Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 34


__ADS_3

Ponsel Hani berdering karena ada telepon masuk dari Jaelani.


“Hah?”


“I-ini beneran?” Ucap Hani terbata-bata.


Hani tidak percaya apa yang dia lihat di layar ponselnya. Ingin sekali rasanya, menghilang dari bumi. Perasaanya kini tidak bisa di ungkapkan. Antara rasa senang, panik dan taku tidak bisa mengobrol dengan asik karena kejadian kemarin.


“Halo.”


“Hai... Han... emm... apa... apa kabar?” Tanya Jaelani dengan jeda yang panjang.


“Baik kok Jae. Ada apa?”


“Emm... cuman, pengen aja hehe.”


“Oh...”


Percakapan berhenti sekitar sepuluh detik. Rasanya sangat cangung sekali.


“Itu... Han, besok sibuk gak?” Tanya Jaelani terdengar ragu.


“Enggak. Kenapa?”


Wuss... tiba-tiba Hani merasa ada yang meniup telinganya. Reflek Hani menoleh. Hani fokus mencari asal dari angin itu berhembus hingga tidak mendengarkan ucapan Jaelani.


“Han?” Panggil Jaelani.


“Iya?”


“Boleh gak?”


“Apa yang boleh? Ah maaf, ada suara nyamuk tadi. Jadi fokus cari nyamuk deh hehe.” Ucap Hani berbohong.


“Oh... belum mandi ya?”


“Udah kok.”


Jaelani dan Hani pun bercanda saling mengejek siapa yang belum mandi. Saking asiknya mengobrol dan tertawa, Hani tidak tau jika beberapa benda jatuh dari meja belajarnya. Hingga kanvasnya terjatuh Hani baru tersadar.


Brak!


Reflek Hani menoleh. Dia sedikit bengong karena Kanvasnya jatuh tanpa sebab. Selain itu dia juga melihat beberapa benda seperti, buku gambar, kuas palet dan penggaris plastik berada di lantai.


“Dia mau apa ya?” Gumam Hani sedikit ketakutan.


“Kenapa Han?” Tanya Jaelani.

__ADS_1


“Enggak kok hehe.”


Hani pun melanjutkan pembicaraan dan berpindah tempat. Dia berjalan ke balkon berharap di sana dia akan aman. Dia bahkan tidak memperdulikan udara dingin yang menusuk.


Di tempat lain.


Pak Yanto yang sedang menonton televisi di pos satpam merasakan hal yang aneh. Dia merasa ingin sekali keluar dari pos. Dia pun mematkan televisinya dan berjalan keluar pos. Ternyata di depan pos satpam ada pak Rian yang sedang asik menelepon seseorang.


Pak Yanto pun memutuskan untuk berputar-putar di halaman depan. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia ingin mencarinya sampai perasaanya tenang. Tapi sudah tiga kali putaran pak Yanto tidak menemukan apapun. Karena lelah dia memutuskan duduk di kursi panjang depan pos satpam bersama pak Rian yang sudah selesai menelepon seseorang.


“Kenapa?” Tanya pak Rian.


“Cari udara segar aja pak.” Ucap pak Yanto.


“Heh... ternyata aku sudah tua ya hahaha.” Ucap pak Rian yang memang sudah berusia tiga puluh tahunan.


“Hehehe.” Tawa pak Yanto canggung.


“Emang umur mu berapa sih?” Tanya pak Rian yang dari dulu sangat penasaran.


“Dua lima pak.”


“Weh!!! Yah... pantes lah sama wajah. Hmmm.”


Pak Rian mengangguk-angguk. Awalnya dia pikir pak Yanto berusia di atas dua puluh lima. Karena namanya terdengar sangat kuno.


Mereka pun terdiam dan suasana menjadi canggung. Sedangkan pak Yanto masih merasa tidak nyaman. Dia merasa ada yang menganjal entah apa itu. Matanya melihat  ke segala arah mencari sesuatu yang tidak tau apa itu? Tiba-tiba matanya berhenti di tempat Hani berada. Dia mengamati Hani yang sedang asik menelepon seseorang sambil mondar-mandir di balkon.


Pak Rian yang mendengar samar-samar nama Hani di sebut reflek menoleh ke pak Yanto. Kemudian, dia mengikuti arah mata pak Yanto memandang dan menyenggol pak Yanto dengan sikunya.


“Heh! Matanya di kondisikan.” Ucap Rian yang berpikir pak Yanto naksir Hani.


“Hah?” Pak Yanto kebingungan.


“Memang yang muda selalu menyegarkan mata. Tapi usia kalian terlalu jauh. Cari anak kuliahan aja lah.” Ucap pak Rian santai.


Pak Yanto masih belum menangkap makna ucapan pak Rian karena dia tidak fokus ke Hani tapi fokus ke anak kecil yang tidak bisa di lihat oleh sembarang orang itu. Anak kecil itu berdiri di sekitar Hani mondar-mandir.


Pak Yanto mengabaikan ucapan pak Rian. Dia kembali menatap Hani yang sekarang berdiri di balkon dan mencondongkan tubuhnya di pagar besi yang tipis di balkon itu.


“Wuuhhh.” Ucap pak Rian panik.


Lalu dia berlari ke arah Hani. Sampa di sana pak Yanto berteriak.


“Mundur mbak! Bahaya!” Teriaknya.


Reflek Hani mundur tapi, di barengi dengan teriakan dan ponsel yang di bawa Hani terlempar ke bawah dan mengenai pak Yanto.

__ADS_1


“Aaaaa” Teriak Hani.


“Aduh” Rintih pak Yanto.


Pak Rian yang mendengar teriakan pak Yanto kemudian di susul teriakan Hani, langsung mencari keberadaan Hani. Dia melihat balkon kamar Hani dan tidak terlihat apapun di sana. Lalu, mata pak Rian langsung tertuju ke pak Yanto yang berdiri sambil mengelus keningnya. Pikiran pak Rian benar-benar jelek saat ini. Dia buru-buru menghampiri pak Yanto.


“Ada apa?” Bentak pak Rian.


“Apa mbak Hani mencoba bunuh diri?” Tanya pak Rian panik.


“Kayaknya mbak Hani... aduh.” Ucap pak Yanto yang bingung bagaimana menjelaskan situasinya saat ini.


“Udah ayo kita cek ajalah.” Ajak pak Rian panik.


Pak Rian berlari masuk di susul pak Yanto. Karena buru-buru pak Yanto tidak sengaja menginjak ponsel Hani hingga layarnya rusak parah.


Sampai di kamar Hani.


Beni terlihat sudah mengecek lantai sekitar balkon dan Ratih mengelus kepala belakang anaknya sambil memeluknya. Hani merintih kesakitan karena kepala belakangnya terbentur lantai.


“Ada apa buk?” Tanya pak Rian.


“Kayaknya Hani kepleset deh. Tadi dia udah terlentang di balkon pas kita masuk.” Jelas Ratih.


Pak Rian menganguk-anguk dengan bingung. Dia mendengar jelas pak Yanto berteriak dan mendengar jelas ada kata’bahaya’ dalam teriakan itu. Dia semakin penasaran apa yang terjadi. Dia menatap pak Yanto ingin bertanya. Tapi, pak Yanto malah menatap Beni yang masih memeriksa balkon dengan tatapan tajam.


“Huss... Ini anak, gak punya sopan santu kali ya? Masak melotot ke bosnya.” Bisik pak Rian.


Pak Yanto langsung berkedip berkali-kali dan memasang ekspresi seperti orang kebingungan menatap pak Rian dan pak Beni bergantian. Pak Rian hanya menggeleng-geleng melihat tingkah aneh pak Yanto.


Beni sudah selesai memeriksa balkon. Dia kembali ke kamar Hani.


“Lantainya licin kali.” Ucapnya.


Kemudian, dia mendatangi Hani dan ikut memeluk dan mengelus kepala anaknya itu. Dia mencoba menenangkan anaknya. Saat memeluk istri dan anaknya terasa sekali jika badan Hani bergetar. Beni menatap istrinya dan tanpa berbicara istrinya mengangguk.


“Mau mama temenin tidur di sini?” Ucap Ratih.


“Gak mau. Mau tidur di kamar mama sama papa aja.” Pinta Hani


Ratih menatap Beni meminta persetujuan dan Beni pun mengijinkan. Ratih memapah Hani untuk ke kamarnya. Kemudian, Beni menutup pintu balkon dan tirainya. Tapi, sebelum itu dia sempat menatap pak Rian dan pak Yanto. Beni melihat pak Yanto masih curi-curi pandang ke arah balkon. Dia yakin pasti ada yang salah di balkon itu.


Saat keluar dari kamar Hani. Pak Beni mengajak pak Rian dan pak Yanto keluar dan berbincang-bincang di kursi panjang depan pos satpam.


Sampai di sana mereka langsung duduk dengan pak Beni di tengah-tengah mereka.


“Saya tadi sempat dengar pak Yanto berteriak?” Ucap Beni memastikan.

__ADS_1


“Iya pak. Saya berteriak.” Ucap pak Yanto.


“Memang ada apa?”


__ADS_2