Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 55


__ADS_3

“Ih? Pacaran?” Ucap Hani lantang.


Hani perlahan menuruni anak tangga sambil menatap pak Herdi dan budhe Inem dengan wajah sinis. Dia merasa sedang di ejek sekarang. Tapi, dia tidak tau kenapa dia di ejek? Jadi, meski kesal dia penasaran dengan apa yang membuat mereka tertawa?


“Ck, kenapa sih? Nyebelin deh!” Kesal Hani yang sudah berdiri di depan pak Herdi.


“Ih? Marah?” Ucap pak Herdi jahil.


Hani semakin kesal dengan pak Herdi. Matanya menatap tajam pak Herdi. Bahkan dia juga hampir melotot dengan bibirnya manyun. Kemarahan itu membuat Hani jadi tidak penasaran dengan sebab mereka tertawa. Kemudian, dia menghembuskan napas berat dan pergi melewati pak Herdi dan budhe Inem.


“Loh, mbak bingkisannya ketinggalan.” Ucap pak Herdi berlari kecil menyusul Hani.


Reflek Hani menoleh dengan ekspresi sama marah hingga bibirnya manyun itu. Tapi, pak Herdi mengabaikannya dan langsung menyerahkan bingkisan itu ke Hani dengan senyuman. Dan Hani terpaksa menerimanya.


“Hah... semoga langeng ya mbak. Syukur syukur bisa merubah mbak Hani yang tomboy ini menjadi wanita seutuhnya.” Ejek pak Herdi.


“PAK HERDI!” Teriak Hani.


Dan pak Herdi langsung lari terbirit-birit keluar. Dia harus menyelamatkan diri sebelum amarah Hani meledak dan Hani akan membanting pak Herdi dengan mudahnya. Sedangkan budhe Inem, pura-pura membersihkan beberapa barang di ruang tengah dengan kemocengnya sambil sesekali melirik Hani.


Hani masih kesal, tapi tenaganya tidak cukup untuk berlari mengejar pak Herdi karena dia terlalu lapar. Pagi ini, Hani bangun dan langsung membersihkan kamarnya yang berserakan akan mainan-mainan itu. Dengan membersihkan mainan itu sendiri, Hani berharap bisa berkomunikasi dengan Kiki. Tapi, nyatanya tidak. Lalu, Hani melihat bingkisan itu.


“Hmm? Buat aku? Dari kak Adit? Hah?” Ucap Hani tidak percaya.


Selang beberapa menit, Hani hampir tersenyum. Tapi, dia ingat di sana masih ada budhe Inem yang sibuk membersihkan barang-barang dengan kemoceng. Kemudian dia berbalik badan membelakangi budhe Inem. Dan dia tersenyum. Siapa sih yang tidak senang mendapatkan bingkisan tiba-tiba seperti ini?


Hani berjalan ke meja makan dan meletakkan bingkisannya di sana. Untuk beberapa saat Hani masih memandangi bingkisan itu, karena tidak percaya. Kemudian, dia menuju dapur mengambil jus di dalam kulkas.

__ADS_1


“Mbak Hani mau di bikinin sarapan?” Teriak budhe Inem sambil mengintip dari balik tembok dapur.


“Enggak usah budhe. Aku bikin sendiri aja.” Balas Hani.


Budhe Inem kembali tersenyum dan melakukan aktifitasnya tadi. Bersih-bersih rumah dengan kemoceng kesayangannya itu.


Setelah Hani mempersiapkan sarapannya sendiri. Hani buru-buru ke meja makan dan duduk di sana. Dia makan dengan lahapnya roti panggang berlapis telur dadar, selada, tomat, mayonise,caus, dan timun itu. Dia memakannya dengan lahap sambil menebak-nebak apa yang ada di dalam kotak hijau di sebelahnya itu.


“Aaaaa.” Ucap Hani kegirangan.


Kemudian, dia buru-buru melahap makanannya, minum jus buah naga dan langsung membawanya ke wastafel dapur. Lalu, dia berlari kecil ke meja makan dan akan membuka bingkisan itu. Tapi, tiba-tiba dia teringat dengan ejekan pak Herdi dan budhe Inem tadi.


“Ah.. buka di kamar aja.” Ucapnya dan langsung menuju kamar.


Sampai kamar. Hani menutup rapat pintunya. Menguncinya hingga dua kali. Kemudian, dia duduk di atas kasurnya. Menyobek kerta pembungkus kotak itu. Ketika semua kertas sudah tersingkirkan terlihat kotak polos berwarna coklat itu. Dengan tidak sabaran Hani membuka kotak itu dan taraa.... Hani mendapat boneka panda yang lucu.


Dia mengambilnya dan membolak balikkan boneka itu. Dia juga mengangkat boneka itu ke udara dan tersenyum menatapnya. Dia benar-benar suka mendapat kejutan seperti ini. Kemudian, mata Hani tertuju pada sesuatu. Ternyata di mulut boneka itu ada gulungan kertas yang di tempel dengan solatip bening bersama daun daun buatan di mulut boneka.


“Huh? Apa tuh?”


Hani menurunkan bonekanya dan mengambil secarik kertas yang menempel di melepasnya dari mulut boneka panda. Dan membuka gulungan kertas itu. Ternyata ada secarik surat untuk Hani yang berbunyi ‘Semoga Hani senang ya. Ini hadiah karena Hani kemarin dapat nilai sempurna di lima mata pelajaran. Semoga semakin semangat belajarnya.’ Senyum Hani memerkah dan salah tingkah karena surat itu.


Di tempat lain.


Toni dan Tina menghela napas panjang. Mereka sedang memantau layar monitor yang memperlihatkan wajah Hani dari bawah. Mereka terkejut ketika tiba-tiba Hani memperhatikan kertas itu. Mereka kira Hani menyadari bahwa mereka memasang kamera super kecil di salah satu mata boneka itu.


“Ergh! Adit ceroboh. Kenapa di kasih surat di situ? Kenapa gak di taruh di kerdusnya aja sih!” Ucap Tina kesal.

__ADS_1


Toni juga ikut kesal. Tapi, dia masih bisa lebih sabar dari Tina. Dia cukup bersyukur ketika Hani tidak menyadarinya. Lalu, mereka masih memantau layar itu dengan seksama. Terlihat Hani sedang mencoba meletakkan boneka di suatu tempat. Hani juga beberapa kali memindahkan boneka itu sampai pada akhirnya dia meletakkan di suatu tempat menghadap kaca besar.


Kamera di boneka itu tidak bisa melihat sepenuhnya isi kamar Hani. Kamera itu hanya bisa menangkap separuh ruangan. Dari lemari besar dengan kaca besar hinga pintu keluar saja. Kamera itu tidak bisa memantau Hani yang lebih menghabiskan waktunya di tengah ruangan atau di kasur.


“Hiihh! Kenapa taruhnya di situ coba? Kan jadi gak tau dia ngapain aja. Sial!” Ucap Tina.


Tina benar-benar sangat kesal kepada Hani. Baginya apa pun yang di lakukan Hani itu salah. Tina terlihat memikirkan cara agar boneka itu bisa memantau hani selama Hani berada di dalam kamarnya.


Tony masih memperhatikan layar di depannya itu. Dia memperhatikan setiap detail dari ruangan yang terlihat itu. Mulai dari foto, jam dinding, lemari, kaca yang besar, bahkan hingga detail terkecil yaitu saklar lampu di tempok dekat pintu.


“Hah... sekarang, gimana caranya biar Adit bisa masuk ke kamar Hani?” Gumam Toni.


“Mau apa?” Tanya Tina.


“Ck, ish marah mulu. Itu, ada saklar lampu dekat pintu kan. Kita bisa modif dikit lah itu saklar lampunya. Jadi pas Hani tekan itu zzzttt dia kesetrum. Tapi, gimana caranya agar adit bisa masuk ke sana?” Jelas Tony


Bug!


Pukulan mendarat di punggung Tony. Tina memukul keras hingga berbunyi cukup nyaring. Dan Tony hanya bisa melotot dan mengusap punggungnya.


“Bod*h! Gak ingat apa? Kalau Adit bilang rumah ini di pasang banyak CCTV. Bahkan di ruang tamu aja ada juga CCTVnya.” Bentak Tina.


“Makanya pakai otak, gak pakai emosi. Kita susun strategi.” Ucap Tony sinis.


Tina yang kesal langsung pergi meninggalkan Tony dari ruangan itu. Sifat dan karakteristik saudara kembar itu seperti tertukar. Dimana Tony selalu yang memikirkan strategi dan rencana sedangkan Tina selalu bertindak gegabah dan menggunakan emosi. Mungkin jiwa mereka terluka?


“Hah... oke langkah selanjutnya Adit harus memastikan agar menaruh boneka di tempat yang strategis. Yah... setelah itu. Let’s  start hahaha.” Gumam Tony sambil mengangguk-angguk.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2