Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 15


__ADS_3

“Di pelototi?” Tanya Beni.


“Iya pak.”


“Coba jelaskan dari awal. Dari sebelum Hani lemas.”


Kini semua memperhatikan pak Rian. Termasuk pak Yanto. Dia jadi penasaran dengan ceritanya. Pak Rian menjelaskan bahwa sore sekitar pukul empat dia berangkat ke rumah sakit bersama Hani.


Dia menjelaskan bahwa Hani ingin bertemu dengan suster Sari yang telah merawatnya dulu. Sampai di rumah sakit. Tiba-tiba perut Hani katanya mules. Setelah beberapa lama Hani kembali dengan kakinya yang pincang. Pak Rian juga menjelaskan bahwa Hani katanya terkilir.


Tidak sampai di situ pak Rian juga menjelaskan saat dia meninggalkan Hani untuk mengejar Sari. Dia bercerita dengan malu-malu. Karena ini adalah aib baginya. Namun, saat pak Rian masih mengobrol dengan suster Sari. Tiba-tiba ada satpam rumah sakit memapah Hani yang sudah lemas. Berdasarkan keterangan pak satpam Hani sudah lemas sejak perjalanan keluar.


“Kenapa Hani lemas?” Tanya Beni di tengah cerita pak Rian.


Pak Rian tidak tau asal mula Hani lemas. Kemudian dia membawanya pulang dan memberikan cipratan daun kelor untuk Hani. Jujur pak Rian takut jika Hani ketempelan karena dia habis dari rumah sakit yang konon katanya banyak hantunya.


Beni pun mengangguk paham. Pak Rian melanjutkan seluruh ceritanya. Dia juga bilang bahwa saat meninggalkan Hani yang sudah sadar setelah di ciprati daun kelor dia membuka pintunya. Dia sengaja melakukan itu agar jika terjadi apa-apa terdengar. Kemudian Beni menelepon maka pak Rian mengantar teleponnya ke kamar Hani saat itu juga pak Rian terkejut karena Hani menoleh dengan mata melotot meski begitu dia tetap melalukan panggilan Video. Setelah itu pak Rian kembali lagi ke ruang tamu. Lalu, semua orang bergegas pulang tanpa mendengar ada yang aneh dari kamar Hani.


Beni benar-benar Heran apa yang membuat Hani melotot serta kapan Hani pingsan? Jika mereka semua keluar rumah pukul setengah tujuh. Itu berarti masih ada budhe Inem di dalam rumah yang harusnya mendengar jika Hani terjatuh pingsan. Mengingat budhe Inem keluar rumah pukul tujuh malam. Beni langsung menelepon budhe Inem.


Satu panggilan tidak terjawab. Beni mencoba lagi, dan tidak terjawab lagi hingga panggilan ke lima. Rasa penasaran dan pikiran buruk terhadap budhe Inem semakin menjadi. Beni pikir budhe Inem sengaja membiarkan Hani pingsan karena lelah dengan tingkah aneh Hani.


Ting tong.


Bel berbunyi, pertanda ada orang di depan gerbang. Pak Herdi langsung kembali ke pos dan memeriksa siapa yang datang. Ternyata dia adalah dokter keluarga. Pak Herdi pun bergegas membuka pintu gerbang itu.


Greekkk

__ADS_1


Silau dari lampu mobil menerangi pak Yanto, pak Rian dan Beni. Mobil itu pun masuk dan parkir di halaman rumah. Beni langsung menghampiri dokter itu dan menyuruhnya masuk.


“Waduh! Mbak Inem dalam bahaya ini.” Ucap pak Rian.


“Gimana ini? Kita coba telepon?” Tanya pak Herdi.


“Gimana ya?” Pak Rian malah balik tanya.


“Mohon maaf, saran saya sih. Biarkan pak Beni yang menelepon. Karena kita semua tidak tau apa yang terjadi di dalam selama setengah jam yang tersisa itu. Takutnya malah kita salah langkah.” Ucap pak Yanto.


Pak Rian dan pak Herdi berpikir sejenak. Meski mereka yakin budhe Inem tidak akan melakukan hal buruk kepada Hani. Alangkah baiknya jika mereka tidak ikut campur. Benar kata pak Yanto takut jika salah langkah. Lagian mereka juga tidak mau di salahkan jika terjadi sesuatu yang tidak di harapkan. Mengingat mereka benar-benar tidak tau apa-apa. Akhirnya mereka kembali ke pos satpam dengan cemas.


Sedangkan di dalam kamar Hani.


Dokter memeriksa keadaan Hani yang sudah membaik itu. Dokter menjelaskan kemungkinan ini karena kepala Hani pernah kena benturan sehingga dia sering lemas dan pingsan. Selain itu ada kemungkin lain yaitu stress berkepanjangan yang membuatnya merasa lelah dan malas berbuat apa-apa serta perasaaan yang tidak menentu hingga membuatnya pingsan. Dokter menyarankan untuk memberikan hiburan meskipun sekedar jalan-jalan keluar bersama.


“Oh gitu ya dok? Tapi kami setiap hari Minggu menghabiskan waktu bersama.” Jelas Beni.


“Atau bisa juga adik Hani ingin kembali ke sekolah dan mengenal lingkungan baru?” Lanjutnya.


Seketika Ratih dan Beni terdiam. Mereka berpikir kenapa tidak memikirkan hal itu. Mungkin kata dokter itu benar. Mungkin Hani ingin lingkungan baru. Bertemu orang baru juga. Karena Hani adalah tipe anak yang suka bersosialisasi.


Setelah itu mereka berbincang-bincang mengenai obat dan tips dan trik agar Hani tidak stress. Dokter juga memberi saran jika tidak kunjung membaik agar di bawa ke rumah sakit besar. Kemudian, dokter berpamitan pulang. Beni pun mengantarnya sampai depan rumah.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ratih juga sudah selesai menyuapi Hani dan memberikannya obat. Kini dia sedang duduk memeluk anaknya sambil mengelus kepalanya. Hani yang merasa kenyang serta nyaman pun tertidur dalam waktu yang cukup cepat. Setelah Hani tertidur, Ratih memanggil Beni melalui telepon untuk membenarkan posisi Hani agar nyaman untuk tidur.


“Pa... apa kita cari guru privat dulu buat Hani? Ini kan sudah dua bulan kan Hani gak belajar.” Tanya Ratih.

__ADS_1


“Yah... kita tanya besok saya lah ma. Papa rasa dua bulan itu masih singkat untuk memulihkan trauma Hani. Apalagi dia masih belum terbiasa dengan kelebihannya itu. Satu persatu ma.” Jelas Beni.


Ratih mengangguk dan menuruti perkataan Beni. Dia juga tidak sabar untuk besok segera menanyai Hani. Kemudian, Ratih kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk mandi dan tidur. Sedangkan Beni masih terjaga memikirkan sesuatu.


***


Keesokan harinya pukul 05.30.


Ting tong.


Suara bel berbunyi. Pak Herdi bergegas membuka gerbang di ikuti pak Rian di belakangnya. Sedangkan pak Yanto masih tertidur pulas di pos satpam. Seharusnya kemarin sore pak Yanto pulang. Tetapi tidak jadi karena Keadaan Hani yang tiba-tiba membuat panik. Hingga dia memutuskan untuk bermalam di sana.


“Mbak gimana?” Tanya pak Rian panik.


“Opo seh Rian iki? Nanti ae lah. Tak masak.” Ucap budhe Inem.


Namun, pak Rian malah mengekor budhe Inem. Dia masih belum ada tugas pagi ini. Jadi masih ada kesempatan untuk mendengar penjelasan budhe Inem. Sedangkan pak Herdi hanya bisa kesal karena tidak bisa ikut. Meski di sana ada pak Yanto. Ini masih masuk jam kerjanya. Jadwal shift di mulai har ini. Pak Herdi shift pagi dan pak Yanto shift sore.


“Aduhhhh... penasaran aku.. tapi gimana ck.” Pak Herdi mengeluh entah kepada siapa.


Di dapur.


Budhe Inem meletakkan tas legend yang selalu di bawa ke pasar di meja makan. Mengeluarkan beberapa sayuran, bumbu instan, dan berbagai rempah. Kebetulan stok di dapur habis. Jadi hari ini budhe Inem belanja banyak.


“Gimana mbak?” Pak Rian masih rewel.


“Husss... cuci in sayur ini. Bantuin masak. Nanti biar cepet selesai dan bisa dengar dongeng.” Ucap budhe Inem santai.

__ADS_1


Pak Rian pun menurut tanpa protes.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2