
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.
Hani sudah siap untuk les privatnya. Dia juga sudah mempersiapkan semua yang biasanya di butuhkan oleh Kiki. Kertas dan alat tulis yang di taruh di pojokan ruang tamu.
“Udah kayak sesajen aja.” Ucapnya.
Sambil menunggu kedatangan Adit, Hani menunggu di pos satpam sambil bertanya kepada pak Herdi kapan pak Yanto datang. Dia ingin menanyakan banyak hal tentang semua ini. Dia sudah tidak betah di ganggu.
Sampai di pos satpam. Hani langsung masuk tanpa permisi membuat pak Rian dan pak Herdi terkejut. Pak Rian yang kebetulan sedang meminum es campur jadi tersedak karena kehadiran Hani. Reflek dia menepuk punggung pak Rian yang tersedak itu.
“Hehe... maaf ya bapak bapak yang terhormat.” Ucapnya.
“Mbak Hani, ada apa?” Tanya pak Herdi.
“Anu... itu pak, pak Yanto kapan ya datangnya?” Tanyanya malu.
Pak Herdi dan pak Rian pun saling menatap. Mereka merasa aneh karena Hani tiba-tiba mencari keberadaan pak Yanto. Padahal mereka tau jika Hani dan pak Yanto jarang mengobrol karena saat pak Yanto berjaga di shift malam, Hani lebih menghabiskan waktu di dalam rumah.
“Pak Yanto datangnya jam enam mbak. Ada apa mbak?” Tanya pak Rian penasaran.
Ting tong.
Bel berbunyi. Serentak semua menatap layar pantauan CCTV. Ternyata adit sudah datang dengan motornya. Pak Herdi hendak berdiri membukakan gerbang, tapi di tahan oleh Hani. Karena Hani ingin kabur dari pos satpam dan tidak menjawab pertanyaan pak Rian.
“Biar aku bukain aja pak.” Ucap Hani berlalu.
“Mbak Hani kenapa sih?” Tanya pak Rian.
“Anak muda. Paling dia cuman basa-basi tanya tentang Yanto. Tujuan utamanya nunggu mas Adit kali. Modus lah.” Jelas pak Herdi.
Sedetik setelah itu, pak Herdi dan pak Rian lagi-lagi saling menatap penuh arti. Pikiran mereka sama yaitu, Hani menyukai Adit. Mereka langsung tersenyum karena senang Hani sudah mulai beranjak dewasa. Mereka sudah menganggap Hani seperti anak sendiri.
Di sisi lain, Hani membuka gerbang sambil tersenyum. Adit terkejut, kenapa yang membuka gerbang Hani? Sambil tersenyum juga? Apakah ada sesuatu?
“Hai kak Adit.” Sapa Hani.
“Hai.. tumben bukain gerbang.” Ucap Adit sambil mendorong motornya.
__ADS_1
Hani berjalan berdampingan bersama Adit sambil mengobrol. Wajah Adit yang lelah tadi berubah sedikit lebih ceria karena terpengaruh oleh keceriaan Hani. Pak Herdi dan pak Yanto mengintip dari pos satpam sambil bergosip ria.
Sampai dalam rumah, mereka belajar seperti biasa. Camilan dan minuman jus buah sudah tersedia di meja ruang tamu. Mereka mulai belajar bersama seperti biasanya.
***
Waktu berjalan begitu cepat karena Hani belajar dengan serius kali ini. Dia tidak kurang tidur dan juga tidak kekurangan semangat seperti kemarin yang tertidur saat belajar. Hari semakin gelap, tapi tidak terasa karena di ruang tamu Hani menyalakan lampunya dari sore jam tiga semua serasa sama saja. Bahkan saking seriusnya Hani tidak tau jika mama dan papanya sudah pulang.
“Waktunya udah habis Han.” Ucap Adit.
“Loh cepet banget kak?”
“Kamu serius banget sih ngerjainnya sampai lupa waktu tuh.” Ejek Adit.
Hani hanya tertawa mendengarnya. Dia memang sendang di bakar api semangat hari ini. Karena dia berpikir, dia akan segera bebas dari Kiki. Biasanya di film dan novel mereka akan pergi ketika urusannya di selesaikan.
“Oke deh.” Ucap Hani semangat.
Dia segera mengemasi alat tulisnya, begitu juga Adit. Setelah itu Adit berpamitan pulang. Hani juga ikut berdiri dia mengatakan ingin sekalian ke pos satpam bersama Adit. Merasa ada yang aneh dari Hani, membuat Adit jadi merasa di istimewakan. Dia tersenyum dan tersipu malu, namun di sembunyikan dengan ekpresi cool.
“Yes! Ketemu pak Yanto.” Pikir Hani.
Mereka berjalan bersama menuju gerbang. Sampai di pos satpam, Hani langsung menerobos masuk seperti tadi. Dia memanggil pak Yanto untuk membukakan gerbang untuk Adit. Dengan sigap pak Yanto berdiri dan membuka gerbang di ikuti Hani di belakangnya.
“Bener kata mas Herdi. Mbak Hani lagi kesemsem kayaknya.” Gumam pak Rian.
Grek!
Gerbang di buka. Adit mulai menyalakan motornya dan melaju keluar. Seblum itu dia sempat melambai ke Adit. Di balas dengan senyuman oleh Adit. Lagi-lagi pak Rian mengitip dari jendela pos satpam. Kini dia sangat yakin jika Hani ada rasa dengan Adit. Padahal Hani sangat ceria karena dia merasa akan segera bebas.
Grek!
Pak Yanto menutup gerbangnya. Tanpa ragu Hani langsung menyapa pak Yanto dan mengajaknya duduk di kursi panjang legend di depan pos satpam. Kemudian, Hani memintanya untuk tetap di situ menunggunya mengambil sesuatu.
Tidak lama Hani kembali dengan buku gambar di tangannya. Dia berlari kecil menuju pak Yanto. Dan pak Yanto kebingungan dengan tingkah Hani itu. Ini pertama kali baginya, berbincang bincang dengan Hani. Pak Rian hanya mengawasi dari dalam karena penasaran dengan Hani.
“Pak Yanto pernah bilang kan kalau aku ketempelan?” Tanya Hani.
__ADS_1
“Iya, ada apa mbak?”
“Kayak ini gak bentuknya?” Ucap Hani sambil menyodorkan buku gambarnya.
Pak Yanto membuka buku gambar itu, mengamatinya dan mengangguk. Lalu, dia menatap Hani penasaran dari mana dia mendapatkan sketsa itu. Dia juga melihat wajah Hani semakin ceria dari tadi.
“Yes!!!” Seru Hani.
“Tapi, dia gak berambut panjang mbak.” Ucapnya lagi.
Semangat Hani langsung turun mendengar itu.
“Dia berambut pendek, badannya setengah busuk, di rambutnya ada putih putihnya. Dan juga di lengannya ada memar seperti bekas cubitan.”
Pak Yanto menjelaskan semuanya karena dia melihat sosok itu sudah ada di belakang Hani. Pak Yanto sengaja menatap sosok itu tajam. Karena sosok itu juga menatapnya dengan tajam hingga bola matanya terlihat hampir keluar.
Tetapi, Hani merasa jika pak Yanto sendang menatapnya. Anehnya dia merasa merinding, dan di punggungnya terasa panas dan juga dia juga merasa sedang di perhatikan oleh seseorang.
“Sosok itu di belakang mbak Hani sekarang.” Ucap pak Yanto.
Deg!
Hani langsung ketakutan dan merinding. Begitu pula pak Rian yang mengintip dari jendela pos satpam. Pak Rian langsung lemas dan berjongkok bersandar ke tembok.
“Terus gimana pak?” Ucap Hani ketakutan.
Pak Yanto tidak menjawab. Hani berusaha menggoyang-goyangkan badan pak Yanto. Tapi, dia tetap menatap tajam belakang Hani.
“Pak! Jangan bikin takut.”
Wuss...
Angin dingin menerpa begitu kencang hingga rambut Hani mengarah ke depan semua dan menutupi mukanya. Dia mencoba meyibakkan rambutnya itu, tapi gagal karena angin terlalu kencang. Akhirnya dia berpegangan dengan tembok pos satpam.
Tidak lama angin itu berhenti. Hani langsung membuka matanya dan membersihkan rambut yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya dia melihat pak Yanto sudah duduk manis di kursi panjang depan pos satpam itu.
“Loh pak?” Ucap Hani heran.
__ADS_1
~Terima kasih teman-teman like, favorite, dan dukungannya. See you next episode (~