sekarang. Hani menyadari jika Kiki pasti ada di sini. Tapi dimana?
“Ayo kita makan. Udah lapar saya.” Ucap Beni mencairkan suasana.
Mereka pun makan bersama di ruang tamu sambil mengobrol ringan. Hani juga sedang mengobrol ringan dengan anak budhe Inem. Kebetulan anak budhe Inem duduk di sebelah Hani. Anak itu sering mengobrol sambil menatap belakang Hani. Dan Hani juga sering menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat apa-apa.
“Emang ada apa sih di sana?” Tanya Hani penasaran.
Anak itu tetap tidak menjawab. Dia malah terdiam mematung menatap belakang Hani. Anak itu membuat Hani semakin merinding dengan tingkahnya. Dan tidak di sangka pak Yanto datang menghampiri Hani dan kembali menenangkan anak kecil itu. Tidak lama, anak kecil itu kembali riang. Hani heran dan penasaran apa yang di lakukan pak Yanto hingga anak itu kembali seperti semula. Namun, tidak ada waktu untuk bertanya sekarang.
Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa mereka mengobrol hingga larut malam. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Ratih pun mengakhiri jamuan ini mengingat dia melihat anak-anak pak Herdi sudah menguap karena mengantuk.
Mereka pun pulang pak Herdi pulang dengan di pesankan taksi online oleh Ratih, suster Sari di antar pak Rian dan pak Yanto kembali bekerja. Saat Ratih, Beni dan keluarga pak Herdi menunggu taksi online. Terlihat Hani duduk berdua di kursi panjang depan pos satpam.
__ADS_1
“Wah Yanto, harus di sadarin nih. Dari tadi masak caper mulu sama mbak Hani. Usia mereka terpaut jauh.” Gumam pak Herdi.
Sementara itu, Hani langsung menanyakan kepada pak Yanto apa yang di lakukan kepada anak budhe Inem. Mereka pun langsung mengobrol serius saat itu juga. Hani menceritakan bahwa sudah beberapa hari ini Kiki tidak muncul. Dia penasaran, apa yang sudah terjadi sehingga Kiki menghilang begitu saja. Mendengar kata ‘menghilang’ pak Yanto langsung membantah.
“Gak, dia masih ada di sini. Itu yang mau saya tanyakan. Kenapa sejak pulang dari rumah sakit. Dia, si Kiki hanya menatap mbak Hani dari jauh? Dan tadi....” Ucapan pak Yanto terpotong.
“Hani, ayo masuk nak. Udah malam.” Ucap Beni lembut.
Hani memohon kepada orang tuanya untuk tetap tinggal sebentar saja. Dia masih ingin mengobrol dengan pak Yanto. Hani mengatakan bahwa pak Yanto sedang menceritakan topik menarik bagi Hani yaitu tentang melukis. Ratih dan Beni pun luluh, karena memang ini adalah hobi Hani jadi mereka membiarkan Hani berdiskusi. Namun waktunya terbatas, maksimal tiga puluh menit karena hari semakin gelap.
“Sampai mana ya tadi? Oh iya, tadi si Kiki tu agresif banget mbak. Dia menampakkan wajahnya yang mengerikan di depan anak budhe Inem. Seperti ada dendam gitu mbak.” Jelas pak Yanto.
Hani mencoba memikirkan kenapa Kiki seperti itu. Seketika itu juga terlintas dalam pikirannya bahwa dia pernah bermimpi ada seorang anak kecil yang marah kepada ibunya karena kelahiran seorang adik kecil. Anak itu marah dan meninggalkan rumah, sehingga bertemu orang asing yang mengajaknya pergi untuk membeli mainan.
“Apa mungkin?” Gumam Hani.
“Pak Yanto bisa ngobrol sama dia gak?” Tanya Hani antusias.
__ADS_1
Pak Yanto menggeleng, sayangnya Kiki menutup diri dari orang lain. Sepertinya dia hanya ingin berinteraksi dengan Hani dan anak kecil tadi. Pak Yanto tidak tau, jika Kiki kadang menampakkan diri ke budhe Inem.
Hani semakin di buat penasaran dengan ini. Dia berpikir keras untuk mendekatkan Kiki kembali. Tapi, dia takut kejadian Nana terulang kembali. Dia pun mulai dilema jalan mana yang harus di pilih. Membiarkan keadaan seperti ini atau memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Hani berpikir cukup lama untuk memilah. Namun, pada akhirnya Hani memilih untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memberikan batasan diri dari Kiki agar dia tidak terjerumus ke hal yang sama seperti kasus Nana dulu.
Tidak lama kemudian, ide gila terlintas di benak Hani. Dia akan menyingkirkan mainan yang berada di kamarnya. Dia akan mengemasnya dan memasukkannya ke dalam dus. Dengan begitu, mungkin si Kiki akan muncul? Dia pikir, dia harus menyelesaikan apa yang dia mulai. Itu akibat dari dia dulu membuka diri ketika Kiki mulai mengajak berinteraksi. Dia takut, jika nanti kedepannya akan semakin mengerikan jika di diamkan.
Hani pun pamit untuk masuk, dan pak Yanto terlihat khawatir kepada Hani. Dia takut jika Hani akan terpengaruh lagi. Dia sudah tau cerita tentang Hani pernah berhubungan dengan hal tidak kasat mata yang mengakibatkan Hani lupa ingatan. Ingin sekali pak Yanto mengabaikannya, tapi hatinya yang lembut membuatnya tidak tega.
“Mbak, jangan aneh-aneh ya mbak. Kasihan orang tua mbak kalau terjadi apa-apa sama mbak. Kehilangan sesuatu yang di jaga bertahun-tahun itu gak enak loh mbak.” Ucap pak Yanto memelas.
Hani hanya mengangguk. Dia merasa pak Yanto tulus mengatakan itu. Dia tidak tau, jika sebenarnya pak Yanto kehilangan adiknya karena adiknya dulu berurusan dengan hal seperti itu. Adik pak Yanto juga perempuan yang memiliki kelebihan seperti Hani.
Hani pergi berlalu, pak Yanto menatap Hani penuh dengan harap semoga dia tidak melakukan hal aneh hanya karena penasaran dengan hal tidak kasat mata. Kemudian, pak Yanto menatap balkon kamar Hani. Di sana terlihat Kiki juga sedang menatap pak Yanto dengan tatapan dingin.
~ Terima kasih, sudah mampir baca~
__ADS_1