
Tidak terasa sudah siang. Hani tertidur karena menangis sekitar satu jam lamanya. Dia terbangun dengan badan yang sakit di punggung karena tidur di lantai. Matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, dan melihat ternyata di depannya masih beberapa makanan dan mainan yang masih berada dalam bungkus.
“Hoah.”
Hani merenggangkan tubuhnya sambil menguap lepas. Dia bangun dan mengumpulkan energinya.
“Huh... syukur bukan mimpi.”
Kruukkk.
Perut Hani berbunyi karena lapar. Tanpa basa basi Hani langsung melahap batagor yang sudah sedikit lembek. Hani memakannya sambil melamun. Dia memikirkan bahwa dia sudah tidak berdaya karena ingat ucapan Kiki tadi.
“Bukain mainannya dong kak.” Ucap Kiki jelas.
Hani hanya tersenyum miring. Baru saja dia memikirkan anak itu dan dia sudah muncul saja. Sepertinya benar, Hani tidak akan bisa lepas dari anak itu. Perasaan takut tadi datang, namun tidak sebesar tadi. Dengan malas dia membuka mainannya.
“Aku yakin pasti ada caranya.” Pikirnya.
Setelah membuka set mainan masak masakan, Hani sengaja menaruh mainan itu jauh darinya. Dia merasa sebal ketika melihat benda itu. Karena dia pasti akan memikirkan ucapan Kiki saat melihat mainan itu.
Saat Hani masih duduk termenung sambil makan batagor, budhe Inem masuk tanpa mengetuk pintu. Hani terkejut tapi, perasaan sedih, marah, takut dan menyesal karena membeli mainan itu sekarang lebih mendominasi dia memberikan wajah yang sendu dan malas.
“Mbak Hani.” Panggil budhe Inem.
Budhe Inem memperhatikan lantai yang berantakan itu. Ada pentol, maklor dan es degan yang sudah mengembun dan membasahi lantai. Kemudian, dia menatap mainan masak-masakan itu. Dia menatapnya terus terusan dengan wajah sedih. Hani mengetahuinya dan bertanya.
“Kenapa budhe?” Tanya Hani penasaran.
“Gak apa-apa mbak. Saya gak tau mbak Hani ada di dalam. Saya mau memasukkan baju bersih ini mbak.” Jelas budhe Inem.
Hani hanya mengkerutkan keningnya. Jawaban budhe Inem tidak seperti yang dia harapkan. Padahal dia bertanya tentang kenapa budhe Inem melihat mainan itu dengan wajah seperti itu. Sedangkan budhe Inem malah menjawab alasannya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah budhe Inem selesai memasukkan baju ke lemari, dia berdiri mematung di sana. Dia meneteskan air matanya. Entah kenapa budhe Inem itu sedih. Hani hanya menatap punggung budhe yang bergetar. Dia sangat penasaran terhadap sikap budhe akhir-akhir ini. Terlebih budhe Inem aneh setelah pingsan setelah kejadian benda yang di jatuhkan oleh Kiki di dapur. Hani masih berpikir bahwa budhe Inem melihat jejak kaki kecil di antara pecahan itu.
Tidak lama kemudian, budhe Inem berbalik dengan mata sembab. Hani mengerutkan keningnya lagi. Dia merasa budhe Inem sangatlah aneh tidak seperti biasanya. Karena penasaran yang sudah memuncak. Hani pun menghentikan langkah budhe Inem.
“Budhe Inem kenapa?” Tanya Hani sambil mengusap punggung budhe Inem.
“E-enggak m-mbak.” Jawab budhe Inem gagap menahan tangisnya.
“Cerita aja. Yah, walau aku gak bisa bantu. Seengaknya budhe lega.”
Setelah mengatakan itu Hani memeluk budhe Inem. Dia memeluknya erat hingga berhasil membuat budhe Inem nyaman dan meneteskan air mata semakin deras. Hani menepuk nepuk punggung budhe Inem. Kemudian, dia menuntunnya ke tempat tidurnya. Mendudukan budhe Inem di pinggir ranjang dengan masih menepuk punggung budhe Inem pelan. Hani masih menunggu, mungkin budhe Inem mau bercerita.
Beberapa menit berlalu, budhe Inem sudah tenang kembali. Dia mulai menceritakan kepada Hani.
Flashback budhe Inem.
Sepuluh tahun yang lalu. Budhe Inem baru saja melahirkan seorang anak perempuan. Itu adalah anak keduanya. Semua orang menyambut dengan suka cita kelahiran anak perempuan itu. Semua berkerumun di dalam kamar budhe Inem.
“Syukurlah lahir sehat.” Ucap budhe Inem.
“Lucunya.”
“Duh wajahnya mirip kakaknya ya.”
Bertubi-tubi pujian di lontarkan kepada bayi yang di gendong budhe Inem. Bayi itu memang menggemaskan membuat semua orang yang di sana ingin sekali mencium, menggendong bahkan mengelus kepalanya yang masih rentan itu.
“Ibuk!” Panggil seorang anak kecil yang menerobos masuk.
“Apa mbak?” Tanya budhe Inem lembut.
“Mainan ku mana? Ibuk janji beliin aku masak-masakan.” Rengek anak itu.
__ADS_1
Budhe Inem hanya tersenyum lembut menatap anak perempuan pertamanya itu. Dia memang sudah menjanjikannya untuk membelikan mainan tapi, karena budhe Inem melahirkan uangnya terpakai untuk biaya persalinan. Anak itu berusia tujuh tahun.
“Mbak, ibuk habis lahiran. Belum ada uang mbak. Nanti ya kalau ada rejeki kita beli. Sekalian buat mainan adik.” Jelas budhe Inem.
Anak kecil itu langsung cemberut. Dia marah dan berteriak, kemudian menangis.
“Aku sudah mengumpulkan uang dari tiga bulan lalu buat beli mainan. Tapi uang ku di pakai. Ibuk jahat gak sayang aku.” Ucapnya kemudian berlari keluar.
Kala itu hati budhe Inem terasa seperti teriris-iris. Dia sangat menyayangkannya. Namun, tidak ada pilihan lain karena memang uangnya tidak cukup. Budhe Inem sudah berniat untuk menganti rugi. Tapi, apalah daya kebutuhan pasca melahirkan pasti lebih besar.
Budhe Inem hanya berharap ada keluarga lain yang menghentikan anak pertamanya itu untuk tidak pergi jauh. Namun, ternyata tidak. Semua terlalu sibuk untuk menyiapkan selamatan semua memang melihat anak itu lari tapi mereka tidak memperhatikan jika anak itu berlari samil menangis.
Hingga malam tiba. Malam itu, ramai banyak tetangga yang datang untuk syukuran lahiran. Mereka duduk di karpet tipis yang di gelar oleh keluarga budhe Inem. Semua mengaji serentak. Budhe Inem sudah mulai sadar, karena dari tadi tidak melihat anak perempuannya itu. Dia pikir anaknya masih marah dan tidak mau menemuinya dan berpikir dia sedang saudara atau sepupu lain yang ada di sana.
Satu jam berlalu, acara selamatan sudah selesai. Semua sibuk membersihkan sisa acara tadi. Budhe Inem mulai panik karena dia tidak melihat dimana anaknya itu. Dia juga sudah bertanya ke beberapa saudara dan mereka menjawab ‘mungkin lagi main’ dan kembali bekerja.
“Pak, Kiki dimana?” Tanya budhe Inem kepada suaminya.
“Lah... palingan main sama sepupunya.” Jawab suaminya santai.
“Coba cek. Masak dari tadi aku gak lihat Kiki.” Perintah budhe Inem karena sudah sangat panik.
Suami budhe Inem pun mengangguk dan mencari anaknya. Dia mencoba bersabar karena sudah di bentak istrinya. Dia berpikir mungkin ini hormonal setelah melahirkan. Sedang budhe Inem di kamarnya mulai gelisah. Perasaanya dari tadi siang sudah tidak enak. Dia selalu memikirkan anak perempuan pertamanya itu.
“Kiki... duh nak.”
Budhe Inem menunggu cukup lama hingga sekitar sebelas malam. Suaminya tidak kunjung kembali. Ketika bertanya ke keluarga lain dimana suami dan anak pertamanya. Mereka serentak menjawab ‘masih jalan-jalan cari ice cream’ tapi, entah kenapa perasaanya tetap tidak tenang.
Semua orang berusaha untuk menenangkan budhe Inem. Bahkan mereka juga menyuruh budhe Inem untuk tidur. Budhe Inem terus menolak hingga tidak terasa dia terjaga hingga pukul tiga dini hari. Saat itulah, suaminya masuk ke kamar dengan wajah sedih.
“Kemana aja kok lama? Kiki mana?” Tanya budhe Inem.
__ADS_1
“Kiki....”
~Terima kasih teman-teman likenya. See you next episode~