Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 57


__ADS_3

Hani masih merasa linglung akibat mimpi tadi. Tapi anehnya, dia merasa seperti benar-benar pernah merasakan di posisi itu. Dia juga merasa tidak asing dengan beberapa wajah gadis di sana. Seakan-akan dia pernah bertemu mereka di suatu tempat.


“Apa mereka itu teman-temanku? Tapi? Teman di sekolah mana?” Gumamnya.


Hani masih terus berpikir mencoba mengingat wajah yang muncul dalam mimpinya itu. Dia berpikir keras hingga kepala kembali pusing. Reflek dia memegangi kepalanya sambil memejamkan matanya. Saat itu juga wajah Jaelani terlintas begitu saja.


“Jaelani? Oh iya? Tadi kan aku dengerin suara Jaelani sebelum mimpi tadi? Mungkin Jaelani ada hubungannya sama ini? Apa mereka itu pacarnya Jaelani?” Gumamnya penasaran.


Sedangkan Kiki terlihat sangat bahagia dengan wajahnya yang mengerikan. Dia tersenyum lebar hingga mulutnya sobek dengan tatapan mata yang kosong.


***


Di SMA 18.


“Haacuu!”


Jaelani bersin dengan suaranya yang lantang seperti suara bapak-bapak yang bersin. Bahkan suara bersinnya bisa terdengar sampai kelas sebelah.


“Haccu!”


Selang lima detik saja, Jaelani sudah bersin lagi. Hingga membuat beberapa siswa dan siswi yang berada di dekatnya reflek menutup hidungnya dan melirik sinis Jaelani.


“Haccu! Hah! Hidungku gatel banget.” Ucap Jaelani.


Ilham yang duduk di sebelah Jaelani juga menjauh karena Jaelani bersin berkali-kali. Dia mengambil jaket Jaelani yang di gantung di kursi Jaelani. Kemudian, melempar jaket itu ke Jaelani hingga menutup kepala Jaelani.


“Di tutup bro kalau bersin. Virus!!” Ucap Ilham.


Jaelani hanya diam melepaskan jaket dari kepalanya sambil mengusap hidungnya yang gatal. Dia tidak memperdulikan teman-temannya yang menatapnya dengan wajah takut. Mereka takut kena flu. Maklum jika mereka curiga karena minggu ini minggu sibuk mereka memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan.


“Aku gak flu. Cuman gatel aja hidungku. Gatel tiba-tiba.” Jelas Jaelani sambil meletakkan kembali jaketnya.


“Mana ada gatel di hidung bilang ‘permisi saya mau buat hidung anda gatal’ gitu?” Sahut Ilham.


“Eh tapi, menurut mitos. Kalau bersin itu tandanya ada yang lagi ngomongin kita.” Jelas Jaelani sambil cengar-cengir.


“Anda hidup di jaman milenial bosque. Semua di dasarkan fakta! Kolot amat.” Ucap Ilham dengan wajahnya yang aneh.


“Bukan kolot, hanya mempercayai tradisi.”

__ADS_1


Ilham sudah kehabisan kata-kata karena Jaelani. Dan Jaelani hanya tersenyum melihat kekonyolan teman sebangkunya. Lalu, Jaelani kembali mengerjakan tugas dari ibu guru dengan serius. Dan Jauh dari bangku Jaelani, Anggi menatap Jaelani dengan iba. Dia berpikir jika Jaelani sedang flu.


“Hmm... di koperasi ada vitamin C gak ya?” Gumamnya.


Anggi sudah tidak sabar ingin membelikan sesuatu untuk Jaelani. Entah kenapa jika mengenai Jaelani rasanya dia harus segera bertindak. Akhirnya, dia berinisiatif untuk ijin pergi ke koperasi untuk membeli pen.


“Aku ke koperasi dulu. Mau beli pen.” Ucap Anggi.


“Hah?”


Nila kebingungan melihat kepergian Anggi. Karena dia ingat baru kemarin dia membeli pen bersama di toko murah di dekat rumahnya. Saking penasarannya, dia mencoba pen yang ada di meja Anggi.


“Masih bisa kok.” Gumamnya kemudian mengecek isi pennya dan ternyata masih penuh.


Beberapa saat kemudian, Anggi sudah kembali ke kelas. Tangan kirinya terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia pun juga memilih untuk lewat memutar agar bisa melewati bangku Jaelani. Tidak di sangka tangan Anggi cukup cekatan untuk meletakkan jus buah di bangku Jaelani.


“Diminum ya.” Lirih Anggi sambil melintasi bangku Jaelani.


Jaelani terkejut karena dia tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Anggi. Reflek dia menoleh mencari keberadaan Anggi. Tapi, Anggi sudah terlalu jauh. Dan Jaelani masih menatapnya hingga Anggi duduk di bangkunya. Begitu Anggi duduk, dia menoleh ke Jaelani dan tersenyum.


“Kalian pacaran?” Tanya Ilham tiba-tiba.


Jaelani menggeleng cepat dan menyilangkan kedua tangannya. Dia juga mengancam Ilham agar tidak menyebarkan gosip karena tingkahnya tadi. Dia tau pasti Ilham juga melihat Anggi yang tersenyum kepadanya.


“Apa nih?”


Jaelani penasaran dan mengambil benda asing itu. Ternyata itu adalah minuman jus dalam kemasan kertas tebal. Dan Jaelani langsung mengingat kejadian di bengkel ketika Hani pingsan dan dia malu-malu menawarkan makanan kepadanya. Terukir senyum di wajahnya hingga menampakkan lesung pipitnya.


“Ciye... ternyata bener kalian pacaran.” Ucap Ilham yang sudah menangkap basah Jaelani tersenyum.


Senyum Jaelani langsung memudar begitu saja. Kemudian dia menatap Ilham tegas dengan matanya yang tajam. Itu sudah cukup membuat Ilham sedikit takut. Kemudian, Jaelani melirik ke arah Anggi yang sedang senyum-senyum sendiri.


“Kayaknya dia pikir aku seneng sama pemberian dia.” Pikir Jaelani.


Jaelani mengembalikan minuman itu ke lorong bangkunya dan mengambil buku di sana. Dia langsung menyuruh Ilham menuliskan nomornya yang ingin di isi voucer. Jaelani tau, jika Ilham memiliki nomor dan ponsel tersendiri untuk main game.


“Nih tulis di sini. Ntar aku isi pulang sekolah.” Ucap Jaelani cuek.


“Nah, gitu dong. Semoga usahanya berkah ya abang.” Ucapan Ilham membuat Jaelani geli.

__ADS_1


Jaelani memang sedang berusaha kecil-kecilan. Dia dan kakaknya menjual pulsa, voucer, token listrik dan pengisian online shop atau dompet digital. Jaelani selalu menyuruh teman-temannya menulis di buku khusus itu jika ada temannya yang beli.


Jaelani tidak menerima melalui pesan dia lebih suka agar teman-temannya menulis di buku itu kemudian dia ketik ulang saat pulang sekolah. Meski tidak efisien Jaelani memilih tidak melanggar aturan di sekolah dari pada nanti ponselnya di sita. Dia tidak ingin mencari gara-gara di sekolah karena ketauan main ponsel.


Selain itu ponsel yang di gunakan untuk berjualan pulsa juga berada di rumah di pakai Azzahra. Dia takut, jika Azzahra langsung mengirim tanpa mengetahui siapa yang membeli. Takut ada miscommunication.


Kring... Kring....


Tidak terasa sudah waktu istirahat. Jaelani mengambil jus yang di belikan Anggi tadi untuk di kembalikan kepada Anggi. Dia tidak ingin memberi harapan lebih ke Anggi. Dia langsung menghampiri Anggi dan Nila yang hendak keluar kelas.


“Anggi!” Panggil Jaelani.


Anggi pun langsung menghentikan langkahnya. Telinganya sangat peka dengan suara Jaelani. Bahkan jika Jaelani memanggilnya dari jarak dua meter pun dia bisa dengar. Anggi memutar arah dan memberikan senyum termanis untuk Jaelani.


“Iya.” Ucap Anggi ramah.


“Nih. Terima kasih udah di beliin. Tapi, aku gak bisa terima.” Ucap Jaelani tegas.


Anggi sempat tidak terima dan melotot ke arah Jaelani. Dan sedetik kemudian, wajah Anggi berubah kembali ramah untuk mendapatkan hati Jaelani.


“Kenapa? Kamu gak suka sama buah ini? Mau di beliin yang lain?”


“Enggak. Aku cuma lagi jaga hati seseorang aja.” Jaelani beralasan seperti itu agar Anggi tidak mengganggunya lagi.


Kemudian, Jaelani pergi meninggalkan Anggi dan Nila. Dia menyusul Ilham ke kantin. Sedangkan Anggi masih bengong di ambang pintu kelasnya. Dan Nila mencoba untuk menyadarkan Anggi dan menariknya agar tidak menghalangi temanya yang ingin keluar kelas.


“Nih Nil. Buat kamu. Aku gak mood ke kantin.” Ucap Anggi tiba-tiba dan kembali ke bangkunya.


Nila menerima jus itu dan menghela napas panjang. Dia tau jika Anggi kesal. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Anggi memang tipe anak yang sulit di hibur jika sedang marah.


“Jaelani udah punya pacar?” Gumam Nita penasaran.


Di kantin.


Jaelani sudah menemukan Ilham. Dia langsung menghampiri Ilham dan teman-temannya. Baru saja duduk gosip tetang Jaelani sudah sampai ke kantin sekolah. Beberapa anak yang melihat kejadian tadi berbisik hingga membuat Ilham dan teman-temannya ingin segera mengkonfirmasi semuanya ke Jaelani.


“Jae, bener udah tolak Anggi?” Tanya salah satu siswa.


“Wihh.. udah punya pacar nih ternyata? Anak mana?” Tanya teman lainnya.

__ADS_1


Jaelani hanya menepuk keningnya. Dia heran kenapa gosip di sekolah ini cepat sekali menyebar. Dan Ilham, masih menunggu jawaban klarifikasi dari teman sebangkunya itu.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2