Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Hari Baru


__ADS_3

Pagi ini Hani mulai mengemas beberapa mainan di dalam kamarnya. Dia memasukkan mainan itu ke dalam dus besar. Dia meninggalkan mainan baru yang dia dapat dari orang-orang kemarin. Hani mengemasnya dan memasukkan mainan itu ke dalam gudang bawah tanah rumahnya. Dia berharap dengan begini Kiki akan muncul.


“Ah... selesai.” Ucapnya.


Hani kembali ke atas untuk sarapan dengan papa dan mamanya. Dia berjalan lambat sambil mencoba meraba-raba keberadaan Kiki dengan perasaanya yang peka. Sampai dapur masih tetap belum ada tanda-tanda kehadiran Kiki.


“Darimana Hani?” Tanya Ratih.


“Dari kamar lah ma. Hehe.” Ucap Hani.


Mereka pun sarapan bertiga. Kali ini mereka sarapan dengan nasi karena lauk pauk kemarin serta nasinya masih tersisa banyak. Mereka makan dengan tenang hingga tiba-tiba terdengar suara pecah di ruang tamu. Sontak Beni, Ratih dan budhe Inem berlari ke depan melihat apa yang pecah.


Sampai ruang tamu mereka terkejut karena kaca jendela ruang tamu pecah tanpa sebab. Padahal kaca itu tidak terlalu terpapar sinar matahari. Kaca jendela yang pecah adalah kaca dekat pojokan ruang tamu. Saat itu juga terlintas di benak Hani. Itu adalah tempat dimana Hani biasanya meletakkan alat tulis di sana saat dia sedang belajar privat.


“Kok bisa pecah ya?” Tanya Ratih.


Kemudian Ratih memeluk erat Hani karena merasa merinding dengan kejadian tidak terduga itu. Beni langsung meminta budhe Inem untuk membersihkan serpihan kaca itu dan kemudian hendak memanggil pak Rian untuk membelikan kaca sekaligus memanggil tukang untuk memasang kaca baru.


“Hani, kamu lagi gak main-main sama hal itu kan?” Tanya Ratih ragu.


Hani terkejut karena Ratih menanyakan itu. Dan seperti yang sudah-sudah Hani menyimpannya rapat-rapat. Dia tidak ingin orang tuanya tau. Dengan cepat Hani menggelengkan kepala dan membalas pelukan Ratih agar Ratih percaya bahwa Hani juga ketakutan.


“Udah udah....” Ucap Ratih.


Dalam hati Hani ada perasaan bersalah dan takut bersamaan. Tapi, rasa penasarannya yang besar menuntunnya untuk melanjutkan rencananya. Dia ingin tau kenapa Kiki menggangunya? Hani berencana untuk tidak mengembalikan mainannya sebelum Kiki menunjukkan kehadirannya.

__ADS_1


“Oh ya mah. Hari ini aku ada les kah?” Tanya Hani mengalihkan topik.


Ratih melepaskan pelukannya. Kemudian, perlahan dia menuntun Hani kembali ke dapur untuk makan. Selama perjalanan Hani menjelaskan bahwa Adit juga sedang di rawat di rumah sakit karena diare hebat. Bahkan dia sampai dehidrasi karena sering BAB. Mungkin Adit butuh waktu lama untuk beristirahat.


Hani mengangguk paham. Dia senang, karena dia tidak perlu belajar dan bisa lebih fokus ke Kiki. Meski tau ini akan berbahaya, Hani masih mau melanjutkan rencananya. Rasa penasarannya semakin menjadi setelah kejadian aneh tadi.


Waktu berlalu, Beni dan Ratih sudah kembali bekerja. Memang menyedihkan, Hani harus di tinggal bekerja orang tuanya padahal dia baru saja keluar dari rumah sakit. Ini sudah menjadi resikonya. Hari ini Hani menghabiskan waktunya dengan bermain bersama budhe Inem.


Hari ini budhe Inem tidak begitu banyak pekerjaan, karena masakan kemarin juga masih tersisa. Baju kotor juga tidak terlalu banyak karena sudah di bersihkan dua hari yang lalu. Pekerjaan budhe sekarang hanya menunggu pekerja yang sedang memperbaiki jendela. Sambil menuggu, Hani mengajaknya main dakon/congklak.


Budhe Inem dan Hani bermain dengan asik. Hingga tiba-tiba ada angin cukup kencang menerpa membuat Hani kelilipan dan menjatuhkan mainannya. Bijinya tercecer dimana-mana. Budhe Inem dan Hani berusaha mengumpulkannya dengan teliti. Karena jika hilang satu, maka permainan tidak bisa dimainkan.


Saat fokus mengambil bijinya tiba-tiba Hani merasakan hawa yang aneh. Dingin hingga menggigil padahal ini masih siang hari. Dan Hani juga merasa ada yang sedang berdiri di depannya saat ini. Hani mematung merasakan kembali hal aneh ini. Antara senang, takut dan merinding bercampur menjadi satu.


“Kiki?” Gumamnya.


“Oh gak apa-apa budhe.” Ucap Hani.


“Haduh...” Keluh budhe Inem.


Hani mengkerutkan keningnya bingung karena budhe Inem mengeluh. Ini pertama kalinya mendengar budhe Inem mengeluh di dekatnya. Biasanya budhe Inem mengeluh jauh jauh dari dia dan orang tuanya.


“Budhe Inem kenapa?” Tanya Hani.


Budhe Inem terdiam sesaat. Tidak lama kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suaranya sedikit tidak jelas karena menahan tangis. Budhe Inem menjelaskan bahwa akhir-akhir ini dia merindukan anaknya yang hilang bernama Kiki. Dia merasa akhir-akhir ini sering melihat anaknya yang hilang itu.

__ADS_1


Hani terkejut karena namanya sama dengan nana sosok tidak kasat mata yang menggangu Hani akhir-akhir ini. Ingin sekali Hani menanyakan bagaimana ciri-ciri anak itu. Tapi dia tidak tega karena akhirnya tangis budhe Inem pecah mengingat anaknya yang hilang.


Hani mencoba menenangkan budhe Inem dengan memeluk sambil menepuk-nepuk punggung budhe Inem pelan. Berharap budhe Inem akan segera membaik. Dan benar, budhe Inem memang sekuat baja. Selang beberapa menit budhe Inem berhenti menangis dan menghapus air matanya.


“Yah, ini memang salah saya yang gak begitu memperhatikan anak saya. Hah dimana pun dia saya harap dia bahagia.” Ucap budhe Inem tegar.


Dan secara tidak langsung budhe Inem menjelaskan kapan hilangnya anaknya yang bernama Kiki itu. Hani semakin syok karena ceritanya sama seperti yang ada di dalam mimpinya. Hanya saja berbeda karena sudut pandang saja. Dari sudut pandang budhe Inem, dia hanya tidak memperhatikan anak pertamanya karena kelahiran anak keduanya itu. Sedangkan dari sudut pandang mimpi Hani. Ada anak kecil yang merasa tidak di butuhkan lagi, dan orang tuanya tidak menepati janjinya untuk membelikannya mainan.


“Budhe udah pasang poster gitu?” Tanya Hani semakin penasaran.


“Mana ada uang mbak buat bikin begituan. Saya Cuma bikin tulisan anak saya hilang dengan memberikan ciri-cirinya saja terus di perbanyak. Saya gak punya foto.” Jelas budhe Inem.


Terbesit sesuatu di pikiran Hani. Dia meminta budhe Inem untuk datang ke kamarnya setelah selesai menunggu pekerja memasang kaca. Sementara itu Hani menyiapkan alat lukis untuk membuat sketsa anak budhe Inem. Dia ingin mencocokan ciri-ciri itu dengan anak itu dengan Kiki. Tidak lupa dia akan meminta bantuan pak Yanto untuk mencocokkannya.


Hani mempersiapkan alat lukisnya dengan semangat. Dan dia merasa ada yang aneh di dalam kamarnya seperti ada yang mengawasinya. Tapi dia mencoba mengabaikannya dengan membuka pintu menuju balkon lebar-lebar membuka pintu kamar serta menyalakan speaker andalannya.


“Aku merasa kamu ada di sini.” Ucapnya santai.


“Iya mbak?” Budhe Inem terkejut karena Hani mengatakan itu saat budhe Inem berdiri di depan pintu kamarnya.


“Oh oh... bu-budhe.” Ucap Hani terbata.


Mereka sama-sama terkejut satu sama lain. Hani yang merasa canggung hanya bisa senyum-senyum. Dan budhe Inem sedikit merinding, karena dia pikir Hani bisa melihat dia tanpa membalikkan badannya. Cukup mengerikan bagi budhe Inem.


“Duduk sini budhe. Aku bantu cari anak budhe dengan bikin gambar sketsa.” Ucap Hani.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2