
Di rumah Tony.
Tony sedang marah besar karena boneka berisi kamera yang di gunakan untuk mengintai jatuh, sehingga dia tidak bisa mengintai Hani. Meski begitu, masih ada sedikit celah untuk Tony melihat. Celah itu sangat lah kecil dan hasil rekamannya juga blur. Tony sempat melihat Hani berjalan entah kemana?
“SIAL!” Umpat Tony.
“Kapan Adit sembuh?! Pokoknya dia harus tau apa yang membuat Hani sampai seserius itu!” Ucapnya kesal.
Tidak lama, beberapa anak buah Tony berdatangan mereka mengatakan bahwa Adit dalam keadaan kritis karena dehidrasi. Dia selalu memuntahkan makanannya. Kemudian, anak buahnya memberikan ponsel yang sudah terhubung dengan Tina yang berjaga di rumah sakit.
“APA?!” Bentak Tony karena masih kesal.
Tina tidak kalah dari Tony, dia juga menjawab dengan ketusnya melalui telepon. Ucapan kasar keluar begitu saja dari mulut Tina membuat Tony terdiam. Karena begitu keras suara Tina bisa terdengar bahkan Tony tidak menggunakan mode loudspeaker.
“Oke, aku ke sana sekarang.” Ucap Tony.
Tony bergegas menyusul Tina ke rumah sakit. Dia memerintahkan semua anak buahnya untuk mempesiapkan transportasi, uang dan apa saja yang mungkin di perlukan.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit untuk sampai di rumah sakit. Lorong menuju kamar rawat inap Adit sangatlah sepi. Tony sengaja memilih tempat yang masih sedikit penghuninya. Dia ingi bebas lalu lalang ke lorong itu, mengingat statusnya yang masih menjadi buronan.
Begitu sampai di kamar rawat Adit, Tony melongo tidak percaya dengan pemandangan yang langka ini. Dia melihat Tina yang tertidur di samping ranjang Adit dengan tangan kanannya mencekam erat tangan Adit yang di letakkan di perut Adit. Saking langkanya momen ini Tony mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto diam-diam.
Cekrek cekrek cekrek.
Tony mengambil beberapa foto dengan senyum lebar yang tidak terlihat karena tertutup masker hitam. Karena begitu geli melihat pemandangan itu, Tony tidak mampu menahan tawanya hingga tawanya bersuara cukup keras.
Tina yang tidak sepenuhnya tidur langsung terbangun dengan sikap siaga. Saat dia tau orang itu adalah Tony, Tina hanya bisa mendengus kesal. Kemudian dia memandang kembali Adit dengan belas kasihan. Sifat ke ibuan Tina akhirnya keluar juga. Ternyata, dia masih menjadi wanita normal.
“Hahaha. Lucu sekali.” Ucap Tony sambil berjalan menuju Tina.
Tina hanya melirik saja tanpa menjawab. Dia rasa, tidak perlu menggunakan emosinya saat ini. Namun, memang sejak Adit sakit dan Tina tetap tinggal di sana untuk mengawasi Adit. Rasa ke ibuan Tina semakin menjadi. Bahkan tanpa sepengetahuan Tony, Tina pernah menangis ketika Adit terus terusan memanggil kedua orang tuanya dengan suara yang lemah.
__ADS_1
“Orang lagi tidur gitu aja heboh.” Ucap Tony yang sudah berdiri di samping Tina.
Lagi lagi Tina tidak menjawab. Dengan posisi yang masih masa Tina memberi kode kepada bawahannya di sana untuk menjelaskan keadaan Adit. Sekretaris pribadi Tina pun menjelaskan kepada Tony bahwa Adit baru saja melewati masa kritis untuk kedua kalinya. Daya tahannya menurun bertahap. Dia juga menjelaskan bahwa Adit terus memanggil kedua orang tuanya. Dokter memberi saran kepada Tina untuk memanggil kedua orang tua Adit kemari agar Adit bisa semangat untuk bertahan.
“Gak?!” Bentak Adit.
Si sekretaris pun terdiam dan menunduk ketakutan, dia takut jika Tony menggunakan kekerasan. Beruntung Tina peka, ketika sekretarisnya diam tiba-tiba pasti ada yang salah. Dia menoleh dan menatap Tony tajam. Seketika hawanya berubah menjadi sedikit mencekam.
“Ah” Tony mendengus kesal. Kemudian dia menarik napas dalam-dalam.
“Mau bilang apa sama kakak kalau dia tau anaknya gini?” Ucap Tony berusaha bersabar.
Tina berpikir sejenak, hati dan pikirannya sedang berperang saat ini. Otaknya mengatakan ‘jangan’ karena itu akan berimbas rencananya untuk balas dendam. Tetapi, jauh dalam lubuk hatinya berkata ‘panggil orang tuanya’ dia tidak tega melihat Adit merintih kesakitan dan menyebut orang tuanya bergantian.
Pluk! Tangan Tony menyentuh bahu Tina.
“Kita punya uang, uang bisa menyelesaikan masalah dengan mudah. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar tulus. Yang manusia pikirkan hanyalah uang, uang, uang yah seperti kita. Kita panggil dokter terhebat untuk menyembuhkan Adit secepat mungkin dengan mungkin, yah menempuh beberapa langkah Ilegal.” Ucap Tony dingin.
“Ingat juga dendam mu kepada Hani.” Bisik Tony.
Si sekretaris sangat terkejut dengan apa yang ada di Tony ucapkan. Kemana Tony yang dulu? Tony yang tidak pernah emosi, selalu berpikiran dingin dan melakukan pekerjaan dengan tenang. Kini Tony terkesan grusa-grusu. Bahkan mulutnya dengan lancar mencela semua orang, dan menganggap semua orang sama sepertinya.
Akhirnya Tina setuju dengan ucapan Tony. Dia memilih untuk menyembuhkan Adit dengan uang bukan kasih sayang. Dedam yang sempat terkubur sementara, kini mulai muncul kembali. Tony benar-benar membuat Tina mengingat dendamnya kepada Hani, dia langsung membayangkan situasi yang sangat dia benci hingga membuatnya harus operasi plastik untuk membuat wajahnya yang cantik, meski tidak secantik dulu baginya.
“Baik lah, urus semua. Aku tidak mau tau, bagaimana pun caranya.” Ucap Tina yang hatinya sudah membeku lagi.
Tony tersenyum bangga. Dia juga sudah mempersiapkan semuanya. Dia mengangkat teleponnya dan menyuruh bawahannya melaksanakan rencananya untuk menyuap dokter di rumah sakit itu, agar segera membuat Adit sembuh dengan hal apapun.
***
Di rumah Hani.
__ADS_1
Ratih terkejut melihat Hani yang tertidur di balkon kamarnya. Buru-buru dia menghampiri anak semata wayangnya itu. Dia memanggil nama Hani sambil menggoyang-goyangkan badan Hani sedikit kasar.
“Han!”
“Huh?”
Akhirnya Hani merespon setelah beberapa kali Ratih memanggilnya. Badan Hani terasa lemas dan lelah. Tetapi, Hani memberi respon positif seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia menggeliat merenggangkan tubunya yang seakan-akan kaku, padahal dia merasa tidak memiliki banyak tenaga seakarang.
“Kenapa tidur di sini?” Tanya Ratih panik.
“Hehehe... ketiduran ma. Lagi bayangin lagi kemah gitu hehe. Eh keblabasan ma.” Ucap Hani bohong.
Ratih memukul pantat Hani gemas karena telah membuatnya khawtir. Ratih tidak curiga sama sekali. Akting Hani benar-benar sukses besar. Dia bisa menyembunyikan dengan baik keadaanya sekarang dan terlihat seperti baik-baik saja.
“Udah sana tidur di kasur. Udah malam, baru pulang dari rumah sakit udah aneh-aneh kamu tuh.” Ucap Ratih gemas dan kembali memukul pantat Hani.
Hani hanya bisa menyengir kesakitan. Kemudian, Hani meminta Ratih keluar dari kamarnya. Dia menyakinkan Ratih bahwa dia akan segera tidur. Ratih pun menurutinya dan mengecup kening Hani sebelum pergi.
Brak!
“Kak!”
“Hah?” Hani terkejut mendengar suara itu.
“Kakak Janji ya bantu aku. Aku gak akan ganggu orang tua kakak. Janji.” Ucap Kiki yang tiba-tiba muncul di hadapan Hani dengan wajah pucat nya itu.
“Iyah, Janji yah gak boleh ganggu orang tua ku. Kalau macam-macam. Aku usir kamu.” Ucap Hani dengan beraninya, meski jauh di lubuk hatinya dia masih ketakutan.
Kiki mengangguk dan sedikit tersenyum pahit. Meski tersenyum Kiki tetap terlihat menyeramkan. Kini, Hani mulai menyesal kenapa dia terjebak lagi di keadaan yang sama. Hanya saja, ini tidak seganas dulu.
“Besok kita ke rumah Stevan?” Tanya Kiki antusias.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~