
“Memang ada apa?”
Beni bertanya kepada pak Yanto. Dia menatap pak Yanto dengan tajamnya. Pak Rian juga menatap pak Yanto tidak kalah tajamnya.
“Gimana jelasinnya?” Pikir pak Yanto.
Pak Yanto terlihat kebingungan. Ekspresinya itu membuat pak Rian curiga dengan pak Yanto. Sedangkan Beni semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi di balkon itu.
“Jujur saja. Saya tau kamu bisa melihatnya dengan jelas.” Ucap Beni.
Pak Rian dan pak Yanto sama-sama kaget dengan perkataan itu. Bedanya hanya pada pikiran mereka masing-masing.
“Saya dengar kamu bisa melihat hal yang tidak kasat mata?” Lanjut Beni.
Mendengar itu pak Rian langsung merinding. Udara dingin malam membuatnya semakin parah. Seakan-akan seluruh tubuhnya sedang kesemutan saat ini.
“Iya pak. Saya melihatnya.” Ucap pak Yanto memberanikan diri.
Kemudian, pak Yanto menjelaskan bahwa dia melihat ada anak kecil yang berdiri di sekitar Hani saat dia mondar-mandir menelepon seseorang. Anak kecil itu menatap Hani dengan ekspresi marah. Saat Hani berhenti dan mencondongkan badan ke depan. Pak Rian melihat anak itu akan mendorong Hani.
Melihat itu pak Yanto reflek berlari memperingatkan Hani. Namun, saat Hani mundur tangan anak kecil itu sudah menyentuh paha Hani sehingga Hani kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Sampai di sana pak Yanto masih melihat anak kecil itu marah. Dia merasa sepertinya ada sesuatu seperti janji atau apa yang tidak di tepati membuat anak itu marah.
Mendengar penjelasan pak Yanto Beni langsung merinding. Tetapi, dia merasa senang karena sudah memilih orang yang tepat. Sekarang pertanyaannya apa yang di inginkan anak kecil itu.
“Bisa kamu berbicara dengan Hani?” Tanya Beni.
“Tapi... ini sudah malam pak. Nanti kalau...” Ucapan pak Yanto terputus.
“Udah ayok!”
Ajak Beni yang sudah berdiri dan siap berjalan masuk. Dia meminta pak Yanto mengikutinya dan meminta pak Rian berjaga sebentar. Akhirnya pak Yanto menurut, mengikuti Beni.
Sampai di kamar Beni pak Yanto menunggu di depan pintu.
Beni meminta istrinya untuk mengajak Hani keluar sebentar. Awalnya Ratih menolak, tetapi setelah di jelaskan keadaanya Ratih menurut. Dia menuntun Hani keluar.
“Hmmm mbak Hani. Kenal anak kecil tingginya segini?” Ucap pak Yanto langsung pada intinya.
Seketika mata Hani membelalak. Dia kaget karena pak Yanto membicarakan anak kecil entah anak kecil yang mana dia bahas. Tapi dalam pikiran Hani anak kecil yang di maksud adalah anak kecil yang sering menggangunya itu.
“Hmmm? Anak kecil?” Tanya Hani ragu.
Pak Yanto hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Hani menoleh ke kedua orang tuanya dan pak Rian bergantian. Apakah sekarang Hani bisa membicarakan semuanya? Atau Hani harus terus menahannya? Namun, pada akhirnya Hani mengatakannya.
“Aku sih gak tau wujudnya. Tapi, aku merasakan ada anak kecil sepinggul yang kadang ada di sebelahku.” Jelasnya.
Ratih langsung melongo. Kini dia mendengar langsung dari Hani yang katanya punya sixth sense itu.
“Mbak punya janji sama anak itu?” Tanya pak Yanto.
Hani menggeleng cepat.
“Terus apa dong?” Gumam pak Yanto.
Tiba-tiba Hani teringat jika biasanya sebelum tidur dia harus bermain dengan anak kecil itu. Dia pun menjelaskan ke pak Yanto. Dan pak Yanto mengangguk paham. Dia tau, penyebab kemarahan anak itu. Kemudian, dia meminta ijin ke Hani untuk masuk ke kamarnya. Dan Hani, Beni dan Ratih pun memperbolehkannya.
Setelah beberapa saat menunggu pak Yanto keluar dengan wajah yang terlihat kelelahan.
“Gimana?” tanya Beni.
“Gini pak, bu, mbak, saya sudah bicara sama Kiki. Tapi, dia diam terus saat saya tanya.” Ucap pak Yanto.
“Kiki?” Tanya Ratih.
“Nama anak itu ma.” Jawab Hani lirih.
“Tapi, tadi saya tadi turunin beberapa mainan dari kotak mainan di kamar. Terus, sekiranya dia gak terlihat marah. Saya keluar.” Jelas pak Yanto.
“Sebenarnya dia mau apa sih?” Pikir Hani.
Dia menatap pak Yanto dengan sendu. Dia ingin sekali bertanya-tanya tentang anak kecil itu. Karena dia merasa ada teman yang melindunginya sekarang. Tapi, badannya terasa sangat lelah saat ini.
“Udah yuk ma. Ayo tidur.” Ajak Hani.
Ratih pun menurutinya. Beni mengangguk kemudian, dia meminta pak Yanto kembali bekerja. Dia juga merasa badannya sudah lelah saat ini. Mereka pun tidur bersama di kamar Ratih dan Beni.
***
Beberapa saat yang lalu di rumah Jaelani.
Jaelani sedang tiduran di kamarnya. Dia masih asik bercanda memalui telepon bersama Hani. Hingga saat itu tiba.
“Awas mbak! Bahaya.”
Terdengar jelas di telepon ada yang berteriak seperti memperingatkan seseorang.
“Aaaaa”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar Hani berteriak. Jaelani langsung panik terlebih terdengar seperti benturan yang kencang.
“Haloo... haloo Han.” Ucap Jaelani.
Jaelani sangat panik. Dia berkali-kali memanggil nama Hani. Hingga dia berhenti ketika ada seseorang mengatakan kata ‘bunuh diri’ Jaelani semakin di buat panik.
“Hallo Hani kenapa?”
Tut tut tut
Telepon terputus. Jaelani semakin panik, dia mencoba menelepon Hani kembali. Tetapi, lagi-lagi gagal bahkan tidak tersambung.
“Duhhh pertanyaan tadi aja belum di jawab eh udah putus teleponnya.” Keluh Jaelani.
“Ahhh besok kesana aja deh. Diomelin ya di dengerin gitu aja lah.” Ucapnya kesal.
Jaelani sebenarnya tadi menelepon karena ingin meminta ijin Hani untuk ke rumahnya. Dia ingin bertemu Hani untuk berterima kasih. Rasanya mengucapkan melalui ponsel tidak membuatnya puas. Dia ingin berbicara secara langsung. Tapi, apalah daya belum sempat dapat ijin dia malah asik bercanda dengan Hani dan teleponnya terputus juga.
“Dek tidur!” Teriak Azzahra dari balik pintu karena mendengar Jaelani masih bangun dan berbicara sendiri.
“Iya.” Jawab Jaelani juga berteriak.
Jaelani pun akhirnya tidur. Tapi, tidurnya tidak nyenyak. Dia serig terbangun setelah beberapa jam. Dia sangat tidak sabar untuk bertemu Hani besok.
Keesokan harinya.
Jaelani datang ke sekolah menaiki motor seperti biasanya. Sampai di parkiran, parkiran sudah ramai karena dia juga berangkat siang.
Kring... kring... kring...
Bel masuk berbunyi.
“Untung udah sampai.” Gumamnya.
Jaelani berjalan menelusuri lorong menuju kelasnya. Tapi, entah kenapa dia merasa di perhatikan oleh orang banyak padahal lorong sudah mulai sepi karena semua sudah masuk ke dalam kelas.
“Heh kepedean banget sih aku? Merasa di perhatikan sama orang banyak hahaha” Gumamnya.
Sebenarnya perasaan Jaelani itu tidak salah karena dia memang di perhatikan oleh sebagian siswi di kelas yang dia lewati tadi. Mereka mengagumi sosok Jaelani yang manis itu. Tapi, sebagian dari mereka merasa cemburu akibat gosip Jaelani yang berpacaran dengan Anggi. Baru saja sehari gosip itu sudah menyebar ke seluruh kelas terutama kelas tingkat dua.
Saat masuk ke kelasnya sendiri Jaelani merasa ada yang aneh, Beberapa siswa berdehem menghadap Jaelani. Beberapa siswi juga menatap Jaelani. Ada yang tersenyum sinis karena cemburu ada yang juga tersenyum tersipu malu, yang jelas siswi itu adalah Anggi sedangkan yang lain tetap sibuk dengan dunianya sendiri.
“Tumben telat Jae.” Tanya Ilham.
“Kemarin gak bisa tidur.” Ucap Jaelani.
__ADS_1
“Mikirin cewek ya.” Goda Ilham
Jaelani pun tersenyum penuh arti membuat Ilham berpikir bahwa teman sebangkunya itu benar-benar sedang berkencan dengan Anggi. Padahal Jaelani tersenyum karena mengingat Hani.