Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 45


__ADS_3

“Kiki, anak kita hilang buk.”


Jantung serasa berhenti berdetak. Dadanya sesak, bahkan kaki dan tangannya mulai melemas dan pingsan karena syok. Beruntung budhe tidak jatuh ke arah bayi yang tidur terlelap di sampingnya.


Suami, kakak, ibu dan saudara lainnya semakin panik melihat keadaan budhe Inem. Semua mencoba membangunkan budhe Inem dengan mengkipasi budhe Inem, memberikan bau bauan minyak telon, bahkan juga mencipratkan air ke wajahnya.


Syukurlah budhe Inem bangun setelah lima belas menit pingsan. Saat bangun, dia linglung sebentar kemudian menangis. Dia menyesal tidak memberikan mainan untuk Kiki. Semua juga ikut menangis kehilangan Kiki. Mereka ikut merasakan cobaan yang berat ini.


Waktu menunjukkan pukul jam 12.00 siang. Upaya mencari Kiki dengan di bantu para warga dan sanak saudara tidak membuahkan hasil. Karena sudah 24 jam Kiki tidak pulang, maka suami budhe Inem melaporkan ke polisi. Namun, nyatanya sampai berbulan-bulan bahkan bertahun tahun tidak ada kabar. Selama dua minggu budhe Inem sangat syok hingga stress dan tidak mau menyusui bayi yang baru lahir itu.


Flashback End.


Hani memeluk budhe Inem. Dia berusaha menenangkan budhe Inem yang menangis sesenggukan karena menceritakan hal itu.


“Maaf ya budhe... gara-gara Hani. Budhe jadi inget lagi masa itu.” Ucapnya menyesal.


Kemudian, budhe Inem melepas pelukan Hani. Dia mengusap air matanya dan tersenyum tipis dengan bibir yang masih gemetar.


“Gak kok mbak. Buka gara-gara mbak. Mungkin saya yang lagi kangen.” Jelas budhe Inem.


Hani hanya mengangguk paham. Sebenarnya ingin sekali, Hani bertanya bagaimana ciri-ciri anak itu karena namanya sama dengan sosok yang menggangunya. Dia juga penasaran, apakah budhe kemarin pingsan karena melihat jejak kaki itu. Kini, dia harus menahannya. Tetapi tidak di sangka budhe Inem malah bercerita dengan sendirinya.


Budhe Inem menjelaskan bahwa waktu kejadian itu, dia melihat bayangan seperti anak kecil yang berdiri di antara pecahan itu. Saat itu budhe Inem sangat penasaran dan semakin melihatnya. Namun, semakin dilihat sosok itu semakin jelas. Dan budhe Inem terkejut karena sosok itu mirip dengan anaknya yang hilang. Hanya saja, rambutnya pendek dengan rambut yang kucel dan luka di tangannya.


Mendengar itu Hani buru buru mengambil buku gambar dan juga pensil. Dia menggambarkan sketsanya berdasarkan keterangan budhe Inem. Setelah jadi, Hani menunjukkannya. Budhe Inem mengangguk karena sketsa itu mirip dengan yang budhe Inem lihat.

__ADS_1


“Setelah itu, saya sering kepikiran mbak. Sering dengar juga suara anak tertawa kayak suara anak saya itu.” Ucap budhe Inem yang kini sudah membaik.


Hani mengangguk paham. Kini dia lega sudah mendapatkan sketsa anak kecil yang mungkin sama dengan yang menggangu Hani. Tidak lama, budhe Inem berpamitan pergi karena dia merasa tidak enak sudah duduk di sini terlalu lama. Hani mengantarkan sampai depan kamarnya.


Lalu, dia tersenyum karena mendapat sketsa itu. Tiba-tiba dia teringat jika pak Yanto bisa melihat sosok tidak kasat mata. Dia juga ingat kala itu, pak Yanto bilang kalau Hani itu ketempelan. Dia tersenyum senang. Mungkin ini semua akan berakhir segera. Tinggal menunggu malam tiba.


***


Siang hari di SMA Negri 18.


Jaelani sedang nongkrong bersama Ilham dan teman-temannya. Dia hanya nongkrong di depan kelas tanpa camilan. Karena dia tidak napsu makan. Dia sangat mengantuk hingga napsu makannya hilang. Sesekali dia memejamkan matanya. Tiba-tiba nyess... sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.


“Eh? Apa nih?” Ucapnya.


“Ciyyee Anggi....” Ucap Ilham dan teman-temannya kompak.


Jaelani hanya tersenyum dan menolak minuman itu secara halus dengan meminta maaf. Dia tidak ingin ada gosip lebih lagi. Kepalanya sudah pusing memikirkan keadaan rumah yang berantakan karena papanya sakit. Dia juga tidak mau pusing di sekolah karena gosip itu.


Anggi yang tertolak itu merasa malu. Dia langsung balik badan dan masuk ke kelas. Sedangkan Ilham dan teman-temannya hanya menonton drama nyata itu. Ini adalah pertama kalinya seorang Anggi di abaikan laki-laki.


“Weh... jangan sok Jae. Ntar kena karma lo.” Ucap Ilham.


“Nah betul tuh, ntar malah jadi  bucin ke Anggi.” Sahut teman lainnya.


Jaelani tidak menjawab. Dia memilih memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di tembok kelas sambil menutupi wajahnya dengan sikunya.

__ADS_1


Di dalam kelas.


Anggi tersenyum dan duduk di bangkunya. Kemudian, dia menawarkan minuman itu ke sahabatnya Nila. Dan jelas, Nila tidak akan menolak minuman itu. Dia langsung mengambil dan meminumnya.


“Oke! Sok jual mahal. Aku harus bisa mendapatakannya.” Pikir Anggi.


Meski wajahnya tersenyum polos dan menenangkan. Namun, jauh di lubuk hati Anggi itu merasa jengkel, malu, dan kesal kepada Jaelani. Sifatnya yang ambisius itu membuatnya menjadi semakin tertantang untuk mendapatkan Jaelani.


“Anggi... kamu tegar banget sih padahal tadi di tolak Jaelani di depan teman-teman lain.” Ucap salah satu siswi yang duduk di bangku depan Anggi.


“Ah... biasa aja lah. Namanya manusia, kadang mood swing. Pokoknya kita berusaha yang terbaik aja lah. Ini sebagai balas budi aku karena Jaelani pernah tolong aku dulu. Kadang, yang baik gak langsung di balas dengan hal baik juga kan.” Jelas Anggi sambil tersenyum manis.


Siswi itu mengangguk dan kagum dengan ketegaran Anggi. Karena kalau dia yang di posisi Anggi. Dia pasti akan malu dan juga membenci Jaelani karena sudah mempermalukannya. Tapi, setelah mendengar penjelasan Anggi siswi itu merasa Anggi memanglah anak yang baik seperti citranya sekarang.


Nila sahabat Anggi juga kagum dengan ucapan sahabatnya itu. Meski mereka bersahabat, Nila tidak tau persis sifat asli dari Anggi. Yang dia tau, Anggi adalah anak yang ambisius.


“Syukurlah, Anggi gak berambisi kepada Jaelani. Dia gak terpengaruh sama ucapanku tadi.” Pikirnya sambil mengelus dadanya lega.


“Padahal, aku  tadi hampir berpikir kalau dia bakalan berambisi karena tadi dia terlihat kesal.” Gumam Nila keceplosan dan dia buru-buru menutup mulutnya.


Kemudian, dia melirik Anggi. Dan ternyata, Anggi tidak menoleh dan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Nila pun bernapas lega karena, dia pikir Anggi tidak mendengarkan gumamnya.


“Hah... dia pikir aku tuli.” Pikir Anggi.


~Terima kasih, like dan favorit nya. See you next episode~

__ADS_1


__ADS_2