
Tok tok tok
Hani terkejut mendengar suara itu. Suara itu terasa sangat nyata. Dia memperhatikan dengan seksama pintu kamarnya.
Tok tok tok
“Mbak Hani.” Panggil budhe Inem.
Hani menghela napas lega karena yang mengetuk pintu kamarnya adalah manusia. Dia segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Serta dia ingin keluar dari kamar yang terasa horor barusan.
“Iya budhe.”
“Mbak, buah naga sama duku pesenannya sudah datang, ada di dapur mbak.”
Wajah Hani yang tadinya ketakutan berubah menjadi senang karena buah yang dia nanti-nanti datang. Hani mengangguk dan meninggalkan budhe Inem yang masih berdiri di depan kamarnya. Dia berlari kecil menuju dapur menghampiri buah yang dia pesan.
Sampai di dapur, dia langsung mengambil buah naga yang masih berada di dalam kresek. Memilih mana buah yang paling besar baginya. Lalu, dia mengambil pisau untuk mengupas buah itu untuk di makan sambil menonton Televisi.
Baru selesai memotong buah naga dan akan di bawa ke ruang keluarga budhe Inem terlihat panik menghampiri Hani.
“Mbak... ini telepon dari ibu.” Ucapnya gemetar.
Hani heran dengan tingkah budhe Inem. Dia mencoba untuk tenang agar tidak menambah kepanikan saat ini. Dia mengambil ponsel budhe Inem dan melihat sekilas layar ponselnya untuk memastikan bahwa yang menelepon benar-benar Ratih, mamanya.
“Iya ma?”
“Kenapa kamu sampai di tampar sama wanita itu? Mana yang sakit?”
Hani diam dan terkejut tidak menyangka mamanya tau kejadian itu. Dia melotot menatap tidak percaya kepada budhe Inem. Dia yakin budhe Inem sudah mengadu kepada orang tuanya. Karena hanya budhe Inem dan pak Herdi yang tau. Sedangkan budhe Inem terlihat panik atas tuduhan yang bukan dia lakukan.
“Hani.” Panggil Ratih dari sebrang sana.
Hani menatap budhe Inem sebal dan marah. Dia benar-benar kecewa karena budhe Inem tidak menepati janjinya.
“Iya ma. Gak ada yang sakit kok ma.”
“Terus kenapa kamu di tampar?”
“Gak tau ma.”
“Memang dasar wanita kasar! Mama akan labrak dia.” Umpat Ratih.
“Jangan ma.”
Hani mencoba mencegah mamanya dan merayunya. Dia berjanji akan menjelaskan semuanya kepada orang tuanya asal Ratih tidak melabrak Mia, mama Jaelani. Dia takut jika nanti akan mendapat masalah lebih besar jika kedua keluarga itu berseteru lebih dalam. Ratih akhirnya mensetujuinya dan menanti penjelasan Hani nanti malam.
__ADS_1
Hani menutup teleponya dan mengembalikan ponselnya ke budhe Inem. Dia menatap sebal budhe Inem. Kemudian dia pergi ke kamarnya sambil membawa buah naga yang siap makan itu. Dia tidak jadi menonton televisi karena moodnya sedang buruk. Hani meninggalkan budhe Inem begitu saja.
Budhe Inem bingung apa yang harus dia lakukan. Dia juga merasa antara bersalah dan tidak karena dia tidak tau bagaimana Ratih tau kejadian itu sedangkan dia tidak mengatakannya kepada Ratih. Di pikiran budhe Inem hanya ada satu kemungkinan yaitu pak Herdi. Dia segera ke pos satpam menghampiri pak Herdi.
Sampai di pos satpam budhe Inem berkacak pingang ke pak Herdi. Di sana juga sudah ada pak Rian yang pulang dari mengatar Beni dan Ratih ke kantor.
“Kenapa mbak?” tanya pak Herdi.
“Her.. kamu ngadu ke bapak sama ibu ya?” Geram budhe Inem.
“Eh... gak mbak enggak.”
“Tapi nyatanya ibu tau tuh. Mbak Hani jadi marah loh sama saya. Kan saya gak enak jadinya.”
Terjadi pertengkaran kecil antara budhe Inem dan pak Herdi. Pak Rian hanya dia mengamati terlebih dahulu apa masalahnya. Namun tidak kunjung paham apa yang sedang di permasalahkan.
“Udah mbak Inem udah.”
Akhirnya pak Rian memisah budhe Inem dan pak Herdi. Dia berusaha menjauhkan budhe Inem dari pak Herdi. Sedangakan budhe Inem masih mengomel sambil menunjuk-tunjuk pak Herdi.
“aduh bapak-bapak ibuk-ibuk tolong ingat umur.” Gumam pak Rian.
“Ini ada apa sih mbak Inem, mas Herdi?”
Akhirnya pak Rian mencoba menjadi penengah pertengkaran ini. Budhe Inem pun menjelaskan versinya di lanjutkan juga versi pak Herdi. Pak Rian paham garis tengahnya. Kemudian dia mengingat sesuatu.
“Oh iya. Semenjak mbak Hani hilang ingatan bapak sempet mengotak atik CCTV di depan itu.” Ucap pak Herdi.
“CCTV di dalam rumah juga. Sebelum mbak Hani pulang bapak malah tambah beberapa CCTV bahkan di halaman belakang dan ruang tengah juga di pasang CCTV loh.” Jelas budhe Inem.
Mereka berpikir sejenak dan menemukan jawabannya. Meski belum pasti mereka sama-sama yakin bahwa Ratih mengetaui kedatangan Mia dari CCTV yang terhubung ke ponselnya. Pertengkaran pun berhenti budhe Inem meminta maaf kepada pak herdi. Pak Rian senang kedua sobatnya itu berdamai. Mereka pun kembali ke tugasnya masing-masing.
***
Malam hari pukul 19.30 setelah acara makan malam keluarga. Beni, Ratih dan Hani duduk bersantai di ruang keluarga sambil menyalakan televisinya. Tanpa basa-basi Ratih duduk di sebelah Hani langsung menanyakan penjelasan yang di janjikan tadi.
“Hani tadi emang di tampar sama mamanya Jaelani ma karena...” Ucapan Hani terpotong.
Beni yang awalnya menonton televisi dan tidak mau tau tentang pembicaraan Ratih dan Hani jadi memperhatikan Hani karena mendengar anaknya di tampar.
“Di tampar?” Tanya Beni kaget.
Ratih mencoba menenangkan suaminya. Kemudian dia menyuruh Hani melanjutkan ceritanya. Hani pun bercerita di barengi dengan suara televisi yang menyala.
“Itu karena mama Jaelani bilang suaminya menderita lumpuh akibat stroke. Terus aku mengulang perkataannya bermaksud bertanya. Dia marah mah. Aku gak tau apa salahku padahal aku Cuma pengen memastikan bahwa yang aku dengar itu benar.” Jelas Hani.
__ADS_1
“Habis itu sudah aku di pisah sama pak Herdi.”
Ratih dan Beni sudah naik pitam mendengar cerita Hani. Mereka tidak bisa menerima lagi perlakuannya terhadap anaknya karena keterlaluan apalagi melibatkan kekerasan fisik.
“Besok mama samperin dia.” Ucap Ratih geram.
Kali ini Beni diam karena mensetujuinya. Tiba-tiba dia teringat ketika Hani mengatakan bahwa keluarga Deden mendapat kiriman gaib dari rekan bisnis. Dia jadi menghubungkan ucapan Hani dengan kejadian sekarang.
“Hani... papa masih penasaran atas perkataan kamu kemarin di depan keluarga bapak Deden.”
Hani terdiam, dia tidak paham apa yang di tanyakan oleh papanya. Deden? Dia baru mendengar nama itu. Beni yang menatap anaknya kebingungan tau apa yang sedang di pikirkan anaknya.
“Deden papa Jaelani.”
“Oh itu pa...”
Ucapan Hani tergantung, dia bingung mau menjelaskan dari mana. Bila dia jujur apakah orang tuanya percaya. Namun, bagaimana caranya menjelaskan semuanya? Apakah di karenakan bisikan misterius atau mulai dari karena Hani mencemaskan Jaelani karena firasatnya akbiat bisikan itu?
“Emmm feeling aja pa. Kayak ada yang kasih tau gitu.” Ucap Hani akhirnya setelah lama berpikir.
Ratih dan Beni mengernyitkan kening memahami apa yang di ucapkan anaknya itu. Tidak lama mereka sadar bahwa anaknya itu istimewa. Tanpa menjawab mereka saling menatap seolah tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Mereka takut jika Hani tiba-tiba histeris.
“Oke. Lupakan itu ya Hani. Lain kali jangan asal bicara seperti itu meski kamu mendengar bisikan atau apalah itu. Cukup untuk kamu tau saja. Mungkin kamu akan merasa gregetan atau merasa tidak enak tidak memberitaukan hal itu. Tapi mama minta kamu tidak campur dengan urusan orang lain yang tidak memintamu untuk membantu mereka.” Jelas Ratih khawatir.
Hani tertunduk, kalau di pikir-pikir ucapan Ratih itu benar. Dia juga sudah mengalami kejadian yang merugikan. Dia tidak ingin kerjadian itu terulang lagi. Lebih baik diam dari pada kenapa-kenapa.
“Dan mama harap kamu tidak percaya dengan bisikan atau hal semacam itu ya Han. Mama yakin kamu sudah cukup dewasa untuk memahaminya.”
Kemudian Ratih memeluk Hani berharap Hani merasa tenang dan mampu melupakan semua yang terjadi dari kemarin sampai sekarang. Meskipun Ratih tau luka itu akan membekas di hati.
Hani merasa tersadarkan akan ucapan mamanya yang terakhir itu. Dia pikir bahwa dia sudah terlalu jauh larut dalam dunia yang dia sebut fantasi nyata.
“Oh ya. Mama kok bisa tau kalau aku labrak. Pasti pak Herdi atau budhe Inem ya yang bilang.” Ucap Hani cemberut.
“Pak Herdi? Budhe Inem?” Tanya Beni.
“Mama tau dari ini.”
Ratih mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV yang dia simpan. Hani terkejut dia tidak tau jika orang tuanya sampai melakukan itu hanya untuk mengawasi rumahnya. Dia juga merasa bersalah karena sudah berpikir bahwa pak Herdi dan budhe Inem mengingkari janji.
“Aduh! Aku harus minta maaf sama pak Herdi sama budhe Inem.” Ucap Hani langsung kabur ke pos satpam.
“Pak Herdi kenapa?” Tanya Beni pada Ratih.
Ratih hanya mengankat kedua bahunya dan lanjut menonton televisi. Sedangkan Beni masih dalam kebingungan menerka-nerka apa yang Hani lakukan sehingga dia harus minta maaf.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~