Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 13


__ADS_3

Setelah pak Rian menjelaskan Hani mengangguk-angguk kepalanya. Diantara kecewa dan juga penasaran apa yang telah terjadi sebelum dia hilang ingatan hingga dia di awasi oleh kedua orang tuanya.


“apa sih yang sebenarnya terjadi.”


Brak!


Gumamnya dengan bergetar karena kaget akan pintu yang tertutup tiba-tiba itu. Hani yang masih kecewa karena dia awasi oleh orang tuanya. Dia sempat berpikir bahwa pak Rian yang membanting pintunya karena dia yakin bahwa tadi papanya sempat mengomelinya.


“Pak Rian kurang....” Ucap Hani hampir mengumpat.


“Hahahaha.”


Tiba-tiba terdengar suara anak kecil tertawa terbahak-bahak. Suara anak kecil itu lama kelamaan semakin keras dan menggema seakan-akan ada banyak anak kecil yang tertawa. Hani merasa sangat ketakutan sehingga dia menutup kedua mata, telinganya serta menundukkan kepalanya. Di dalam benaknya, pasti sedang ada banyak anak kecil tidak kasat mata di sana. Dia ketakutan hingga menangis.


“Ma... pa... tolong.” Ucap Hani bergetar benar-benar ketakutan.


Tidak lama tiba-tiba suara misterius itu menghilang. Hani perlahan berhenti menangis. Dia mencoba membuka matanya pelan-pelan. Dia juga perlahan membuka kedua tangannya yang menutupi telinganya. Mata Hani bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kepala masih menunduk. Dia mencoba untuk mendeteksi suasana di kamarnya.


“Sudah pergi?” Gumamnya masih terisak.


Dia perlahan mendongak untuk memeriksa keadaan di sekitar sana. Merasa sudah aman dia bernapas lega. Hani kembali termenung, sebenarnya apa yang terjadi hingga harus mengalami ini? Di awasi 24 jam, mendengarkan serta merasakan hal-hal yang aneh. Seingatnya dia tidak memiliki kemampuan seperti ini.


“Apa sih sebenarnya yang terjadi. Aku kan penasaran. Lagian aku tuh gak merasa punya kelebihan aneh kayak gini. Aku bisa tanya siapa ya?”


Hani benar-benar berpikir keras. Dia sangat penasaran apa yang terjadi dulu. Dan juga dari mana asal kelebihan ini.


“Apa mungkin dulu waktu sekolah aku kemah terus ketempelan?”


“Atau dulu aku kena kesurupan masal?”


“atau aku dulu pernah main ke desa terpencil terus aku jail ambil sesuatu di sana yang membuat penunggunya marah?”


Semua kemungkinan yang Hani pikirkan adalah kemungkinan yang dia tonton di film dan juga dia baca di novel novel. Namun, kenapa Hani tidak mengingat sama sekali jika dia pernah melakukan hal yang dia pikirkan tadi?


“Tanya aja kak Jaelani.”

__ADS_1


Suara anak kecil itu tiba-tiba terdengar jelas di telinga Hani. Dia terkejut dan kembali takut. Tapi, yang di katakan anak kecil itu juga ada benarnya. Kenapa dia tidak tanya Jaelani? Dia ingat betul kalau dia itu tidak mengenal Jaelani. Pasti ada hubungannya dengan Jaelani. Apalagi kemarin dia juga di panggil ke pengadilan bersama Jaelani.


“Jangan ke rumah sakit lagi kak. Aku takut.” Ucap anak kecil itu lagi.


Kali ini Hani tidak setakut tadi. Rasa takutnya mulai berkurang. Kini dia mulai sedikit merasa bisa berteman dengan anak itu meskipun dia tetap was-was. Dia pikir anak kecil itu bisa membantunya untuk mengetahui masa yang terlupakan itu. Hani merasa mendapatkan keuntungan dari ini.


“Aku harus ke rumah sakit.” Ucapnya.


“JANGAN KAK!” Teriak anak kecil itu.


Mendengar teriakan itu membuat Hani kembali merinding dan takut. Saat ini dia merasa benar-benar sedang di permainkan perasaanya. Antara takut dengan anak kecil itu dan penasaran dengan asal dari kemampuan ini. Lagi pula satu-satunya yang bisa mengerti perasaan serta kegundahan ini adalah anak kecil ini.


“Aku akan bantu kakak. Tapi ayo mainan sama aku.” Ucap anak itu.


“Ka-kamu siapa?” Tanya Hani memberanikan diri.


“Kiki. Tadi aku sudah bilang kak.”


Setelah mendengar itu tiba-tiba Hani merasa suasana di dalam kamarnya menjadi seram dan mendung. Dia sebenarnya ketakutan tapi tidak di pungkiri bahwa dia merasa terbantu oleh keberadaan anak kecil itu.


“Gak usah cari in aku kak. Kakak gak bisa lihat. Tapi kakak bisa merasakan kehadiranku.” Ucap Kiki.


“Aku mau main petak umpet.” Lanjut Kiki.


Deg!


Jantung Hani seperti berhenti berdetak sejenak. Dia benar-benar takut dan ragu. Apakah dia telah di tipu oleh anak kecil itu? Apakah dia sudah masuk ke dalam jebakannya? Dia pun berpikiran untuk mundur saja. Namun, rasa penasarannya dan merasa membutuhkan anak itu kembali memberi keberanian kepada Hani untuk mencoba berteman dengan anak itu.


Hani berpikir lama sekali menimbang-nimbang antara mundur dan menuruti perkataan Kiki anak kecil tidak kasat mata itu.


“Gimana ini?” Pikir Hani.


“Tapi... saat ini hanya anak kecil itu yang bisa memahami perasaanku selama ini.”


Tiba-tiba Hani teringat kejadian dimana dia menolong papa Jaelani di pengadilan kemarin. Jika saja Hani tidak penasaran untuk pergi ke kamar mandi. Maka Dia tidak akan bisa membantu Jaelani kan? Disini Hani mulai yakin bahwa anak kecil itu menguntungkan baginya.

__ADS_1


“Hanya bermain kan?” Pikirnya.


Tanpa berpikir lagi Hani menyetujuinya. Dia benar-benar ingin tau apa yang terjadi di masa lalu. Sekaligus dia berpikir mencari cara bagaimana membuat kesepakatan dengan anak kecil itu. Agar dia tidak menjadi budaknya. Dia akan mencari sambil mengikuti kemauan anak kecil itu. Namun yang pasti saat ini. Hani sudah mengantongi satu ketakutan anak itu. Yaitu pergi ke rumah sakit menjenguk Jaelani.


“Hah.” Hani tersenyum miring setelah mendapatkan pencerahan.


“Oke mari kita main petak umpet. Tapi, bagaimana caranya?” Tanya Hani.


“Kakak yang berhitung. Aku yang sembunyi.”


“Tapi aku tidak bisa melihatmu.”


“Gunakan perasan kakak. Kakak bisa merasakan di mana aku berada.”


“Oke! Aku punya satu persyaratan.”


“Apa?” Tanya Kiki berpura-pura penasaran.


Kiki sebenarnya tau jika Hani hanya memanfaatkannya. Dia tau persis apa yang ada di pikiran Hani. Namun, dia pura-pura tidak tau. Dia ingin mengikat Hani dengan cara membuatnya terlena dan merasa sangat membutuhkan keberadaanya.


“Kamu tidak boleh pindah tempat. Dan tempat bersembunyi hanya boleh berjarak tujuh langkah dari tempatku berhitung. Selagi mencari, aku akan berhitung. Begitu aku menemukanmu sebelum hitungan ke seratus dua puluh. Kamu harus ikut aku ke rumah sakit bertemu Jaelani.” Jelas Hani.


“Baiklah.” Ucap Kiki.


Kiki tertawa kecil. Di sudah mengerti semuanya sebelum Hani mengucapkannya. Kali ini dia akan mengalah dan menuruti Hani. Meski dia akan bertemu makhluk ular menyeramkan itu. Karena dia pikir Hanya dengan ini Hani bisa mulai terlena akan keberadaanya. Kiki berniat akan mengikat Hani untuk selamanya di sisinya.


Merekapun memulai permainannya. Hani mulai berhitung sampai sepuluh. Kemudian dia mulai mencari keberadaan Kiki dengan perasaanya.


“Satu, dua, tiga, empat.”


Hani berhitung dengan lambat sambil fokus dengan perasaanya untuk menemukan Kiki. Tepat di hitungan tiga belas. Hani merasakan keberadaan sosok anak kecil. Dia merasa ada sosok anak kecil yang tingginya sepinggulnya. Ini baru pertama kalinya Hani merasakannya. Antara terkejut dan takut tidak bisa di bedakan.


“Apa ini nyata?”


~ Terima kasih, sudah mampir baca~

__ADS_1


__ADS_2