
Hani panik, dia lupa kalau masih ada budhe Inem di rumah. Dia mencoba memikirkan jawaban apa? Tidak terasa budhe Inem sudah berdiri di samping Hani. Budhe Inem menatap beberapa barang di meja makan, ada beberapa makanan dan juga satu mainan. Budhe Inem hanya tersenyum melihat itu. Sedangkan Hani masih panik, hingga dia melihat mainan itu. Terlintas suatu ide.
“Ini loh budhe, mau main masak-masakan jual beli gitu. Hehe.” Ucap Hani kaku.
“Mau saya temani mainnya?” Budhe Inem menggoda Hani.
Dengan cepat Hani menolak. Dia malu, karena merasa terlihat seperti anak kecil saja. Hani pun memutuskan untuk membawa beberapa barangnya ke kamar. Sedangkan budhe Inem hanya menggelengkan kepala dan merasa sedih melihat keadaan Hani. Dia takut jika mentalnya terganggu karena kesepian.
Sampai kamar.
Hani mengunci pintunya dan menaruh barang-barangnya di lantai. Dia menghela napas panjang. Kemudian, dia menepuk keningnya karena lupa membawa mangkok dan sendok untuk makan.
“Gara-gara kamu. Aku jadi akting terus-terusan deh.” Kesal Hani jelas kepada Kiki.
Sreet!
Tiba-tiba mainan yang Hani beli bergeser. Meski kaget Hani sudah paham jika sosok itu ada di sini. Dia sengaja diam saja. Dia malah mengoceh mengeluarkan semua unek-uneknya karena baginya ini adalah kesempatan emas.
Setelah lega mengeluarkan semua unek-uneknya. Hani merebahkan diri di lantai. Meski dingin Hani merasa lega dan nyaman sekarang.
“Aku sudah tau.” Ucap Kiki tiba-tiba.
Hani langsung bangun dari tidurnya. Dia sekarang merasa lebih kesal dari sebelumnya. Dia merasa sangat di bodohi dan juga di permainkan oleh sosok itu. Terlintas dalam pikirannya untuk segera menyingkirkan sosok ini.
“Tidak bisa.” Lanjut Kiki lagi.
“Aku suka sama kakak. Aku gak mau pisah sama kakak. Aku akan selamanya bersama kakak.” Jelas Kiki.
Seketika Hani merasakan tubuhnya merinding dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia sangat takut, jika Kiki akan mengikutinya terus. Dia tidak mau hidup bersama sosok seperti itu. Hani mulai ketakutan hingga ingin menangis. Sekarang, dia tidak tau harus berbuat apa.
“Tenang kak. Aku akan membantumu saat kamu kesusahan. Percayalah.” Ucap Kiki.
Hani tidak percaya, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. Nafsu makannya pun hilang seketika. Hani menangis ketakutan dan merasa tidak berdaya saat ini. Hani menangis terus hingga dia tertidur lagi.
***
Di tempat lain.
Di sekolah.
Jaelani sedang tidur di dalam kelas. Kebetulan saat ini jam kosong dan hanya di beri tugas yang ringan. Jaelani sudah mengerjakan tugas itu dengan cepat karena kebetulan otaknya sedang bisa di ajak kompromi. Sehingga dia bisa tidur di sisa jam kosong.
Ilham teman sebangku Jaelani sedang sibuk menyalin jawaban Jaelani. Dia sudah tau, jika Jaelani pasti memanfaatkan jam kosong untuk tidur. Dia juga tau, setelah papanya terkena stroke Jaelani sering terbangun tengah malam karena kadang mamanya meminta bantuannya untuk menganti pempes papanya yang penuh.
__ADS_1
“Benar-benar anak yang berbakti.” Ucap Ilham menatap Jaelani tertidur.
“Hiyyy... ngapain kok melihatnya sampai segitunya.” Sahut salah satu teman laki-laki yang duduk di belakang mereka.
Ilham langsung menyekap mulut anak itu. Tidak tanggung-tanggung dia juga menyeret anak itu ke belakang kelas. Si anak laki-laki itu menggigit tangan Ilham yang di gunakan menyekap mulutnya.
“Aw.” Rintih Ilham.
“Cuih, asin.”
“Diem!” Bentak Ilham.
“Kamu gak tau sih gimana kehidupan Jaelani!” Lanjutnya tegas.
Seketika mata anak tadi berubah jadi tatapan serius. Dia penasaran dengan apa maksud dari Ilham itu. Namun, Ilham tidak memberitahukan maksudnya. Dia meninggalkan anak itu dan kembali ke tempat duduknya.
Anggi memperhatikan Jaelani dari jauh. Dia bisa melihat wajah Jaelani dengan jelas karena saat itu Ilham belum kembali ke tempat duduknya. Dia sangat penasaran kenapa Jaelani selalu tidur di dalam kelas ketika ada kesempatan. Hingga pandangannya terganggu lagi oleh Ilham yang sudah kembali ke asalnya.
“Dih! Si Ilham ganggu aja.” Gumamnya kesal.
“Hayoo... ketauan Anggi.” Goda salah satu teman dekatnya yang tidak lain adalah Nila.
Anggi hanya bisa menatap sinis sahabatnya itu. Dia merasa sedang mood untuk bercanda karena pandangannya terhalang oleh Ilham.
“Kenapa?” Tanya Anggi penasaran.
Nila pun menjelaskan semuanya kepada Anggi. Dia tidak sengaja mendengar percakapan Ilham dan Jaelani saat mereka bertugas mengembalikan alat olahraga ke gudang tadi pagi. Saat itu Nila juga sedang bertugas karena kebetulan Nila dalam satu team piket hari ini.
Nila tidak sengaja mendengar semuanya. Saat dia hendak masuk mengembalikan bola volly. Dia mendengar percakapan Ilham dan Jaelani yang masih berdiam diri di dalam gudang. Dia mendengar bahwa Jaelani sering mengantuk karena di malam hari dia sering terjaga. Jaelani menceritakan semua penyebab yang membuatnya terjaga kepada Ilham. Nila pun menceritakan semua kepada Anggi dengan versinya.
“Kasihan ya? Mana kakaknya lagi skripsian. Yah walaupun mereka gantian bantuin mamanya tetep aja pasti gak bisa tidur tenang.” Ucap Anggi merasa iba.
“Nah kan. Ini kesempatan kamu buat deketin dia Ngi. Jadi kamu baik baikin dia, perhatiin dia. Kali aja bisa jadian. Hehe.” Ucap Nila asal.
Tidak di sangka Anggi menyetujuinya. Nila terkejut dengan itu. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya bisa terpengaruh dengan omongannya yang asal-asalan. Ini juga pertama kalinya melihat Anggi sangat ambisius kepada laki-laki. Karena yang Nila tau Anggi hanya berambisi terhadap nilai di sekolah.
“Beneran?” Tanya Nila tidak percaya.
“Gimana sih? Situ yang kasih saran. Situ yang tanya?” Ucap Anggi sedikit kesal karena kehilangan kepercayaan dirinya.
“Eh?” Nila hanya bengong.
Kemudian, Anggi berpikir untuk membelikan Jaelani kopi susu seperti biasanya. Dia ingin merebut Hati Jaelani dengan perhatiannya. Dia sangat yakin bahwa dia bisa bersama dengan Jaelani. Karena dia merasa bahwa di sekolah ini dia adalah sang ratu yang di harapkan oleh sebagian besar laki-laki di sekolah ini.
__ADS_1
Sedangkan Nila sangat menyesal karena dia berbicara tanpa berpikir panjang. Dia merasa sudah merubah sifat sahabatnya yang tidak memperdulikan tentang pacaran. Tapi kini, sahabatnya malah tertarik dengan hal itu. Dia takut jika nilai Anggi akan turun karena ambisinya kepada Jaelani. Terlebih lagi. Anggi adalah anak yang keras, dia tidak akan menyerah jika belum mendapatkan apa yang dia mau. Sejujurnya Anggi adalah anak yang bermuka dua. Dia pandai membolak balikkan kata dan dia sering memasang ekspresi polos.
“Wah. Salah ngomong nih.” Gumam Nila menyesal.
Kring....
Waktu berlalu, bel ganti pelajaran berbunyi. Semua siswa siswi mengumpulkan tugasnya ke ketua kelas. Karena Jaelani masih tidur. Ilham mengumpulkan tugas teman sebangkunya itu ke ketua kelas. Kemudian, dia membangunkan Jaelani.
“Hmmm...” Gumam Jaelani masih belum sadar sepenuhnya.
“Udah bel. Bentar lagi pelajaran Fisika. Bangun, cuci muka sana bro.” Perintah Ilham.
Jaelani mengangguk dan bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Ilham merasa sudah menjadi pahlawan yang membangunkan Jaelani.
“Hah... emang aku tu teman baik banget.” Gumamnya.
Tidak lama Jaelani kembali dengan tergesa-gesa. Ternyata di kelas guru Fisika sudah datang. Dia panik, dia baru ingat kalau belum mengumpulkan tugas sebelumnya. Dia bertanya kepada Ilham.
“Ham, aku belum ngumpulin tugasnya. Gimana dong?” Tanyanya.
“Tenang. Udah aku kumpulin.”
“Thanks bro.”
Jaelani bernapas lega. Baru saja menetralkan kembali detak jantungnya. Ibu guru fisika memanggil namanya. Jantungnya berdetak kencang kembali. Dia takut jika di suruh maju ke depan untuk mengerjakan pekerjaan di papan.
“Iya bu.” Jawabnya.
“Pandu, Hengki dan terakhir Mino. Kelompok lima.”
“Hahh... ternyata pembagian kelompok.” Gumamnya.
“Weh... satu kelompok sama Anggi nih.” Ucap Ilham.
“Hah?”
Jaelani melotot ke Ilham. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif dengan nama itu. Dia sudah mulai muak karena gosip tidak benar itu. Dia bertanya siapa saja yang berada di kelompoknya itu karena dia tidak mendengar nama sebelumnya.
Ilham hanya menggeleng dan menunjuk papan tulis dengan dagunya. Di sana terlihat sekretaris kelas sedang menulis kelompok terakhir. Kemudian, Jaelani terkejut karena sudah tertulis nama masing-masing kelompok dengan tugas setiap kelompoknya sekalian.
“Apa lagi nih?” Kesalnya.
__ADS_1