Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 42


__ADS_3

“Kenapa sih akhir-akhir ini aku bermimpi aneh? Eh setiap hari mimpi aneh juga sih.” Gumamnya.


Hani mengusap kepalanya karena terasa sedikit pusing. Akhir-akhir ini juga dia juga bangun kesiangan, karena biasanya dia bangun jam setengah lima pagi. Dan sekarang sudah jam setengah enam.


Hani masih termenung mengingat mimpinya tadi. Dia merasa seakan-akan sudah memimpikan orang itu berkali-kali. Namun, dia merasa jika tidak pernah bertemu dengan orang itu.


“Apakah aku kenal orang itu ya sebelum lupa ingatan?” Gumamnya.


Saat memikirkan mimpinya tadi, dia ingat jika Kiki ingin mainan baru. Dia juga tersadar, jika mimpinya tadi juga berakaitan dengan mainan. Dia juga mulai menyadari bahwa suara anak kecil yang di dalam mimpinya itu mirip dengan suara Kiki.


“Kiki!” Panggilnya.


Hani memanggilnya berkali-kali dengan cukup keras, hingga suaranya mampu orang tuanya yang sedang bersiap untuk kerja terkejut. Mereka pun mengetuk pintu Hani memastikan bahwa yang berteriak itu adalah Hani.


Tok tok tok.


“Hani!” Teriak Beni dari luar.


“Waduh, aku lupa masih ada mama papa.” Ucap Hani panik.


Hani langsung tidur, menyelimuti tubuhnya hingga dagu. Dia harus berpura-pura mengigau agar tidak ketauan. Dia memulai aksinya dengan memejamkan mata sambil memanggil Kiki. Beni dan Ratih pun masuk, karena tidak mendapat jawaban dari Hani.


“Itu... Hani masih tidur pa?” Ucap Ratih.


“Hah... Ngigau dia ma. Papa bangunin aja ma. Mama siapin keperluan aja sana.” Ucap Beni sambil tersenyum.


Beni pun membangunkan Hani dengan susah payah karena Hani menendang-nendang papanya seakan sedang marah dengan orang lain. Selain itu dia juga memikirkan jawaban, jika di tanya siapa yang bernama Kiki itu.


Pada akhirnya Beni berhasil membangunkan Hani. Dia benar-benar kelelahan dan kesakitan karena di tendang oleh Hani. Tendangan Hani sangat kuat, mengingat dia punya tenaga besar karena pernah mengikuti kelas bela diri.


“Kamu mimpi ana Han?” Tanya Beni dengan wajah masam.

__ADS_1


Hani hanya menatap Beni tanpa berbicara sepatah katapun. Dia memasang ekspresi seperti orang kebingungan. Melihat itu, Beni berpikir jika Hani sedang beradaptasi dengan keadaan nyata setelah bangun dari tidurnya. Beni memilih meninggalkan Hani dan menyuruhnya untuk segera mandi.


Hani bernapas lega. Dia senang karena Beni tidak bertanya. Dia juga tersenyum tipis karena merasa lucu melihat ekspresi kesakitan papanya. Dia bergegas mandi seperti yang di suruh papanya. Dia ingin segera ke toko mainan untuk membeli mainan baru. Meski hatinya sangat sedih karena uang sakunya jadi terpotong karena Kiki.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Hani sudah selesai sarapan, dan pak Rian juga sudah selesai sarapan juga kembali dari mengantar Beni dan Ratih bekerja. Hani menghampiri pak Rian di pos satpam.


“Pak Rian, anterin aku jalan-jalan yuk.”


“Kemana mbak?”


“Jalan-jalan ke kota pokoknya.”


Hani sengaja tidak menjelaskan mau pergi kemana. Yang pasti Hani ingin pergi ke pusat belanja. Tapi, kali ini Hani tidak pergi ke Mall dia memilih ke pasar tradisional saja. Dia ingin menghemat uang serta membeli mainan yang murah saja. Toh yang di belikan juga tidak berwujud.


Perjalan menuju pasar sangat lama karena Hani terjebak macet. Dua puluh lima menit waktu yang Hani tempuh untuk pergi ke pasar tradisional. Hani meminta pak Rian untuk menunggu di mobil saja. Hani tidak perlu susah payah masuk ke dalam pasar, karena di pinggir jalan terdapat banyak pedagang kaki lima berjualan mainan. Mulai dari mainan ayam, kincir angin, balon dan berbagai macam lainnya.


Saat sedang asik melihat mainan yang mungkin menarik untuk Kiki. Hani merasa baju sebelah kirinya seperti di tarik seseorang. Reflek dia menoleh, dan ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Lalu, Hani mulai memeluk erat tasnya takut jika dia nanti kecopetan.


Hani berjalan kembali mengamati setiap mainan yang terpajang di setiap toko yang di lewatinya, hingga akhirnya Hani sampai pada ujung pasar. Dia mendengus kesal karena tidak bisa menemukan mainan yang menarik baginya. Dia memutuskan untuk menelusuri kembali jalanan yang dia lewati tadi. Mungkin ada mainan menarik yang terlewat.


Lagi-lagi Hani merasa ada yang menarik bajunya. Kali ini baju sebelah kirinya. Hani pun menoleh lagi untuk memastikan apa yang membuat bajunya tertarik. Ternyata, masih sama seperti tadi. Tidak ada orang di sana. Namun, ada yang aneh. Hani menyadari bahwa tadi dia juga merasa bajunya tertarik di toko ini.


Hani berpikir, mungkin ada yang menarik di dalam toko ini. Dia memutuskan masuk ke dalam. Hani di sapa oleh pelayan toko. Si pelayan bertanya kepada sedang mencari mainan apa? Dan Hani hanya menjawab ingin melihat lihat dulu. Si pelayan toko mengangguk paham dan mengikuti kemanapun Hani pergi.


“Kak mau ini.”


Tiba-tiba Hani mendengar suara Kiki. Dia pun juga berhenti mendadak dan membuat pelayan toko hampir menabraknya. Hani meminta maaf kepada si pelayan toko karena dia melihat si pelayan toko hampir terpeleset.


Hani akhirnya memperhatikan mainan yang tertata rapi di lemari dan juga di gantung di tembok. Dia memperhatikan dengan teliti, mana mainan yang menarik baginya. Hingga akhirnya, Hani melihat satu mainan bergeser dengan sendirinya. Hani sempat terkejut, dia juga melirik sekilas si penjaga toko. Terlihat si penjaga toko juga terkejut hingga mundur satu langkah.

__ADS_1


Hani pura-pura tidak tau. Dia tidak langsung mengambil mainan yang bergeser itu. Dia berpura-pura masih mencari mainan yang lain. Beberapa saat kemudian, Hani mengambil mainan yang bergeser tadi dan melihat berapa harganya.


Si pelayan toko melihat Hani dengan tatapan aneh saat Hani mengambil mainan itu. Dia menatap Hani dan mainan itu bergantian.


“Mbak kasirnya dimana ya?” Tanya Hani.


Hani sudah tidak betah dengan situasi ini, dia ingin  segera pergi dari sini karena situasinya sangat canggung. Si pelayan toko langsung menunjukkan kepada Hani tempat kasir. Hani pun membayar dan segera pergi.


Di toko, si pelayan toko tadi menjelaskan apa yang dia lihat tadi kepada penjaga kasir. Mereka pun penasaran, memperhatikan Hani hingga keluar toko. Kebetulan toko itu sedang sepi. Tidak di sangka, mereka melihat ada bayangan berbentuk anak kecil di belakang Hani. Mereka pun lari terbirit-birit masuk toko.


Di sisi lain, Hani berjalan kembali ke tempat pak Rian. Dia langsung masuk mobil dan meminta pak Rian menyalakan mobilnya agar Acnya menyala.


“Beli apa mbak?” Tanya  pak Rian.


“Ini.”


Hani menjawab sambil menunjukkan kresek bening yang dia pegang. Terlihat jelas mainan yang ada di dalamnya itu. Pak Rian hanya menatapnya heran. Kenapa Hani membeli mainan set masak-masakan itu? Tapi, tidak lama pak Rian tersenyum. Dia pikir Hani sedang kesepian hingga membeli mainan itu.


Mereka pun pulang. Namun, saat perjalanan Hani dan pak Rian berhenti beberapa saat. Hani sangat tertarik dengan jajanan sekolahan seperti pentol, batagor, siomay, maklor (makaroni telor) yang ada di pinggir jalan. Kebetulan Hani melewati sekolah TK yang berada di pinggir jalan raya besar. Dan ada banyak penjual di trotoar. Hani pun membeli beberapa satu satu setiap penjual. Dia sangat rakus kali ini. Kemudian, Hani kembali pulang.


Sampai rumah, Hani langsung menuju dapur. Dia meletakkan beberapa makanan di atas meja makan. Ada pentol yang lengkap dengan kuah yang merah karena saos. Batagor siomay bumbu kacang, maklor yang merah karena bumbu BBQ dan juga ada es degan di cup.


“Tuh kan kilaf segini banyaknya. Makannya gimana coba?” Ucap Hani.


“Aku mau.”


Hani mendengar suara Kiki lagi. Dia berdecak  kesal, karena Kiki datang selalu dadakan. Tapi, saat di butuhkan menghilang.


“Kamu mau yang mana?” Tanya Hani.


“Mbak Hani tanya ke siapa?” Tanya budhe Inem.

__ADS_1


“Aduh! Gawat.” Gumam Hani panik.


__ADS_2