
Keesokan harinya, Hani merasa letih. Bukan karena perjalan panjang kemarin. Karena kemarin malam dia sedang berdebat dengan Kiki. Berkali-kali dia hampir jatuh, tapi dia mampu bertahan dengan pikirannya yang kuat.
Hani baru saja bangun dan meregangkan tubuhnya. Kemudian, dia melirik lemari yang penuh mainan di sebelah tempat tidurnya. Itu sudah menjadi kebiasaan baru nya. Biasanya, beberapa mainan tergeletak di mana-mana. Namun, kali ini tidak tidak ada. Tetap di tempat semula.
“Oh ya, kemarin kan aku abis debat sama dia. Mungkin dia masih marah.” Ucapnya santai.
Hani meregangkan tubuhnya dan mulai turun dari tempat tidurnya. Lalu, matanya tidak sengaja menatap boneka panda besar pemberian Adit yang dia jatuhkan. Dia ingat jika ada sesuatu di salah satu mata boneka itu.
Dia sebenarnya takut, tapi juga penasaran. Apakah itu hanya kesalahan pabrik? Apa dia yang terlalu takut karena hal-hal remeh seperti ini? Atau benar kata Kiki bahwa di dalam boneka itu ada penghuninya. Memang beberapa hari yang lalu Kiki menceritakan ketakutannya ke Hani. Tapi, dia mengabaikannya karena sudah tidak ingin mengetahui lagi hal-hal seperti itu.
“Tapi, aku penasaran. Masak sih ada isinya? Matanya kemarin? Ah mandi dulu lah. Nanti minta di temani budhe Inem buat cek boneka itu.” Ucapnya, dan langsung bergegas mandi.
Selesai mandi, Hani sempat melirik boneka itu. Dan ternyata boneka itu tidak berpindah dari tempatnya. Kini asumsi jika di dalam boneka itu ada penghuninya mulai memudar.
“Tapi, harus tetap di pastikan nih.” Ucapnya dan keluar dari kamar.
Sekarang sudah waktunya untuk sarapan pagi. Di meja makan sudah tersedia makanan lengkap. Kali ini hanya makan roti bakar di beri telur, saus, mayonise dan susu kedelai saja. Kebetulan kebutuhan sayur mayur sedang habis hari ini.
“Bu saya ijin ke pasar ya, tadi pagi belum sempat ke pasar soalnya motor suami saya macet.” Ucap budhe Inem.
“Loh? Sarapan dulu budhe, kan baru nyampek.” Ucap Ratih.
“Baru nyampek?” Hani terkejut.
“Engak bu, saya sarapan nanti saja. Mau ke pasar dulu aja. Sekalian nebeng sama Yanto yang mau pulang.”
“Jam segini pak Yanto belum pulang? Tumben.” Ucap Beni.
“Oh iya pak, tadi pagi katanya Yanto dapat paketan dari ojek online. Pas di tanya dari mana alamatnya ternyata dari rumah kosong pak. Jadi pak Herdi, Yanto sama pak Rian cek dulu kotaknya sama coba lacak pengirimnya.” Ucap budhe Inem.
Beni dan Ratih terkejut. Mereka bergegas menuju pos satpam tanpa menyelesaikan sarapannya. Sedangkan Hani dan budhe Inem menyusul.
Sampai di pos satpam, terlihat pak Herdi sudah membuka kotak itu. Ternyata kotak itu berisi alat kejut listrik (Stun Gun) untuk melindungi diri. Pak Rian juga terlihat membolak-balikan alat itu dan mengecek keamanan alat itu. Ternyata tidak ada baterai. Jadi alat itu tidak
Sedangkan Hani, dia langsung takut tapi, tidak sampai menunjukkan wajah yang pucat. Dia langsung ingat, kejadian naas itu dimana dia di siksa dengan alat itu saat di sekap oleh Tony dan Tina. Hani semakin ketakutan tapi dia diam saja. Selain fisiknya, Hani juga memiliki hati yang tangguh hingga mampu menahan rasa takutnya itu.
“Apa itu?”
“Alat kejut listrik bu , biasanya ini di gunakan sebagai alat perlindungan diri.” Jelas pak Yanto.
“Udah ketemu siapa yang ngirim?” Tanya Beni.
“Kita gak bisa lacak pak, kata ojek send nya tadi dia dapat paket ini di depan rumah kosong, dia berkomunikasi sama pengirim cuma lewat chat aplikasi. Pas nomornya saya coba hubungi eh ternyata sudah tidak aktif pak.” Lanjut pak Yanto.
Beni langsung menatap Hani. Yang terlihat Hani yang tegang saja. Wajahnya tidak begitu menunjukkan rasa takut, lebih dominan ekspresi tegang. Beni langsung memerintah pegawainya untuk memperketat keamanan rumahnya. Dia juga meminta untuk memantau CCTV setiap satu jam dua jam sekali, jika perlu.
“Udah udah... ayo kita selesaikan sarapan kita. Pak Herdi tolong ya.” Ucap Beni.
“Baik pak.”
“Saya permisi ke pasar dulu ya pak.” Ucap budhe Inem.
“Aku ikut boleh?” Tanya Hani.
__ADS_1
Semua langsung menatap Hani.
“Kenapa ikut? Di rumah aja ya. Lagian budhe Inem nebeng pak Yanto berangkatnya. Pulangnya nanti naik... naik apa budhe?” Tanya Ratih.
“Saya pulangnya naik angkot.”
“Tapi, aku takut di rumah sendiri.”
“Kamu sementara lebih aman di rumah. Jangan keluar-keluar dulu ya.” Ucap Beni.
Dengan berat hati Hani menuruti perkataan papanya. Perasaanya sangat tidak karuan sekarang. Kenapa masalah selalu datang silih berganti? Lalu apa yang akan Hani lakukan sekarang? Yang terbesit dalam pikirannya sekarang. Hani tidak mau masuk ke dalam kamarnya sebelum budhe Inem datang. Maka dia akan duduk santai di ruang tamu, ruang tengah atau malah di pos satpam bersama pak Herdi.
Hani, Ratih dan Beni kembali memakan sarapannya. Sambil makan mereka berbincang tetang Adit. Kemarin ternyata Ratih di telepon oleh pihak lembaga bimbingan. Mereka mengatakan bahwa Adit sudah tidak bisa mengajar karena ikut orang tuanya ke luar negri. Pihak lembaga bimbingan juga sudah memberikan beberapa daftar calon guru privat Hani yang baru.
Tiba-tiba terbesit sesuatu dalam pikiran Hani. Bagaimana jika dia meminta orang tuanya untuk menemaninya ke kamar dan melihat keanehan boneka dari Adit? Atau lebih baik tetap menunggu budhe Inem saja? Hani semakin bingung dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya orang tua Hani selesai makan.
“Padahal mama udah cocok sama Adit loh pa.” Ucap Ratih sambil mengemas piring milik Beni.
“Yah, belum berjodoh. Kali aja yang baru bisa lebih baik dari Adit.” Ucap Beni.
Tidak lama kemudian, Ratih sudah kembali. Dia sudah siapa untuk berangkat kerja. Tidak lupa untuk berpamitan kepada Hani dan memintanya untuk tetap di rumah selagi orang tuanya masih bekerja. Jika mau keluar Hani harus di temani oleh orang tuanya.
“Emm mah, pa.” Akhirnya Hani memutuskan untuk mengajak orang tuanya melihat boneka pemberian Adit.
“Iya?”
“Bisa temani aku ke kamar sebentar gak? Aku mau tunjukkin sesuatu.” Ucap Hani dengan ekspresi memelas.
Beni dan Ratih tidak tahan dengan ekspresi anak semata wayangnya itu. Akhirnya, mereka menuruti permintaan Hani dan mengantarnya ke kamar. Tapi Hani masih belum menyelesaikan sarapannya. Beni dan Ratih pun menunggu sambil berbisik saling penasaran apa yang ingin Hani tunjukkan?
“Mau tunjukkin apa sih Han?” Tanya Ratih penasaran.
“Pokoknya mama lihat dulu nanti.”
Sampai kamar Hani menyuruh Beni dan Ratih duduk di kasurnya yang belum di rapikan. Kemudian, dia mengambil boneka panda besar pemberian Adit. Ratih dan Beni sudah tau jika boneka itu pemberian Adit. Tapi kenapa Hani meminta mereka melihat boneka itu?
“Pa, ma. Lihat deh, salah satu mata bonekanya kayak mata manusia ada lingkaran kecil di dalamnya. Sedangkan yang satunya hitam legam.” Jelas Hani.
Beni dan Ratih langsung menatap boneka itu. Ratih tersenyum tipis dan menatap Hani yang polis.
“Alah... mungkin ini kesalahan cetak. Biasalah Han.” Ucap Ratih.
“Tunggu mah, ini bukan kesalahan pabrik. Ini kayak lensa ma. Coba perhatiin lagi.” Ucap Beni.
Ratih memperhatikan lagi lebih seksama boneka itu. Dia masih belum paham dengan apa yang di maksud Beni. Ratih menggeleng.
Beni hanya bisa mendengus kesal. Kemudian, dia menekan-nekan boneka Hani. Seharusnya boneka itu empuk karena hanya berisi dakron. Tapi, ketika dia menekan kepala si panda dia merasakan ada benda yang cukup keras.
“Apa ini?” Ucap Beni.
Hani yang penasaran langsung menekan kepala boneka itu. Dan Hani juga merasakan ada benda keras di sana.
“Boleh papa bongkar?”
__ADS_1
Hani mengangguk yakin. Sedangkan Ratih hanya bisa meratapi kesedihannya karena boneka itu akan di pecah belah. Mengingat itu boneka pemberian Adit. Cowok yang cocok untuk Hani bagi Ratih.
“Harus di bongkar pa?”
“Yah gimana lagi? Nanti di jahit lagi. Biar gak penasaran.”
Beni pun memulai aksinya. Dan betapa terkejutnya mereka ternyata di dalam boneka itu ada seperangkat alat elektronik dan juga kamera kecil yang di masukkan ke mata boneka yang cukup transparan. Beni langsung naik pitam karena tau selama ini ternyata Adit memata-mata i Hani.
“Kamu kalau ganti baju di kamar atau di kamar mandi?” Tanya Beni.
“Aku kalau habis mandi langsung bawa baju ganti pa. Tapi, kalau habis keluar aku ya ganti baju di sini.” Ucap Hani gemetar.
“Kurang ajar si Adit?! Dasar mesum!” Umpat Beni.
Ratih melongo tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Adit yang di bangga banggakan ternyata melakukan hal itu. Tanpa pikir panjang Beni langsung bertindak membawa semua barang ini ke kantor polisi. Mau tidak mau, dia harus menuntaskannya.
Hani langsung drop jika tau ternyata ada kamera di dalam boneka itu. Dia membayangkan dirinya beberapa hari melakukan banyak aktifitas di kamarnya. Mulai dari ganti baju, bicara sendiri dan banyak hal lain yang merupakan aib baginya.
“Maa....” Ucap Hani semakin bergetar dan meneteskan air mata.
Beni menelepon beberapa pekerjanya untuk melacak keberadaan Aditya Wardana. Dia juga mengerahkan beberapa team IT nya untuk memberinya infomasi tentang barang elektronik ini sebelum di berikan ke rumah sakti. Hani dan Ratih berpelukan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Mama gak usah kerja ya, di rumah aja sama Hani. Biar papa yang urus semua ini.” Ucap Beni.
***
Siang hari di sekolah SMA 18.
Jaelani sudah sangat frustasi karena Anggi mengomel dari pagi. Anggi merasa bahwa Jaelani mulai cuek kepadanya. Meski sebenarnya Jaelani juga sudah cuek kepada Anggi. Hanya saja kali ini super cuek. Bahkan kemarin Jaelani sempat memarahi Anggi karena membuatnya terlambat datang ke rumah Hani.
Seharusnya kemarin begitu mengantar Anggi pulang. Jaelani langsung pulang ke rumahnya, makan dan ke rumah Hani. Namun, kemarin Anggi meminta Jaelani untuk mampir ke rumahnya. Jaelani sangat di sambut oleh orang tua Anggi sehingga membuat Jaelani tidak bisa menolak karena sudah di persiapkan semua. Selain itu Anggi juga terlihat berusaha menahan Jaelani selama mungkin di sana.
“Udah lah gi. Capek dengerin omelan mu.” Ucapnya kesal di kantin.
Sontak beberapa pasang mata menatap ke arah Jaelani dan Anggi, kecuali Ilham yang menjadi obat nyamuk di samping Jaelani.
“Iya kan aku juga butuh waktu buat aku sendiri. Gak cuma chat kamu doang! Udahlah kita putus aja.”
Ini memang kesempatan yang tidak boleh di lewatkan. Jaelani harus segera menyelesaikan hubungan toxic ini. Dia sudah tidak tahan dengan perlakuan Anggi yang super posesif ini.
Setelah mengucapkan itu, Jaelani langsung pergi meninggalkan Anggi yang menjadi pusat perhatian di sana. Tidak lupa Ilham mengikuti Jaelani.
“Serius kalian putus?” Ucap Ilham memastikan.
Bukan mendapat jawaban Ilham mendapat lirikan maut dari Jaelani. Sedangkan Anggi yang merasa malu langsung menutup wajahnya dengan tangannya dan berjalan menuju UKS. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian lagi di kelas.
Sampai di UKS Anggi langsung menemui sahabatnya yang kebetulan sedang berjaga di UKS. Dia menumpakah semuanya ke sahabatnya, sumpah serapah, rasa kecewa, malu dan rasa benci yang mulai muncul.
Sedangkan di kelas.
Jaelani mulai merasa lega setelah bebas dari Anggi. Kini yang ada di pikirannya hanya Hani yang tiba-tiba hilang kabar sejak kemarin malam.
“Hani gak apa-apa kan? Kenapa sih kalau dia gak kasih kabar aku khawatir banget.”
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca ~