Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 23


__ADS_3

Hani benar-benar terkejut mendengar ucapan itu. Baru kali ini ada orang bilang bahwa dia ketempelan.


“Kok bisa?”


Pak Yanto lebih terkejut mendengar itu. Karena dia pikir Hani sudah tau jika dia memliki kelebihan. Hanya saja mungkin dia belum terbiasa dengan kelebihannya itu. Apalagi, tidak sekali maupun dua kali dia melihat Hani berbicara sendiri dengan sosok anak kecil.


“Bukannya mbak Hani sudah tau?” Tanya pak Yanto balik.


“Hah? Iya aku tau punya kelebihan. Tapi aku gak bisa melihatnya. Cuman denger aja. Kadang juga aku merasa takut, sedih, sakit tiba-tiba padahal sebelumnya aku baik-baik saja.” Jelas Hani.


Kini pak Yanto paham, jika Hani sebenarnya tidak tau. Bisa di bilang ini adalah pengalaman pertamanya. Ingin sekali sebenarnya dia mengatakan apa yang kadang dia lihat. Tapi, dia tidak mu ikut campur urusan orang lain lagi. Pak Yanto pernah di jauhi oleh teman-temannya saat di sekolah dasar karena menceritakan apa yang dia lihat. Sejak itu dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.


“Oh....” Ucap pak Yanto.


“Oh?”


Hani sangat kecewa karena merasa di gantung oleh pak Yanto. Padahal dia pikir mungkin pak Yanto bisa membantunya untuk mengurangi efek seperti tadi. Tapi dia penasaran kenapa pak Yanto bisa bicara dengan mudahnya kalau Hani ketempelan.


“Pasti pak Yanto bisa melihat makhluk itu. Aku yakin.” Pikirnya.


Akhirnya terciptalah suasana hening dan canggung. Karena obrolan mereka berakhir begitu saja. Meksi begitu keduanya sama-sama tidak bisa pergi dari tempat itu. Hani ingin memastikan bahwa mamanya baik-baik saja. Sedangkan pak Yanto tidak enak meninggalkan Hani yang masih terlihat sedikit ketakutan.


Lima belas menit berlalu. Lima belas menit saja rasanya seperti satu jam. Akhirnya ada suara mobil yang di tunggu-tunggu yang di duga suara mobil pak Rian. Dengan sigap pak Yanto membuka gerbangnya. Ternyata benar. Mata Hani berbinar senang.


Pak Rian memberhentikan mobilnya tepat di depan Hani. Pak Beni dan Ratih keluar bersamaan dari mobil. Ratih langsung memeluk anaknya itu. Sedangkan Beni masih memperhatikan tubuh Hani. Dia pikir ada yang luka atau lebam, dia khawatir karena suara Hani saat menelepon tadi seperti orang ketakutan.


“Gak ada yang luka.” Gumam Beni.


Beni pun mengajak anak dan istrinya masuk ke dalam. Hani berjalan sambil bergelayut di lengan mamanya. Dia benar-benar takut kehilangan mamanya karena mimpinya tadi.


Sedangkan pak Rian yang penasaran kenapa Hani seperti itu menanyakan apa yang terjadi kepada pak Yanto. Pak Yanto pun hanya menceritakan kalau Hani sudah mimpi buruk. Mendengar itu terlihat wajah pak Rian berubah drastis. Pak Yanto yang penasaran pun bertanya.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Gini loh. Mbak Hani itu sebenarnya punya kelebihan. Tapi orang tuanya dari dulu gak mau mengasah mereka lebih ke berusaha menghilangkan bahkan menutupinya. Tapi sekarang, anaknya malah hilang ingatan. Sedangkan kelebihannya malah semakin menjadi setelah dia hilang ingatan. Katanya sih dia sempat mati suri gitu sebelum hilang ingatan.” Jelas pak Rian.


Pak Yanto mengangguk paham. Kini dia benar-benar tau kenapa Hani seperti itu. Rasa ingin membantunya semakin besar. Tapi apalah daya jika orang tuanya malah menutupi kelebihannya itu.


***


Di dalam rumah.


Hani menempel terus dengan mamanya. Bahkan dia ikut masuk ke kamar orang tuanya. Hingga terpaksa Beni harus ganti baju di kamar mandi. Hani menceritakan semua mimpinya yang dia ingat ke Ratih. Mendengar itu, dia merasa teriris hatinya. Dia sangat kasihan, dan takut jika kehilangan anaknya. Kejadian kemarin membuat Ratih semakin protektif kepada Hani. Seketika ide muncul. Dia akan menutup kelebihan Hani. Dia akan mendiskusikan semuanya dengan Beni terlebih dahulu.


Waktu semakin larut Hani masih berada di kamar orang tuanya. Ingin sekali Hani tidur di sana. Tapi, Beni selalu mendorong anaknya agar lebih berani. Beni juga sudah tau bagaimana mimpi Hani. Beni berusaha keras untuk meyakinkan bahwa itu hanyalah mimpi buruk. Semua orang pernah mengalami mimpi buruk.


“Mimpi buruk hanyalah sebentar, kamu kecil dulu juga pernah bermimpi buruk kan. Tapi lama-lama juga lupa.” Beni menasehati Hani.


“Waktu kecil kamu pasti di peluk mama. Biar kamu bisa tenang. Tapi sebentar lagi kamu kan kuliah. Katanya pengen kuliah di  luar kota. Masak iya mau bawa mama ke tempat kosmu?” Beni bercanda.


Seketika Hani tercerahkan. Dia pikir papanya itu benar. Sekarang dia merasa perasaannya lebih baik. Jadi dengan sendirinya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Sesaat Hani ke keluar, Ratih langsung membicarakan pemikirannya kepada Beni.


Sampai di kamar Hani.


Itu terasa jelas sekali. Karena Hani melihat dengan jelas bahwa ada lekukan kecil di sebelahnya. Seketika dia merasa ketakutan lagi dan merinding. Tetapi itu hanya berlaku selama kurang lebih sepuluh menit. Setelah itu, Hani tidak merasakan kehadiran orang lain di sisinya.


“Kakak.” Ucap Kiki.


Hani terkejut mendengarnya. Itu terdengar jelas. Entah karena malam atau suasana yang mencekam baginya ini membuatnya semakin peka?


“Tadi, itu aku lihat ular itu melilit di kakinya bapak-bapak yang kakak lihat tadi.”


Seketika Hani mengingat perkataan mama Jaelani saat itu. Dia langsung berpikir apakah kelumpuhannya itu di sebabkan oleh ular itu?


“Iya.” Jawab Kiki.


Hani lupa kalau Kiki bisa tau apa yang ada di pikirannya. Dia mencoba mengabaikannya. Dia berusaha untuk tidur. Tapi ternyata Kiki tidak membiarkannya. Terdengar beberapa benda berjatuhan, seperti pensil, buku dan juga parfum di meja rias Hani.

__ADS_1


“Apa?” Tanya Hani ketus.


“Main yuk kak.”


“Kenapa sih kamu selalu mengajak aku main. Aku capek.” Kini Hani mulai berani membantah.


“Aku kesepian kak.”


“Main sama sebangsamu sana.”


Tiba-tiba suasana jadi hening. Hani merasa tenang akhirnya dia bisa tidur nyenyak. Ternyata jika Hani berani maka, mahkluk itu tidak akan menganggu. Tapi itu  tidak berlangsung lama.


Brak!


Pintu kamar Hani menuju balkon terbuka lebar. Udara dingin masuk begitu saja. Hani langsung menggigil. Entah kenapa udara dingin bisa membuatnya menggigil. Ini masih pukul sembilan tapi udaranya bisa sedingin seperti saat berada di pantai malam hari.


“Kenapa pintunya bisa terbuka?” Ucap Hani yang bangkit dari tidurnya.


Dia memeluk dirinya sendiri sambil berjalan ke arah pintu yang menuju balkon. Dengan berat hati dia membuka lebar tangannya dan ingin menutup pintunya. Tapi, entah kenapa pintunya terasa berat sebelah seperti ada yang menahannya.


“Dingin....” Gumamnya sedikit menggigil.


“Ayo main kak.” Ucap kiki lagi.


“Ini ulahmu?” Geram Hani.


“Hahahahaha.”


Suara tawa yang menyebalkan itu menggelegar di ruangan ini. Hani ingin sekali meminta pertolongan dia mencoba melongok ke pos satpam. Tapi di sana pak Rian dan pak Yanto sedang asik mengobrol.


“Ayo main kak!”


Dengan terpaksa Hani menurutinya. Hani pun menurunkan beberapa bonekanya untuk di mainkan. Serta permainan ular tangga dan beberapa balok kayu yang biasa di gunakan bermain jengga.

__ADS_1


Dia tidak tau jenis kelamin anak kecil itu. Yang pasti dia akan mengeluarkan semua mainannya yang masih sering dia mainkan bersama budhe Inem. Hani berdiam diri di depan permainan yang berjajar. Dia sudah seperti penjual mainan di pinggir jalan.


Perlahan dia mulai melemas dan mengantuk. Awalnya dia menyandarkan diri di tepi ranjangnya tapi lama kelamaan dia tidur di lantai yang anehnya tidak dingin sama sekali.


__ADS_2