Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 52


__ADS_3

Hani reflek memukul lengan pak Rian. Dia takut jika pak Yanto benar-benar kesurupan. Hani yang ketakutan langsung berdiri mendekati pak Rian dan masih sambil memukul lengan pak Rian. Pak Rian hanya bisa mengusap sambil merintih.


“Mbak, kita perlu mediasi sama budhe Inem juga.” Ucap pak Yanto tiba-tiba.


Pak Rian dan Hani sempat membeku sejenak karena ucapan pak Yanto yang tiba-tiba itu. Kemudian, mereka sama-sama memproses apa yang di ucapkan pak Yanto.


“Mediasi?” Pikir mereka.


“Iya, mediasi. Jadi nanti, kiki masuk ke tubuh saya kita tanya-tanya. Tapi tenang, saya bisa mengendalikannya kok. Jadi gak perlu khawatir. Sepertinya ada yang ingin Kiki sampaikan.” Jelas pak Yanto.


Pak Rian dan Hani saling menatap. Mekera terkejut karena merasa pak Yanto bisa membaca isi pikiran mereka. Padahal pak Yanto hanya kira-kira saja hanya dengan melihat ekspresi pak Rian dan Hani.


“Itu gak bahaya to?”


“Enggak.”


Pak Yanto terlihat sangat yakin jika semua akan baik-baik saja. Lalu, dia menatap Hani meminta persetujuan. Hani masih kebinungan di sisi lain, dia penasaran dengan apa hubungan Kiki dan budhe Inem? Di sisi lain dia takut, jika saja nanti pak Yanto kesurupan.


“Tapi pak, aku takut.” Ucap Hani.


“Kalau mbak Hani takut ya ga usah.” Ucap pak Yanto.


Pak Yanto sudah menduganya. Dia juga tidak akan melakukan suatu hal jika orang yang bersangkutan masih ragu. Pak Yanto terlihat seperti memahami sesuatu. Tapi, dia masih belum bisa mengatakannya.


“Tapi, apa hubungannya Kiki sama budhe Inem?” Tanya Hani penasaran.


Pak Yanto hanya tersenyum. Dia memandang Hani dengan wajahnya yang berubah menjadi dingin dan datar. Hani merasa sediki takut, jadi dia bersembunyi di balik punggung pak Rian.


“Lebih baik, mbak Hani coba ngobrol sama Kiki aja deh. Saya yakin, mbak Hani tau caranya.” Ucap pak Yanto.


Hani hanya mengkerutkan keningnya. Memikirkan bagaimana caranya? Selama ini Kiki datang semaunya saja. Dia sering datang tanpa di harapkan. Apa Hani bisa memecahkannya sendiri?

__ADS_1


***


Di rumah sakit.


Jaelani langsung menuju tempat pengambilan obat. Beruntung sekali dia langsung di layani karena memang tidak ada yang mengantri pada malam hari. Setelah dia mendapat obatnya dia memasukkannya ke dalam jok motor. Jaelani terbiasa berpergian hanya membawa dompet dan ponselnya saja.


“Hah.. coba tadi mobil. Kan sama mama boleh.” Ucapnya.


Jaelani menyesal karena kini kakinya terasa sangat lelah dan nyeri karena tadi di paksakan naik motor bebek. Belum lagi, dia harus membelikan kakaknya boba meski dia tidak jadi naik mobil. Jaelani berpikir berkali-kali sebelum pergi ke rumah Hani. Dia tidak ingin terlihat mewah saat kesana. Dia lebih suka kesan sederhana di depan Hani.


Dengan terpaksa Jaelani harus mengendarai motornya ke kafe boba di dekat rumah sakit. Saat dia mengangkat kakinya untuk naik motor. Tiba-tiba kenangan bersama Hani terlintas begitu saja. Kenangan ketika dia berboncengan naik motor dengan Hani sewaktu sepulang sekolah.


“Nah, udah kangen aja haha.” Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tetapi, tidak lama kemudian perasaan sedih muncul karena pada kenyataanya hanya dia saja yang mengingat moment itu. Sedangkan Hani? Bahkan Hani sempat tidak mengenalinya. Dia hanya bisa tersenyum pahit mengingat itu.


Jaelani mulai menyalakan motornya. Dan tiba-tiba ponselnya ynag berada di sakunya bergetar. Untungnya Jaelani masih bisa merasakan getaran ponselnya. Dia langsung mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelepon.


“Kakak? Hiiiss gak sabaran banget sih!” Kesalnya.


“Dek, kamu di sana aja. Kita ke sana sekarang. Papa tiba-tiba lemas.” Ucap Azzahra panik.


Seketika mata Jaelani membulat sempurna. Dia langsung mematikan motornya dan melepas helmnya. Dia pun berjalan ke arah IGD dan masih mencoba untuk menenagkan kakaknya. Karena kakanya harus menyetir mobil. Dia tidak boleh panik, karena Jaelani tau jika kakaknya panik semua akan kacau.


“Kakak tenang kak. Oke, papa bakalan baik-baik aja. Yang penting fokus ke jalan ya kak.” Ucap Jaelani sambil berjalan menuju IGD.


“Iya...” Ucap Azzahra bergetar.


Brak!


Terdengar benturan keras dari telepon. Reflek Jaelani menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya sudah tidak karuan. Berkali-kali dia mencoba memanggil nama kakaknya. Tapi, tidak ada jawaban hanya ada suara ribut antara Azzahra dan Mia yang panik karena Deden sekarang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“Kak! Kakak dimana? Panggil ambulance kak!” Seru Jaelani.


Jaelani semakin panik karena terdengar kakanya berusaha mengajak orang tuanya keluar dari mobil. Jaelani hanya bisa pasrah mendengar kegaduhan di sana. Dia tidak ingin bertindak gegabah sekarang. Dia masih menunggu kabar dari kakaknya.


3 Menit berlalu.


Jaelan masih menunggu kabar dari kakaknya sambil mondar mandiri di sekitar rumah sakit. Dia jika satu menit lagi tetap tidak ada jawaban dari kakanya dia akan langsung meminta rumah sakit mengirimkan ambulance. Tapi kemana?


“Hallo dek!”


Akhirnya suara Azzahra terdengar lagi. Dia bernapas lega sekarang. Kini Azzahra terdengar lebih tenang. Membuat Jaelani juga ikut tenang.


“Papa lagi meluncur ke rumah sakit sama papa Hani. Kamu tunggu di sana ya. Ini kakak lagi urusin mobil yang nabrak pohon.” Jelas Azzahra.


Jaelani tercengang, dia berpikir inilah sebabnya Azzahra tidak di perbolehkan naik mobil. Karena ketika dia panik. Dia pasti bertindak gegabah. Selain itu, dia juga bersyukur karena Azzahra menabrakkan mobilnya di sekitar rumah Hani. Setidaknya dia tau pak Beni pasti mau menolong mereka.


“Duh.. Oke kak. Nanti cepet nyusul.” Ucap Jaelani sambil berjalan menuju IGD.


Sepuluh menit berlalu.


Mobil Beni tiba di IGD. Jaelani langsung menghampirinya. Petugas IGD terlihat cekatan membuka pintu mobil belakang. Terlihat mereka kesusahan mengankat Deden keluar dari sana. Karena Deden tidak sadarkan diri. Terlihat juga wajah Mia yang basah karena air mata.


“Sini ma tasnya. Aku urus administrasinya.” Ucap Jaelani dengan sigap meminta tas Mia.


Mia langsung memberikannya dan mengantar suaminya masuk ke ruang IGD. Sedangkan Jaelani langsung mengurus administrasinya. Pikiran Jaelani benar-benar berkabut sekarang. Rasanya, hari ini adalah hari yang begitu berat. Pikirannya terbagi antara mengurus administrasi, kakaknya dan juga papanya. Meski begitu, Jaelani berusaha untuk tetap tenang.


“Tenang Jae, tenang. Jangan gegabah.” Ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri.


Setelah selesai mengurus administrasi. Jaelani bergegas menemui mamanya yang beraada di ruang tunggu IGD. Di sana terlihat Beni duduk di depan Mia dan memperhatikan Mia dari sabrang. Dan Mia masih mengangis hingga tertunduk. Jaelani pun buru-buru menghampiri mamanya.


“Ma....” Panggil Jaelani lembut.

__ADS_1


Mia tidak kuasa menahan kesedihannya. Dia langsung memeluk anak laki-lakinya erat. Dia melampiaskan semua kesedihannya di pelukan Jaelani. Dan Beni dari kejauhan hanya bisa memandang iba ibu dan anak itu.


“Kasihan mereka.” Ucap Beni.


__ADS_2