
Di rumah sakit.
Jaelani dan Mia panik menunggu hasil pemeriksaan dokter. Tidak lama kemudian dokter keluar dan menjelaskan keadaan Deden.
“Bapak Deden mengalami stroke setengah badan. Bagian pusar ke bawah lumpuh. Jadi bapak Deden tidak bisa berjalan serta mengendalikan buang air.” Jelas dokter.
Deg.
Seketika jantung Mia berdetak lebih kencang. Dia yang tadinya masih bisa menopang tubuhnya kini amburk di pelukan anak laki-lakinya. Dia merasa tidak percaya apa yang sedang terjadi. Kenapa cobaan bertubi-tubi datang?
“Bapak Deden akan di pindahkan ke kamar rawat inap. Nanti kita lihat perkembangannya. Saya permisi dulu.” Ucap dokter itu.
Mia masih mencoba menelaah apa yang sedang terjadi itu. Tiba-tiba kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya semakin lemas. Jaelani semakin panik karena mamanya semakin ambruk. Dia mencoba menyadarkan mamanya dengan memanggilnya kencang.
Tidak lama kemudian suster keluar mencari keluarga bapak Deden. Jaelani hanya menjawab dengan berteriak karena tangannya sibuk menopang ibunya. Suster melihat itu langsung membantu Jaelani. Dia membantu Jaelani memapah ibunya ke kursi.
“Apa ibu baik-baik saja?” Tanya suster itu.
“Saya baik-baik saja. Saya mau bertemu suami saya.” Ucap Mia sambil bersusah payah bangun.
Tetapi kakinya masih lemas tidak mampu menopang tubunya. Akhirnya suster itu mencari kursi roda untuk Mia. Setelah itu, Jaelani mendorong Mia dengan kursi roda untuk menuju kamar rawat inap Deden. Mereka memindahkan Deden ke bangsal VIP satu kamar satu orang.
Di rumah Hani.
Hani sedang sibuk bermain air di halaman belakang. Dia sibuk menyirami bunga yang dia tanam berasama Ratih. Tiba-tiba airnya mati.
“Mati lampu kah?”
Hani menaruh selangnya dan mengecek airnya. Dia melihat posisi keran airnya sudah benar. Jika airnya tidak keluar tandanya terjadi pemadaman. Lalu, Hani berjalan masuk untuk memastikan dan bertanya kepada budhe Inem yang sedang mencuci baju. Namun, saat berada di ambang pintu. Hani mendegar suara mesin cuci yang menyala. Dia langsung menoleh ke arah selang dan airnya mengalir.
“Cepet banget nyalanya.” Ucap Hani heran.
Dia berjalan menuju ujung selang itu, tetapi tinggal beberapa langkah saja airnya tidak mengalir lagi.
“Mati lagi?”
__ADS_1
Hani kembali masuk memastikan lagi bahwa sedang ada pemadaman atau tidak. Begitu di ambang pintu dia mendengar suara mesin cuci. Dia menoleh lagi ke arah selang. Dan airnya mengalir. Dengan sedikit lelah Hani kembali dengan malas. Lagi-lagi tinggal beberapa langkah airnya berhenti mengalir.
“Hiiihh! Apa sih ini?” Geram Hani.
“Hahahaha.”
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa riang. Hani menghapal sekali suara khas anak kecil tertawa itu. Dia mengepal tangannya karena geram sudah di permainkan oleh sosok tidak kasat mata. Mood Hani jadi turun, akhirnya dia mematikan keran airnya dan memilih ke kamarnya saja.
Saat Hani mematikan keran airnya tiba-tiba terdengar kaca di ketuk. Reflek Hani menoleh ke sumber suara. Dia menoleh ke kaca tembus pandang yang berada di depannya itu. Namun, dia tidak melihat apa-apa. Padahal dia mendengar jelas ada yang mengetuk.
Kemudian, dia menghampiri kaca itu karena seperti ada yang mengganjal baginya. Semakin dekat Hani melangkah. Semakin jelas penglihatannya. Dia melihat ada bekas telapak jari menempel di kaca itu. Anehnya telapak jari itu kecil. Sedangkan di rumah Hani tidak ada anak kecil.
Tap tap tap.
Tiba-tiba Hani mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya. Dia langsung menoleh ke belakang, ternyata itu adalah budhe Inem yang sedang membawa baju setengah kering untuk di jemur.
“Hahhh... budhe.” Kesal Hani.
“Kenapa mbak?” Tanya budhe heran.
Hani mengambil remote TV dan duduk di sofa. Kejadian aneh terjadi lagi. Dia merasa ada yang duduk di sampingnya. Bahkan dia melihat jelas bahwa sofa di sebelahnya melengkung seperti ada yang sedang mendudukinya. Perasaan Hani mulai tidak enak. Tapi dia mengabaikannya.
“Kak... om itu udah mulai tidur lama.” Bisik seseorang anak kecil.
Hani mengabaikan bisikan itu. Dia menyalakan Tvnya. Menyetel volume Tvnya menjadi besar. Tapi suasana malah menjadi mencekam. Hani merasa kedinginan telinganya terasa seperti ada yang meniupnya tapi hembusan udaranya dingin.
“kakak....” Bisik seorang anak kecil.
Udara di sana semakin dingin hingga membuat Hani hampir mengigil. Suara TV juga seakan tidak terdengar padahal Hani sudah membesarkan voulumnya hingga setengah dari batas maksimal.
“KAKAK!” Bisikan yang memikkan karena diakhiri suara dengungan.
“AAAAAAAA” Teriak Hani.
Hani berteriak sambil menutupi kedua telinganya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Tiba-tiba dia merasa badanya terguncang padahal dia hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Mbak! Mbak Hani kenapa?” Teriak budhe Inem sambil menguncangkan tubuh Hani.
Seketika Hani tersadar. Tetapi posisi tangannya tidak berada di telinga. Tangannya berada di pahanya dan satu lagi memegang remot dan di arahkan ke TV. Dia menoleh ke budhe Inem di sampingnya. Kemudian dia melihat budhe Inem menunjuk tangannya. Hani menginkuti arahan budhe Inem.
“Tvnya mbak!” Teriak budhe Inem lagi.
Hani baru sadar jika dia terus menekan tombol volume hingga volume Tvnya kencang sekali. Dia buru-buru mengecilkannya kembali dengan panik. Setelah kembali normal budhe Inem bertanya.
“Mbak kenapa? Kok dari tadi mematung?” Tanya budhe Inem.
“Mematung?”
Hani heran padahal tadi dia merasa bergerak bebas bahkan menutupi kedua telinganya. Semuanya seakan nyata bagi Hani. Tapi budhe Inem bilang jika dia mematung? Aneh?
Hani menggeleng dan tersenyum karena dia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya kepada budhe Inem. Budhe Inem menatap Hani penuh selidik, namun akhirnya dia mengangguk dan meninggalkan Hani. Dia kembali menjemur pakaian.
“Kakak!” Ucap anak kecil.
Kali ini bukan bisikan. Ucapan itu terdengar jelas di telinga Hani. Dia menoleh mencari keberadaan pemilik suara itu, tapi tidak ketemu.
“Kamu siapa sih? Mau apa?” Tanya Hani entah kepada siapa.
“Aku Kiki kak... aku mau main sama kakak.” Ucap anak kecil tidak kasat mata.
Dahi Hani berkrenyit, dia heran dan terkejut karena bisa mendengar jelas suara anak kecil itu.
“Kiki?” Tanyanya.
Namun, tidak ada jawaban. Lagi-lagi Hani mendengar suara tawa anak kecil. Suara tawa yang menyebalkan bagi Hani. Kemudian Hani teringat ucapan “Tidur lama” seketika Hani ingin bertanya kepada sosok tidak kasat mata itu. Belum sempat bertanya Hani mendengar ponselnya berbunyi di kamarnya. Dia langsung melesat ke kamar.
Di kamar dia langsung menemukan ponselnya di atas meja. Dia melihat nama Jaelani di layar ponselnya, dengan semangat dia mengangkatnya.
“Hallo.. Han.” Ucap Jaelani panik di sebrang sana.
“Han...”
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~