Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 22


__ADS_3

Hani dan Jaelani berjalan dalam keheningan. Mereka merasa canggung akibat pertengkaran kecil tadi, hingga tidak terasa sudah sampai di depan kamar rawat inap keluarga Jaelani.


“Terima kasih ya Han udah mau kesini.” Ucap Jaelani.


“Iyah, kalau aku bosen di rumah boleh kesini lagi kan?” Tanya Hani.


Jaelani hanya mengangguk, kemudian dia membuka pintu seketika Hani mundur sedikit tapi dia sempat melirik keadaan papa Jaelani yang terbaring di tempat tidur. Meski melalui celah yang kecil Hani bisa melihat papa Jaelani terlihat susah berbicara dengan istrinya. Hanya itu saja yang mampu Hani lihat. Dia tidak bisa memperhatikan karena jaraknya lumayan jauh.


“Ngomongnya kok susah gitu ya?” Gumamnya.


Tiba-tiba Hani merasa ada yang meniup lehernya. Seketika dia merasa merinding dan berjalan cepat keluar. Entah kenapa selain takut Hani merasa badannya juga berat sekali seakan-akan dia sudah melakukan pekerjaan berat hari ini.


***


Brak!


Hani buru-buru masuk ke mobil. Napasnya terengah-engah. Sambil mengatur napas dia menyeka keringatnya yang cukup deras padahal dia hanya berjalan cepat bukan berlari.


“Mbak Hani kenapa?” tanya pak Rian khawatir.


Hani hanya menggeleng dan dia meminta untuk segera pulang. Dia yang awalnya ingin mampir ke rumah suster Sari kini berubah. Dia ingin segera pulang.


Pak Rian segera mengemudikan mobilnya. Meski dia merasa khawatir melihat Hani yang kelelahan. Sedangkan suster Sari yang merasa tidak enak, setelah mendengar Hani ingin segera pulang. Tapi, tadi dia juga tidak salah karena dia di tawari bukan meminta tumpangan. Akhirnya tercipta suasana hening sepanjang jalan.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang Hani sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Sampai kamarnya dia langsung menjatuhkan dirinya ke ranjang yang empuk. Tidak butuh waktu lama dia langsung tertidur. Dia merasa sangat lelah.


Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu bayangan anak kecil berambut pendek. Karena penasaran dia mendekati anak kecil itu. Anehnya, semakin dekat Hani merasa semakin kedinginan. Lalu, dia juga merasa kesedihan yang teramat dalam hingga mampu membuatnya menangis. Dia merasa seperti kehilangan seseorang yang sangat berarti. Karena perasaan itu semakin menjadi membuat Hani menghentikan langkahnya.


“Huhuhu.”


Tiba-tiba anak kecil di depan Hani terdengar seperti menangis. Di susul perasaan sedih yang di rasakan Hani tadi semakin parah hingga dia menangis juga. Entah kenapa Hani merasa seperti kehilangan seseorang seperti kehilangan mamanya.


“Mama....” ucapnya gemetar.


Hani berkali-kali memanggil mamanya sambil tersedu. Dia benar-benar merasa sedih seolah-olah telah kehilangan mamanya. Anehnya dia juga merasa mamanya meninggal karena di siksa oleh orang yang dia benci.


“Ma....”

__ADS_1


“Mama....”


Dada Hani terasa semakin sesak. Seperti kehilangan napas di tambah lagi dia masih tersedu dalam tangisnya yang histeris itu.


“Hahhh.”


Hani pun terbangun dengan menghirup udara seakan-akan dia sudah kehilangan napas sejenak. Pergerakan yang tiba-tiba itu membuat Hani terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi dia terengah-engah mengatur napasnya. Entah kenapa hari ini terasa sangat melelahkan. Selain lelah raga dan emosi.


“Kenapa hari ini rasanya capek banget.” Keluhnya sambil mengatur napas.


Hani melirik jam dinding di kamarnya. Matanya seketika membelalak karena sudah pukul tujuh malam. Seharusnya orang tuanya sudah pulang. Karena dia masih mengingat mimpi tadi. Dia buru-buru keluar kamar mencari keberadaan mamanya.


Dia pergi ke kamar orang tuanya. Mengetuk-ketuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Dia pun membuka pintu kamar itu paksa. Ternyata tidak ada orang di sana. Dia turun ke dapur, halaman belakang, ruang tengah juga tidak ada. Rasa khawatir jika mimpinya itu benar membuat Hani ketakutan. Akhirnya dia kembali ke kamarnya untuk menelepon mamanya.


Sambil menelepon dia pergi keluar rumah. Namun, hingga panggilan ke lima mamanya tidak menjawab. Hani semakin khawatir.


“Mama...”


Sampai di pos satpam hanya ada pak Yanto yang asik menonton televisi di pos satpam. Hani ingin bertanya kepadanya kemana pak Rian? tapi dia masih malu karena pak Yanto adalah satpam baru. Akhirnya dia memutuskan untuk ke garasi.


Dia berlari sambil menelepon mamanya yang hanya berdering saja. Sampai di garasi mobilnya tidak ada itu tandanya pak Rian sudah menjemput orang tuanya. Tapi ini sudah pukul tujuh seharusnya mereka sudah sampai rumah dan makan malam bersama. Dia memutuskan kembali ke pos satpam.


Reflek pak Yanto kaget. Dia langsung mematikan televisinya dan menoleh ke Hani. Pak Yanto takut di marahi oleh Hani karena terlalu asik menonton televisi.


“I-iya mbak?”


“Pak Rian dimana?” Tanya Hani khawatir.


“Oh... pak Rian sedang jemput ibu bapak. Baru saja berangkat mbak.” Jelas pak Yanto.


“Barusan?”


Pak Yanto hanya mengangguk. Hani semakin takut jika mimpinya itu benar. Dia tidak bisa berpikir jernih. Padahal mungkin saja orang tuanya terlambat pulang karena lembur atau rapat dadakan. Kejadian itu sering terjadi di akhir bulan. Karena panik Hani tidak memikirkan itu sama sekali.


“Sini mbak duduk dulu. Mau minum?” Tanya pak Yanto mencoba menenangkan Hani yang terlihat panik.


Hani pun menurut. Dia duduk sambil memutar ponselnya. Pikirannya sangat kacau hingga dia tidak sadar bahwa pak Yanto sudah membawakan air minum untuknya.

__ADS_1


Drrrttt drrrttt


Ponsel Hani berdering. Tanpa berpikir panjang Hani langsung mengangkatnya.


“Hallo mama.” Ucapnya sedikit berteriak.


“Ini papa Han. Kenapa? Ada apa? Kayaknya kamu lagi takut?”


Mendengar itu Hani reflek mengecek siapa yang meneleponnya. Ternyata benar itu adalah papanya.


“Mama mana?”


“Halo Hani...” Ucap Ratih lembut.


“Mama...” Tangis Hani pecah.


Hani menangis tersedu mendengar suara mamanya. Dia merasa lega bisa mendengar suara mamanya. Pak Yanto yang masih memegang gelas menjadi panik, dia bingung mau menaruh di mana padahal dia bisa menaruhnya di sampingnya. Tapi, dia malah kembali masuk ke pos satpam dan menaruhnya di sana. Lalu kembali ke Hani.


Hani sudah selesai menelepon. Dia masih menangis tersedu-sedu. Pak Yanto tidak berani berbuat apa-apa dia hanya menatap Hani kasihan. Tidak lama kemudian Hani sudah berhenti menangis. Dia sudah terlihat tenang. Pak Yanto kembali ke dalam mengambil minumnya tadi dan memberikan ke Hani.


“Kenapa nangis mbak?” Pak Yanto bertanya setelah Hani meneguk minumannya.


“Itu pak... tadi aku mimpi buruk pak.” Ucap Hani.


Tanpa di minta Hani menceritakan mimpi buruknya. Pak Yanto memperhatikan dengan seksama. Hani pun merasa lega karena sudah menceritakan mimpinya kepada pak Yanto padahal dia baru mengenalnya.


“Cuma mimpi kok mbak. Bentar lagi pulang.”


Hani pun mengangguk senang.


“Oh iya mbak. Mbak kelihatannya capek ya.” Ucap pak Yanto.


“Iya nih pak punggung ku pegel banget. Capek banget rasanya.” Keluh Hani.


Tiba-tiba pak Yanto meletakkannya di belakang punggungnya. Hani menatap tajam pak Yanto yang melakukan pergerakan tiba-tiba. Dia merasa curiga dan takut di apa-apakan. Dia ingin menghindar tapi anehnya dia merasa punggungnya terasa hangat, padahal udara saat ini dingin.


Tidak lama kemudian tangan pak Yanto sudah di tarik kembali. Seketika itu juga punggung Hani terasa lebih ringan. Dia mengangkat bahunya dan memutar bahunya karena tidak percaya pegal-pegalnya hilang seketika. Dia menatap pak Yanto heran. Sedangkan pak Yanto hanya tersenyum.

__ADS_1


“Mbak Hani tadi tuh ketempelan.” Jelas pak Yanto.


Seketika mata Hani membelalak karena tidak percaya.


__ADS_2