
Hani pikir budhe Inem melihat telapak jejak kaki kecil itu. Tetapi sebenarnya budhe Inem melihat seperti ada bayangan anak kecil berdiri di antara pecahan itu. Di mata budhe Inem itu terlihat jelas hingga membuatnya bengong.
“Budhe!” Teriak Hani.
Hani sudah memanggil budhe Inem berkali-kali namun tidak ada respon. Baru ada respon ketika Hani berteriak. Teriakannya mampu menyadarkan budhe Inem.
“I-iya mbak.” Jawab budhe Inem gagap.
Kini budhe Inem gemetaran setelah tersadar. Mukanya juga mulai pucat perlahan. Hani yang khawatir langsung menggenggam erat tangan budhe Inem yang ternyata sudah dingin.
“Budhe kenapa?” Tanya Hani panik.
Belum sempat menjawab budhe Inem pingsan. Hani panik, dia berteriak sekencang kencangnya. Dia lupa jika di dalam rumah hanya ada dia dan budhe Inem. Akhirnya dia pergi ke pos satpam meminta bantuan pak Rian dan pak Herdi.
***
Di sekolah SMA Negri 18.
Jaelani sedang menguap hingga matanya tertutup. Rasa kantuk benar-benar menyerangnya karena kemarin malam terjaga akibat ulah kakaknya yang minta di temani melalui telepon. Kakaknya sudah pulang tepat jam satu dini hari. Sampai rumah dia langsung beres-beres untuk ke rumah sakit. Karena takut sendirian dia di rumah menelepon Jaelani bahkan saat dia mandi pun ponsel juga dia bawa. Sekali-kali dia memanggil Jaelani memastikan teleponnya masih tersambung.
“Punya kakak penakut banget. Aku kan kemarin jadi gak bisa tidur.” Gumamnya sambil mengucek mata.
Tok tok tok
Suara meja di ketuk. Jaelani merasa ada yang mengetuk mejanya. Dia membuka matanya dan benar ada yang mengetuk mejanya.
“Nih Jae.” Ucap perempuan yang mengetuk meja Jaelani.
“Ha?”
Jaelani kebingungan karena tiba-tiba dia mendapat minuman kopi botol.
“Ini sebagai ucapan terima kasih. Tadi pas olahraga kamu nolongin aku.” Jelas perempuan itu.
“Ehh... gak masalah. Thanks ya kopinya.”
Jaelani tidak bisa menolak pemberiannya. Dia sangat membutuhkan kopi sekarang. Dia langsung membuka dan meminumnya. Membuat si pemberi merasa senang karena pemberiannya di terima.
“Eh... iya, aku masih belum hafal nih nama anak-anak. Kamu siapa?” Tanya Jaelani.
“Anggi.”
__ADS_1
“Terima kasih Anggi.” Ucap Jaelani lengkap dengan senyumnya yang menampakkan lesung pipitnya.
Anggi yang di beri senyuman itu menjadi salah tingkah. Antara malu, dan senang bercampur jadi satu. Akhirnya dia pergi begitu saja karena sudah terlalu malu.
“Eh?”
Jaelani kebingungan dengan tingkah Anggi. Setelah melihat kepergian anak perempuan itu. Jaelani menguap lagi. Dia benar-benar tidak bisa menahan kantuknya.
“Woy! Anak baru, tapi udah dapat perhatian dari ratu sekolah. Iri deh.” Ucap Ilham teman sebangku Jaelani yang tiba-tiba datang entah dari mana.
“Iya kan karena aku tolongin dia tadi.” Bantah Jaelani.
“Gimana gak nolongin. Orang kamu berada tepat di sampingnya kan. Kalau sampai gak bantuin yah gak peka namanya.” Ejek Ilham.
Jaelani hanya tersenyum mendengar perkataan Ilham. Dia merasa perkataanya itu benar. Kemudian, dia menguap lagi.
“Seharusnya mumpung istirahat gini. Langsung cuss ke UKS Jae. Istirahat ke dua kan waktunya lama bisa sampai dua puluh menit. Lumayan lah buat rebahan bentar.” Jelas Ilham yang sudah tidak tahan melihat Jaelani menguap terus-terusan.
“Emang boleh?” Tanya Jaelani.
“Boleh lah bro. Tapi udah telat. Lima menit lagi bel masuk.”
Jaelani kecewa kenapa dia tidak di beri tahu dari tadi. Dia marah-marah kepada Ilham. Tapi Ilham hanya berpura-pura tuli yang membuat Jaelani semakin kesal dan melayangkan tinju kecil ke bahu Ilham. Dan Ilham pun membalas dengan tinju yang lebih keras hingga Jaelani oleng.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua anak-anak sudah siap untuk pulang karena kebetulan jam terakhir jam kosong. Jaelani pun memanfaatkan jam kosong itu untuk tidur. Saat jam kosong memang di beri tugas tapi, tugas bisa di lanjutkan di rumah sehingga membuat sebagian murid malas mengerjakan termasuk Jaelani.
“Ni anak kayaknya tidur beneran deh?!” Ucap Ilham.
Ide jahil pun muncul di benak Ilham. Dia ingin membangunkan Jaelani dengan cara khas di kelas itu. Cara yang selalu di gunakan untuk mengerjai siswa atau siswi yang tidur di kelas.
“Woy!”
Ilham memberi isyarat ke teman-temannya. Seketika mereka pun diam menciptakan suasana hening. Kemudian Ada salah satu siswi maju ke depan dan mengambil penggaris kayu.
Brak brak brak
“Siapa itu yang tidur?” teriak siswi itu dari depan.
“Jaelani Bu.” Jawab siswa siswi lain kompak
__ADS_1
Jaelani yang merasa di panggil namanya bangun dengan tergesa-gesa. Kini dia masih ling lung menyesuaikan diri. Matanya terlihat merah gelap menandakan bahwa dia benar-benar tidur.
“Hahaha.”
Suara tawa bersautan di dalam kelas. Mereka satu persatu keluar kelas dan mengatakan agar Jaelani cepat sadar agar bisa pulang dengan selamat. Sebagian juga menyarankan untuk mencuci muka dulu sebelum Jaelani pulang.
“Ngantuk banget bro?” Tanya Ilham.
Jaelani hanya mengangguk lemas. Matanya berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk.
“Bro! Mending ga usah sekolah dulu deh. Istirahat dulu. Gimana keadaan ayahmu?” Tanya Ilham.
“Baik kok. Thanks ya udah pengertian.”
“Idih najis.” Sahut Ilham.
Jaelani hanya tersenyum. Kini kesadarannya sudah mulai kembali normal meski matanya masih sayu. Dia benar-benar bersyukur sekolah di sini. Terlebih dia mendapatkan teman yang baik sebaik sahabatnya Galih. Jaelani masih menganggapnya sahabat.
“Kelas ini seru ya.” Ucap Jaelani sambil beranjak.
“Jelas dong!!! Emang kelas mu dulu gimana?”
“Hah... kelasku dulu itu isinya saingan mulu. Hahh... gak ada hari tanpa diskusi. Bahkan buat yang cewek-cewek kalau ada yang merasa tersaingi nilainya, biasanya ada ritual perpecahan geng.” Jelas Jaelani.
Ilham hanya mengangguk-angguk tidak menyangka ada kelas seperti itu. Mereka pun saling berbagi satu sama lain perbedaan kelas sekolah ini dengan SMA Dahlia. Hingga tidak terasa sampai di tempat parkir dan mereka berpisah karena motor mereka berjauhan.
Jaelani membuka joknya dan mengeluarkan ponselnya. Dia mengaktifkannya dan menaruhnya di jok depan. Kemudian, dia bersiap memakai helm dan mengendarai motornya pulang.
Drrtt Drrtt
Ponsel berbunyi tepat setelah Jaelani memutar kuncinya.
“Untuk belum di nyalain.” Ucapnya mematikan motornya.
Dia membaca ada dua pesan masuk dari kakaknya dan Galih. Baru saja dia memikirkan sahabatnya itu. Kini dia mendapat pesan darinya. Dengan senyum yang memerkah, Jaelani kembali meletakkan ponselnya di jok depan dan menyalakan motornya.
Sampai rumah.
Jaelani langsung masuk, dan menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Rumahnya kini sepi sekali. Dia sangat merindukan suasana di sambut oleh mamanya saat pulang sekolah.
“Baru tiga hari di rumah sakit. Hah... rasanya udah gak enak.” Gumamnya.
__ADS_1
Setelah mengeluh kesal. Jaelani langsung bergegas mandi dan tidur. Dia ingin menuntaskan tidurnya yang kurang itu. Dia sudah meminta ijin ke kakaknya untuk tidur terlebih dahulu.