Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 75


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu di singgah sana Tony.


Tony memantau Adit yang dibopong oleh anak buahnya. Dia hanya memantau dari lantai dua rumahnya tanpa ada inisiatif membantu, entah hati nuraninya kemana padahal Adit adalah keponakannya.


“Pasti dia minum juga minuman yang udah di beri obat. Ck ck ck.” Tebak Tony.


Tony masih menatap tajam Adit dari sana, menunggu kehadiran Adit dengan berdiri malas menekuk sebelah kakinya dan sedikit bersandar di pagar lantai dua. Tetapi begitu sampai di lantai dua Adit berhenti sejenak dan membukukan badannya lebih ke bawah. Tony mulai sedikit khawatir tapi masih tidak bergerak dari tempatnya.


Beberapa saat kemudian, Adit mulai menegakkan punggungnya kembali sambil berusaha melepaskan lengannya dari kedua anak buah Tony yang berada di sisi kanan dan kirinya. Dan tiba-tiba, Adit mundur beberapa langkah kebelakang dan kehilangan keseimbangannya.


Brak!


Adit mengelinding melalui tangga dan berakhir di lantai satu. Kepala Adit mengeluarkan banyak darah segar. Tony dan anak buahnya buru-buru turun menolong Adit. Tony turun sambil meneriaki anak buahnya yang di anggapnya tidak becus mengurus Adit karena mau saja melepaskan tangan Adit yang masih lemas tidak berdaya.


“Heh! Botak! Panggil ambulance!” Perintah Tony.


Begitu sampai di lantai satu, Tony mengangkat kepala Adit memeriksa kepala mana yang mengeluarkan darah kemudian dia memerintahkan salah satu anak buahnya membawakan air bersih dan kasa. Tidak beberapa lama kemudian si anak buah yang di suruh tadi kembali.


Tony langsung meminta anak buah itu menuangkan air itu ke lantai dan dia mencuci tangannya dengan air mengalir itu. Lalu, dia mengambil kasa setebal mungkin dan menutup lukanya menggunakan kasa itu sambil menekannya. Keringatnya menetes begitu Adit di rasa semakin lemas. Dia panik akan menjawab apa kepada kakaknya jika terjadi apa-apa dengan Adit.


“Bawakan aku helm!” Ucap Tony sambil melotot ke salah satu anak buahnya.


Anak buah yang merasa di pelototi bergegas mengambil helm. Setelah dapat, Tony menyuruhnya memakaikan helm itu di kepala Tony. Anak buah Tony semua bingung dengan tingkahnya. Mereka saling menatap satu sama lain.


Beruntung ambulance segera datang. Para perawat menerobos masuk. Mereka langsung mengangkat Adit dan membawanya masuk ke ambulance. Tony sengaja tidak ikut, dia menyuruh salah satu anak buahnya dengan kasar lagi.

__ADS_1


“Botak! Temani Adit, jika harus rawat inap. Pilih kamar VVIP. Gunakan kartu kredit atas namamu itu.” Perintah Tony.


Si anak buah itu menurut dan pergi menyusul Adit. Setelah di rasa aman. Tony berjalan ke belakang membersihkan tangannya yang penuh dengan darah. Kemudian, dia melepas helmnya dan berjalan cepat ke kamar mengambil ponselnya untuk menelepon Tina. Setelah Tony melewati anak buahnya yang membersihkan bekas kecelakaan. Parah anak buah bergumam.


“Bisa ya keponakannya kesakitan dia cuman berdiri aja?”


“Kasihan mas Adit masih mudah jadi alat.”


“Kita juga alat.”


“Iya juga.”


“Kalau gak terpaksa demi anak istri mending keluar dari sini. Tapi, kalau sudah masuk udah gak bisa keluar.”


Anak buah Tony mengepel lantai sambil mengeluarkan keluh kesah mereka. Memang jika sudah bekerja dengan Tony dan Tina tidak ada yang boleh keluar dari sana. Mereka terikat kontrak selamanya. Mereka tidak boleh pulang menengok keluarganya sekalipun, bahkan untuk menelepon saja tidak boleh. Salah satu cara mereka berkomunikasi hanya melalui surat, maka mereka hanya mengandalkan rasa percaya.


***


Tony sudah sampai di kamarnya. Di mencari ponselnya dan menelepon  Tina. Saat di angkat, Tony tidak memiliki kesempatan untuk berbicara karena Tina sudah berbicara panjang lebar. Hingga akhirnya Tony membentak Tina dan  langsung emosi.


“BERHENTI! ADIT MASUK RUMAH SAKIT!” teriaknya dengan emosi yang sudah meledak.


“APA?!” Teriak Tina dari sabrang sana. Suaranya tidak kalah nyaring dari Tony.


“Sekarang susul dia di rumah sakit BKR. Awasi keadaannya. Jika terjadi apa-apa. Kita harus bertanggung jawab kepada kakak.” Ucap Tony.

__ADS_1


Tina langsung memutuskan sambungan. Sedangkan Tony hanya bisa memantau keadaan Adit dari ponselnya. Dia hanya bisa berkomunikasi melalui telepon. Dia tidak boleh sembarangan keluar dari rumah karena statusnya adalah buronan. Yang bebas keluar hanyalah Tina yang sudah melakukan operasi.


“Sial kenapa harus seperti ini?”


***


Dua hari berlalu.


Di rumah sakit BT, tempat Hani di rawat. Hani masih belum sadarkan diri. Beni dan Ratih masih setia menunggu anak mereka di samping kanan kiri ranjang Hani. Ratih matanya sangat sembab karena menangis semalaman. Dia tidak menyangkan hal ini dia alami. Dia merasakan apa yang Hani rasakan dulu.


Beberapa menit kemudian ada tanda-tanda Hani mulai sadar. Perlahan matanya mulai bergetar dan membuka perlahan. Kedipan pertama semua terasa buram, kedipan kedua mulai jelas dan begitu seterusnya hingga matanya benar-benar bisa melihat dengan jelas.


Hani melihat ada Beni dan Ratih di sisi kanan dan kirinya. Terlihat raut wajah khawatir di keduanya. Hani pun meneteskan air matanya. Ratih langsung memeluk Hani seerat mungkin dan Beni juga ikut menenangkan kedua wanita istimewanya itu.


Di sisi lain budhe Inem dan pak Rian hanya bisa melihat keharmonisan keluarga kecil ini. Mereka ikut merasakan kesedihan mendalam yang di alami keluarga ini. Meski keadaan ini bukanlah yang pertama kalinya mereka tetap merasa sedih.


Setelah saling meluapkan emosi masing masing. Ratih berusaha mengajak Hani berbicara tapi respon Hani sangatlah lambat. Dia belum menjawabnya hanya menatap mamanya dengan mata layu. Ratih semakin di buat panik oleh Hani. Dia menatap Beni suaminya, berharap mendapat pertolongan. Dengan sigap Beni menekan tombol di atas ranjang Hani. Tombol itu langsung mengarah ke ruang jaga suster. Tidak lama satu suster dan satu dokter datang memeriksa keadaan Hani.


Ratih masih panik takut terjadi apa-apa dengan Hani. Namun, dokter bilang Hani baik-baik saja. Mungkin Hani masih merasa syok karena sakit kepalanya itu. Dokter berusaha membuat Ratih tenang dan memberikan solusi berupa resep vitamin untuk Hani agar cepat pulih.


Kiki hanya menatap Hani dari jauh. Sepanjang malam Kiki hanya berdiri di pojokan. Entah kenapa Kiki tidak seperti biasanya yang selalu menempel kepada Hani. Kali ini dia begitu menjaga jarak dengan Hani.


“Ma...” Ucap Hani bergetar.


“Ada aku takut. Ada pembunuh yang masih berkeliaran.” Ucap Hani tiba-tiba membuat suasana menjadi mencekam.

__ADS_1


Semua membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengar ini. Pikiran mereka sama, mereka pikir Hani sudah ingat semuanya.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2