Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
77


__ADS_3

“Jaelani sehat?” Tanya Hani.


“Hah?”


Jaelani sedikit bengong karena tersipu malu merasa telah di perhatikan Hani. Padahal sebelumnya dia juga di perhatikan oleh Hani. Hanya saja ini rasanya berbeda, dimana Hani masih dalam keadaan sakit masih menanyakan kesehatan Jaelani. Rasanya sungguh tidak bisa di ungkapkan kata-kata.


“Baik Han, kamu gimana?”


“Baik juga. Galih gimana kabarnya?”


Jaelani terkejut mendengar Hani menyebut nama Galih. Dia langsung berpikir, pasti bahwa Hani sudah kembali. Hani yang dia kenal dulu sudah kembali. Tidak terasa terukir senyuman manis hingga menampakkan lesung pipitnya.


“Kamu ingat Galih? Teman kita dulu?” Tanya Jaelani antusias.


Hani mengangguk dengan senyum. Jaelani benar-benar tidak percaya hal ini akan terjadi secepat ini. Rasanya senang berlipat-lipat. Ingin sekali dia berteriak ‘Hani sudah kembali’ namun untungnya dia masih waras tidak melakukan itu.


“Kamu pengen ketemu Galih?”


“Emm... dia sehat? Dia gak di penjara kah?” Tanya Hani polos.


Deg!


Jantung Jaelani seakan berhenti berdetak beberapa detik. Dia terkejut karena Hani menanyakan itu. Saat itu juga terpintas ucapan Ilham tadi di sekolah. Tapi Jaelani sudah berusaha untuk menutup mulut rapat-rapat karena dia di sudah terlibat perjanjian dengan papa Galih. Papa Galih berjanji akan mencukupi kebutuhan Jaelani hingga dia kuliah jurusan olahraga.


“Kenapa di penjara? Kan itu Cuma kecelakaan. Kamu dulu ikut sidangnya kan?” Tanya Jaelani balik.


Hani berpikir sejenak. Dia lupa jika dia pernah menghadiri sidang dan menjadi saksi bahwa Galih tidak ada hubungannya dengan kematian Della dan Violla. Di persidangan pun juga di jelaskan bahwa Galih tidak bersalah karena tidak sengaja mendorong Nana. Itu hanyalah kecelakaan. Kemudian, pak Tony datang dan menawarkan bantuan untuk menolong Nana. Namun, naasnya Tony malah membunuh Nana.


“Oh, iya ya.” Ucap Hani ragu.

__ADS_1


Tetapi yang Hani ingat, dia sedang di hantui arwah Nana yang ingin membalas dendam ke pembunuh melalui dia. Selain balas dendam, Nana ingin menumbalkan Galih agar Nana bisa kembali ke alamnya.


Sayangnya Hani tidak begitu tau bagaimana asal mulanya. Yang Hani tau, dulu dia mengejar pak Tony karena dia pikir pak Tony pembunuhnya. Karena dulu dia pernah melihat pak Tony masuk ke sekolah saat dia berada di dimensi lain. Dia juga ingat betul dia pernah melihat Nana mencoba mencekik Galih waktu di rumah sakit, tetapi malah pak Wanto ayah Nana yang menjadi korban.


Keadaan jadi canggung sesaat. Hani masih belum bisa memahami semuanya. Dia ingin sekali menuntaskan teka teki ini. Tapi, bagaimana caranya? Terlebih dia sudah tidak berhubungan dengan Nana lagi. Rasanya ingatannya kembali malah membuat Hani semakin pusing penasaran.


Jaelani pun mengalihkan topik, agar Hani tidak melamun. Tetapi hanya sempat mengobrol sepuluh menit saja. Jaelani harus undur diri karena di suruh pulang oleh Mia. Jaelani berbohong jika masih berada di sekolah. Dia tidak ingin Mia mengamuk lagi. Padahal sebenarnya Mia sudah tidak punya masalah dengan Hani. Dia juga sudah memperbolehkan Jaelani untuk dekat dengan Hani.


“Han, aku pulang dulu ya. Soalnya udah di tunggu mama.” Ucap Jaelani.


Hani mengangguk dan tersenyum. Kemudian, Jaelani berpamitan kepada Beni, Ratih dan pak Rian di sana. Dia harus segera pulang. Dia juga ingin segera menenangkan dirinya yang merasa tegang di sana karena Hani mengatakan hal yang tidak terduga.


Di dalam kamar. Ratih menghampiri Hani. Dia sudah mencoba mengikhlaskan jika anaknya mulai mengingat masa lalu pahitnya. Itu sudahlah takdir, dan harus berjalan apa adanya agar Hani tidak penasaran dan melakukan hal yang tidak di inginkan hanya untuk mengingat kembali.


“Kamu boleh mencoba mengingat semua. Tapi, pelan-pelan aja ya Han. Biar kamu ga stress. Biar kamu tetap sehat ya.” Ucap Ratih lembut.


Hani tersenyum senang, dia lega melihat mamanya sudah tidak tegang seperti kemarin. Rasanya ingin segera pulang dan mengingat masa-masa mengerikan sekaligus pengalaman tidak terlupakan di rumahnya.


“Apa itu Kiki?” Gumamnya.


Tidak di pungkiri, rasanya kekuatan Hani semakin lama semakin kuat. Dia semakin peka terhadap lingkungan. Terlebih dulu dia pernah menolong suster Sari agar tidak merasa bersalah karena tidak berhasil menolong bayi saat kebakaran.


Sejujurnya Hani sangat tidak nyaman tidur di rumah sakit. Dia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Ada saja yang menggangunya, mulai tiba-tiba terbangun, merasa merinding, kedinginan dan terkadang mendengar suara aneh. Tapi, dia tetap cuek tidak peduli karena dia sudah tidak ingin berurusan dengan hal macam itu. Cukup dengan Nana dan sekarang Kiki.


“Kiki?” Panggilnya dalam Hati.


Kiki sebenarnya mengetahui jika Hani memanggilnya dan merasakan kehadirannya. Tapi, dia tidak mau mendekat. Dia takut jika Hani malah mengusirnya. Dia takut jika Hani malah membuatnya tidak bisa menemukan jasadnya dimana.


“Aku sebenarnya ingin muncul, menampakkan diri. Tapi, aku takut.” Ucap Kiki.

__ADS_1


Sedangkan Hani merasa tidak ada jawaban. Dia mengabaikannya. Dia memilih untuk diam dan menikmati acara televisi bersama Beni dan Ratih.


***


Di rumah Jaelani.


“Mama! Adek pulang!” Teriak Jaelani.


Syut!


Kemoceng mendarat tepat di depan Jaelani. Kemoceng itu berhasil membuat Jaelani lompat kecil karena terkejut. Ternyata itu ulah Azzahra, kakaknya. Jaelani mengambil kemoceng itu dan memberikannya kepada kakaknya.


“Main mulu. Kalau mau main bilang sebelumnya gitu loh.” Ucap Azzahra kesal.


“Nyenyenyenye.” Jawab Jaelani dan kabur menuju kamarnya.


Azzahra yang jengkel, kembali melempar kemoceng ke arah Jaelani. Dia sangat kesal dengan tingkah adiknya itu. Terlebih dia masih capek, karena baru saja selesai bersih-bersih membuatnya semakin mudah marah.


Di dalam kamar.


Jaelani melempar tasnya ke ranjangnya. Dia segera mengambil pakaian dan mandi, badannya terasa lengket semua. Kepalanya juga terasa pusing dan berat. Membuatnya ingin segera mandi menyegarkan tubuh. Namun, dia teringat Galih sahabatnya. Akhirnya dia menunda niatnya untuk mandi dan menghubungi Galih.


Jaelani mencari ponselnya di dalam tas. Begitu menemukannya, dia langsung menelepon Galih sahabatnya itu. Dia harus memastikan jika pengakuan palsu oleh pengacaranya itu tidak bocor kemana-mana. Dia harus memastikan agar masa depannya juga aman, karena dia juga menjadi saksi bahwa Galih tidak ada hubungannya dengan kasus itu.


Tuutt tuutt tuutt


“Pasti masih ngebo ni anak. Bangun Galll.” Kesal Jaelani.


“Halo.”

__ADS_1


“Akhirnya... Kita harus ketemu!”


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~


__ADS_2